DIGDATA.ID – Laporan keuangan terbaru pemerintah Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran serius soal kondisi fiskal negara tersebut. Ibarat rumah tangga yang pengeluarannya jauh melebihi pemasukan, total kewajiban pemerintah kini jauh melampaui aset yang dimiliki. Data per September 2025 menunjukkan aset pemerintah sekitar US$6 triliun, sedangkan total kewajibannya menembus US$47 triliun selisih yang sangat besar dan memicu kekhawatiran soal kemampuan membayar utang.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Jika menghitung kewajiban jangka panjang seperti program jaminan sosial dan layanan kesehatan, total beban keuangan membengkak hingga sekitar US$136 triliun. Angka ini setara beberapa kali lipat nilai ekonomi tahunan negara tersebut. Dalam setahun saja, kewajiban bertambah lebih dari US$10 triliun, menunjukkan laju pemburukan yang sangat cepat.
Situasi makin rumit karena laporan keuangan pemerintah kembali gagal mendapat opini wajar dari auditor independen. Artinya, pencatatan keuangan dinilai belum rapi dan transparan. Selama hampir tiga dekade, auditor kesulitan memverifikasi data anggaran pemerintah, termasuk belanja pertahanan dan pencatatan antar lembaga negara.

Di sisi lain, defisit anggaran terus melebar. Beban utang dan bunga pinjaman menyerap anggaran sangat besar, ditambah kewajiban tunjangan pegawai serta veteran yang terus meningkat. Jika tren ini berlanjut, kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal bisa makin tertekan.
Kondisi tersebut memicu pertanyaan besar: sampai kapan dunia tetap percaya pada kekuatan finansial Amerika? Sebagai negara dengan mata uang cadangan utama dunia, gangguan fiskal di Amerika Serikat bisa berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi global.









