Gebyar PKA, Wali Nanggroe Minta Pemerintah Bangun Museum Rempah di Aceh

Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar meminta pemerintah bisa membangun Museum Rempah di Aceh. Hal ini tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Aceh yang megah dan menjadi titik pusat perdagangan jalur rempah didunia.

Hal ini disampaikanWali Nanggroe saat pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 8,di Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh, Sabtu malam (04/10/2023).

Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar mengapresiasi perencana dan pelaksanaan PKA tahun ini. Kegiatan ini disebut digelar dengan tujuan untuk melestarikan nilai-nilai kebudayaan, sejarah, dan adat istiadat Aceh.

“Tentunya kita berterima kasih kepada para inisiator awal di tahun 1958, dan semua pihak yang terlibat, sehingga di tahun 2023 PKA kembali dapat dilaksanakan. Menjadi harapan kita semua, penyelenggaraan PKA tahun ini tentunya harus lebih berkualitas dari pelaksanaan kegiatan yang sama di masa-masa sebelumnya,” sebut Wali Nanggroe.

Wali Nanggroe berharap perhelatan ini juga menjadi pekan edukasi bagi masyarakat Aceh, khususnya generasi muda. Ia menyarankan segala hal yang ditampilkan pada PKA harus tetap terfokus pada tiga hal yakni kebudayaan, sejarah, dan adat istiadat Aceh.

“Meskipun tidak dapat kita pungkiri, di era sekarang ini telah muncul beragam inovasi yang mempengaruhi segala aspek kehidupan, termasuk dalam bidang kebudayaan dan adat istiadat. Sehingga, misalnya telah muncul banyak kesenian-kreasi baru, perpaduan antara kesenian khas Aceh, dan kesenian kekinian hal itu lumrah terjadi dalam perkembangan peradaban sebuah bangsa,” ujarnya.

Deputi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga Kemenko PMK, Didik Suhardi

Senada itu Deputi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga Kemenko PMK, Didik Suhardi mengatakan, tema yang diangkat dalam PKA-8 mengingatkan, bahwa Aceh adalah salah satu pintu gerbang jalur rempah nusantara. Rempah di Aceh mengalami puncak kejayaan pada abad ke 16-18 saat Aceh menjadi penghasil rempah terbaik di dunia.

Penjabat Gubernur Aceh dalam sambutannya menyampaikan, Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) merupakan panggung yang menampilkan dinamika perpolitikan, sosial, budaya, dan pemerintahan Aceh yang terekam sejak pelaksanaan perdana tahun 1958.

Achmad Marzuki mengatakan, PKA juga merupakan buah pemikiran dan perjuangan orang-orang tua dulu yang memberikan teladan dalam merajut, merawat, dan menjaga perdamaian melalui pelestarian serta pemajuan kebudayaan, khususnya peradaban atau tamadun islami di Bumi Serambi Makkah.

“Sejak 1958 PKA menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan pemerintah dalam melindungi, membina, mengembangkan, dan memanfaatkan sisi baik kebudayaan. Maka seiring 65 tahun perjalanan panjang PKA, Pemerintah Aceh memilih tema Jalur Rempah Aceh pada PKA 8 ini, dengan tagline Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia,” kata Marzuki.

Pj Gubernur menjelaskan, tema tersebut dipilih dengan mempertimbangkan maksud dan tujuan PKA, relevansinya dengan isu terkini secara global serta terkoneksi dengan visi misi pembangunan daerah dan nasional. Ia menyebutkan jalur rempah merupakan jalur perniagaan populer yang mengangkut rempah sebagai komoditas utama ke seluruh dunia.

“Aceh patut bangga karena 2 dari 20 titik jalur rempah Nusantara berada di Aceh. Sejarah mencatat, Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam menjadi sentrum perdagangan aneka rempah, terutama lada yang dikenal luas pada masanya,” ujarnya.

Penari Kolosal Meriahkan Malam Pembukaan PKA 8

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 dilaksanakan pada 4-12 November 2023, dipusatkan di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh. Tema yang diangkat adalah “Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia”.

Selama PKA, Pemerintah Aceh menyajikan konsep dalam tiga lini masa yaitu Aceh masa lalu, Aceh Masa Kini, dan Aceh Masa Depan.

Perhelatan PKA ini akan dapat dinikmati oleh masyarakat dalam beragam rangkaian kegiatan, berupa pawai budaya, seminar internasional, business matching, pertunjukan dan perlombaan seni, pameran dan expo, pasar tradisional dan produk budaya, festival kuliner, lomba permainan rakyat, festival adat budaya, festival busana, dan anugerah budaya. (Yan)

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

spot_img

Latest articles

Newsletter

Subscribe to stay updated.