LSF Edukasi Masyarakat Lewat Gerakan Budaya Sensor Mandiri

Industry film merupakan produk budaya pranata sosial yang berpengaruh tinggi bagi masyarakat, karena di dalam muatannya terdapat berbagai unsur, seperti hiburan, pendidikan, dan nilai-nilai kearifan lokal namun beberapa film yang di hasilkan para senies baik luar maupun dalam negeri tidak sesuai dengan budaya Indonesia sehingga butuh penyaringan kembali baik oleh lembaga sensor maupun secara mandiri.

Berdasarkan kondisi tersebut, Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia perlu mengedukasi masyarakat tentang budaya sensor mandiri film di tengah perkembangan teknologi sosial media. salah satunya dengan menggelar kegiatan sosialisasi gerakan nasional budaya sensor mandiri di Aceh.

Kegiatan sosialisasi gerakan nasional budaya sensor mandiri ini berlangung di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Selasa (20/6) pagi dengan tema “Cerdas Memilih dan Memilah Tontonan.”

Dalam kegiatan tersebut, turut menghadirkan beberapa pembicara yakni Saptari Novia Stri, Mukayat Al Amin anggota LSF dan Teuku Zulfan Fikri Film Maker. Serta Wakil Ketua Komisi I DPR RI Rifky Harsya hadir sebagai pembicara utama secara virtual. Selain itu juga turut hadir Wakil Ketua LSF Indonesia, Ervan Ismail, Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Wildan.

Kerjasama Lembaga Sensor Film dengan kampus ISBI Aceh. foto fitri / Digdata.id

 

Wakil Ketua LSF Indonesia, Ervan Ismail, mengatakan kegiatan ini bertujuan sebagai upaya edukasi kepada masyarakat tentang budaya mandiri sensor film.

Ervan juga mengakui, beberapa film tentu saja tidak sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia. Seperti menampilkan kekerasan hingga pelaku menyimpang. Oleh sebab itu, Lembaga Sensor Film hadir untuk sebagai filter untuk memastikan masyarakat Indonesia disajikan dengan konten-konten yang mendidik sesuai klasifikasi umur

“Memang persoalan terbesar yang dialami itu diantaranya adalah penonton itu harus diedukasi, dimana penontonya mana-mana yang cocok dengan usianya, dengan budayanya. Ini harus dimiliki oleh masing-masing individu atau masyarakat sendiri. Karena media sekarang di mana-mana datang. Kita tidak bisa mensensor media sosial karena regulasi belum memungkinkan. Sementara potongan-potongan klip sekarang ramai sekali di media social,” kata Ervan.

Sementara itu, Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Wildan, menyebutkan bahwa seni adalah salah satu yang berperan penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dunia perfilman. Melalui sosialisasi gerakan nasional budaya sensor mandiri yang digelar oleh Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia, dapat mengedukasi masyarakat untuk menentukan berbagai pilihan tontonan ditengah perkembangan pesat sosial media.

“Saya pikir masalah seni ini penting, termasuk film, mudah-mudahan ini bisa menjadi pengetahuan baru bagi masyarakat terkait film. Dan saya juga berharap bahwasanya peserta yang ada ini menjadi pendakwah, konsep-konsep yang disampaikan ini kepada seluruh rakyat Aceh”.

Disela kegiatan sosialisasi yang diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai komunitas dan mahasiswa itu, Sensor Film RI juga melakukan penandatanganan kerjasama dengan kampus Institut Seni Budaya Indonesia Aceh.

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

Berita Terbaru

Newsletter

Subscribe to stay updated.