Ketua Komisi Penelitian, Pendataan, dan Ratifikasi Pers Dewan Pers, Yogi Hadi Ismanto menyoroti tren “zero click” yang membuat masyarakat cukup membaca ringkasan informasi yang dibuat AI di mesin pencari tanpa membuka situs media. hal ini disampaikan saat menjadi pembicara dalam workshop dengan sejumlah Jurnalis di Salah satu Café di Banda Aceh denngan tema “Membangun Media Lokal Berkelanjutan”
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada menurunnya trafik media, padahal produk jurnalistik lahir melalui proses kerja kolektif yang membutuhkan biaya dan tenaga.
“Hak cipta jurnalistik bukan sekadar informasi, melainkan hasil kerja kolektif yang harus dihargai secara ekonomi. Revisi Undang-Undang Hak Cipta diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap karya jurnalistik,” ujar Yogi.
Selain itu Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia, Farida Dewi Maharani juga memperkuat pernyataan dewan pers denngan mengataan, disrupsi teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi, dari media konvensional menuju platform digital yang semakin beragam.
Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) turut menghadirkan tantangan baru karena publik semakin sulit membedakan konten yang dibuat manusia dengan hasil AI.
“Mempertahankan kredibilitas menjadi tantangan. Publik menjadi kebingungan dan mencari medium yang kredibel, dan ini sebenarnya menjadi peluang bagi media,” ujar Farida.
Dalam sambutannya Ia menegaskan, saat ini media tidak lagi hanya dituntut cepat, tetapi juga mampu menyajikan informasi yang berkualitas, kredibel, dan menjadi rujukan masyarakat.
“Perubahan teknologi jangan sampai mengubah prinsip-prinsip jurnalistik. Tidak hanya media, tetapi juga influencer karena kita memiliki tanggung jawab moral dalam menyebarkan informasi,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Editor Online Manager Serambinews.com, Safriadi, memaparkan pengalaman transformasi media tempatnya bekerja dari media cetak menuju platform digital sejak 2017.
Ia menjelaskan, perubahan tersebut menuntut jurnalis bekerja lebih cepat karena berita harus dipublikasikan segera setelah peliputan berlangsung. Selain itu distribusi konten berita ke media sosial
“Kalau tidak mengikuti dan beradaptasi dengan perkembangan platform digital, maka kita akan tertinggal,” kata Safriadi.
Workshop kemudian ditutup dengan sesi mengenai strategi kreasi konten di media sosial yang disampaikan Digital Content Strategist sekaligus Content Creator, Awien Syuib.
Dalam materinya, Awien menjelaskan perkembangan algoritma media sosial telah mengubah cara kreator memperoleh penghasilan sehingga jumlah pengikut bukan lagi faktor utama.
Menurutnya, jika pada 2015 kreator harus memiliki puluhan hingga ratusan ribu pengikut untuk menghasilkan uang dari media sosial, kini kondisi tersebut telah berubah. “Dulu followers 10 ribu sampai 100 ribu baru bisa menghasilkan uang dari Instagram. Sekarang berbeda, dengan 1.000 followers pun sudah bisa menghasilkan karena algoritma media sosial sudah berubah,” ujar Awien.
Ia menjelaskan, perubahan algoritma membuat jumlah pengikut tidak lagi menjadi penentu utama banyaknya orang yang melihat sebuah konten.
Karena itu, kreator maupun media perlu memahami perilaku audiens serta memanfaatkan data sebagai dasar dalam membuat konten. “Belajar memahami audiens, memahami data, lalu buat sesuatu yang menjadi keresahan banyak orang,” pungkasnya.










