Home Berita SPI Aceh Sebut HET Gabah Terbaru Bikin Petani Bangkrut
Berita

SPI Aceh Sebut HET Gabah Terbaru Bikin Petani Bangkrut

Share
Petani menuju sawah untuk bekerja. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.ID
Petani sedang memanden padi. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.ID
Share

Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia (DPW SPI) Aceh menyesalkan kebijakan terbaru penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) pembelian gabah dan beras yang dibuat oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui surat edaran No.47/TS.03.03/K/02/2023.

Ketua DPW SPI Aceh, Agus Syahputra mengungkapkan, kondisi ini tentunya bisa membuat petani bangkrut, karena harga jual dari petani terus merosot paska diterbitkan surat edaran tersebut.

Kata Agus, SE Bapanas memuat beleid Harga Batas Atas GKP Petani sebesar Rp 4.550 per kg. Angka ini sangat jauh dari perhitungan biaya pokok produksi petani padi yang berada di angka sekitar Rp 5.050 per kg.

Agus Syahputra menjelaskan, rata-rata harga gabah petani sebelum SE Bapanas sekitar Rp 5.800 per kg. “Namun setelah SE Bapanas ditandatangani, harga gabah saat ini anjlok ke Rp. 4.800 – Rp. 5.200 per kg,” kata Agus Syahputra, Senin (6/3/2023) melalui siaran pers.

Dampak dari surat edaran tersebut, kata Agus, kondisi petani padi di Aceh saat ini dalam posisi merugi. Apalagi di beberapa wilayah sentra produksi padi sudah mulai memasuki masa panen raya. Meskipun penurunan harga juga dipengaruhi gabah yang melimpah dan faktor cuaca, SE Bapanas dinilai menjadi pendorong kuat harga gabah petani merosot secara drastis.

“Sebab kebijakan ini rentan dimanfaatkan para pembeli gabah untuk membayar harga gabah yang terendah (batas bawah),” jelasnya.

Petani sedang memanden padi. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.ID
Petani sedang memanden padi. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.ID

Oleh karena itu, SPI Aceh mendesak Pemerintah Aceh untuk membeli gabah petani sebagai stok pangan daerah, penyerapan gabah petani bisa dikerjasamakan dengan Perum Bulog. Sehingga petani tidak mengalami kerugian yang lebih besar akibat terbitnya surat edaran tersebut.

SPI Aceh juga mengusulkan agar pemerintah daerah membangun dan memperbaiki penggilingan padi kecil dan menengah, kemudian dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan koperasi-koperasi petani.

“Peran koperasi petani dalam usaha perberasan sangat penting, terutama untuk mencegah pemain tengah meraup untung yang tidak adil, meningkatkan harga gabah petani di tingkat hulu, dan menjamin harga beras yang terjangkau bagi konsumen,” tutup Agus Syahputra.[acl]

https://digdata.id/baca/petani-dan-swasembada-beras/
Share
Related Articles
BeritaHeadline

Transisi Energi Tak Cukup Bersih, Masyarakat Harus Menjadi Penerima Manfaat Sejak Awal

Transisi energi sering dipromosikan sebagai jalan keluar dari krisis iklim. Pembangkit listrik...

BeritaHeadlineHutan Aceh

Tujuh Kali Diubah, UU Kehutanan Dinilai Belum Mengakui Hak Masyarakat atas Hutan

Lebih dari dua dekade setelah Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan...

Foto Ilustrasi
BeritaHeadline

Sekolah Rakyat dan Babak Baru Perebutan Tanah Warga Rempang

Pagi itu, ketenangan warga Kampung Pantai Melayu, Pulau Rempang, kembali terusik. Sekitar...

MPLS Ramah TKS IT BAZLA Diikuti 110 Siswa Baru di Aceh Utara
Berita

110 Siswa Baru TKS IT BAZLA Ikuti MPLS Ramah, Diawali Prosesi Peusijuek di Aceh Utara

LHOKSUKON – Sebanyak 110 siswa baru TKS IT BAZLA di Gampong Rayeuk...