Home Berita Legalisasi Ganja Disambut Hangat Warga Thailand
BeritaHeadline

Legalisasi Ganja Disambut Hangat Warga Thailand

Share
Chidchanok Chidchob merawat tanaman mariyuana di Buriram/ bbc.com
Share

Lebih sepakan terakhir berbagai kafe dan lapak secara terbuka menjual beragam produk ganja dan menampilkan stoples-stoples berisi bunga mariyuana di Thailand.

Warga menyambutnya dengan ceria. Bahkan ada sejumlah nenek yang terkekeh saat mencoba minuman cannabis berwarna hijau serta antrean warga yang ingin mendapatkan satu dari sejuta tanaman ganja yang dibagikan pemerintah Thailand secara cuma-cuma.

Sejak Kamis, 9 Juni 2022, rakyat Thailand telah diizinkan menanam ganja dan ganja industri alias hemp di rumah untuk keperluan medis dan kuliner. Pada hari itu, pemerintah Thailand telah mengeluarkan ganja dari daftar narkotika Kategori 5.

Kebijakan ini menjadikan Thailand sebagai negara pertama yang secara progresif melonggarkan aturan ganja di Asia Tenggara, wilayah yang dikenal dengan undang-undang narkoba yang ketat.

“Ini adalah kesempatan bagi masyarakat dan negara untuk mendapatkan penghasilan dari ganja dan hemp,” kata Anutin Charnvirakul, Wakil Perdana Menteri Thailand dan menjabat Menteri Kesehatan dikutip dari bbc.com.

Sehingga praktis mengubah pendekatannya 180 derajat, mengingat selama ini negara tersebut menjatuhkan hukuman penjara atau bahkan hukuman mati kepada terpidana kasus narkoba.

Koresponden BBC di Asia Tenggara, Jonathan Head bahkan mengaku pernah melihat secara langsung eksekusi mati empat tahanan terpidana penyelundupan narkoba.

Eksekusi tersebut merupakan bagian dari kebijakan “perang terhadap narkoba” yang dicanangkan perdana menteri kala itu, Thaksin Shinawatra. Kebijakan itu pula yang belakangan menjadi pembenaran atas pembunuhan ratusan tersangka kasus narkoba.

Kebijakan Thaksin saat itu menarik dukungan rakyat Thailand. Mereka khawatir dampak buruk narkoba seperti sabu akan menjalar ke berbagai komunitas sehingga bersedia mengabaikan pelanggaran HAM yang disebabkan oleh rangkaian pembunuhan tersebut.

Negara lain di kawasan Asia Tenggara mengikuti pendekatan serupa, terutama Filipina setelah Presiden Rodrigo Duterte menjabat pada 2016. Singapura dan Malaysia telah lebih dulu menerapkan hukuman mati atas kasus penyelundupan narkoba selama berpuluh tahun.

Para wisatawan mancanegara yang datang ke kawasan ini sudah diperingatkan hukuman yang menanti jika mereka kedapatan membawa narkoba, tak peduli apakah itu hanya sejumput mariyuana.

Kala itu sulit dibayangkan bahwa Thailand akan melegalisasi ganja. Namun negara yang mempelopori menghukum mati bagi pengguna ganja, walau selenting kina sudah berupah 180 derajat.

Thailand telah melegalkan tanaman ganja. Bahkan untuk meningkatkan produksi, pemerintah memberikan atu juta bibit ganja kepada warganya untuk mendorong peningkatan hasil produksi. Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap sektor pertanian dan pariwisata akan berkembang pesat.

Aturan baru ini menjadikan Thailand mungkin sebagai negara dengan pendekatan paling liberal terhadap mariyuana. Untuk saat ini, warga Thailand bisa menanam dan mengonsumsi tanaman ganja sebanyak mungkin, meski ada beberapa batasan mengenai cara penjualan.

“Satu hal yang jelas, Anda tidak lagi bisa dipenjara di Thailand karena menggunakan ganja,” kata Tom Kruesopon, salah satu pengusaha perintis yang membantu meyakinkan pemerintah untuk mengubah pendekatan.

“Anda bisa dipenjara karena melakukan hal lain, seperti mengisap [ganja] di tempat umum, mengganggu ketertiban umum, atau menciptakan dan menjual produk dari mariyuana yang tidak mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Namun, Thailand adalah negara pertama di dunia yang tidak memenjarakan orang karena menanam atau menggunakan tanaman [ganja],” jelas Tom.

“Ini seperti mimpi bagi kami. Kami tidak pernah mengira kami bisa sejauh ini di Thailand,” ujar Rattapon Sanrak, orang yang memulai kampanye legalisasi mariyuana setelah mengalami manfaat medisnya saat mengenyam pendidikan di Amerika Serikat.

Dua kakek-neneknya, ayahnya, dan kemudian ibu Rattapon meninggal akibat kanker. Saat kembali ke Thailand dari AS untuk merawat ibunya, dia mencoba membujuk sang ibu untuk menggunakan produk ganja untuk meringankan sakitnya. Upaya Rattapon gagal kala itu. Lagipula dia kesulitan mendapat akses ganja medis yang saat itu digolongkan sebagai zat ilegal.

Alasan Thailand Legalisasi Ganja

Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand, Anutin Charnvirakul, adalah sosok di balik kebijakan ini. Dia mengadopsi kebijakan legalisasi ganja sebagai janji kampanyenya dalam pemilu 2019.

Baru-baru ini dia bahkan terlihat mencicipi hidangan kari berbumbu ganja seraya mendapat sanjungan dari para petani yang berharap tanaman ganja bisa mendatangkan uang.

Kantong kekuatan partai Anutin berada di kawasan timur laut Thailand yang tergolong miskin. Kebijakan legalisasi ganja memikat kaum petani yang hanya menggantungkan hidup dari bertani padi dan tebu. Mereka memerlukan pemasukan baru.

Melalui kebijakan itu, Anutin memenuhi janjinya. Dia meyakini manfaat medis dalam ganja sehingga harapannya adalah kaum miskin Thailand bisa menanam sendiri mariyuana sebagai sarana pengobatan ketimbang membayar obat kimia yang mahal.

Untung Besar

Alasan lainnya tentu bisnis. Tom Kruesopon memperkirakan bisnis mariyuana bisa menghasilkan US$10 miliar (Rp148 triliun) dalam tiga tahun pertama. Jumlah itu bisa meningkat jika pemerintah menggencarkan wisata ganja, yaitu turis-turis yang sengaja datang ke Thailand untuk terapi dan pengobatan menggunakan mariyuana.

Tom Kruesopon melihat ceruk tersebut sehingga dia telah membuka klinik pertama di Bangkok yang secara khusus berfokus pada pengobatan jenis itu. Selain Tom, sejumlah perusahaan besar Thailand sedang mencari cara untuk mendapatkan uang dalam bisnis ganja.

Dengan meliberalisasi aturan soal ganja secara cepat dan menyeluruh, pemerintah Thailand berharap mencuri start dari negara-negara tetangganya yang sebagian besar enggan mengikuti jejak Thailand.

Alasan ketiga di balik legalisasi ganja adalah meninjau ulang pendekatan garis keras terhadap narkoba yang dimulai tujuh tahun lalu ketika Thailand dikuasai junta militer.

Di Thailand, banyak penjara yang jumlah napinya melampaui kapasitas dan tiga-perempat dari mereka dikurung karena kasus narkoba—sebagian besar di bawah umur. Kondisi buruk di dalam penjara tidak hanya dikritik dunia internasional, tapi juga membuat pemerintah Thailand mengucurkan banyak dana operasional.

Adalah Menteri Hukum Thailand, Jenderal Paiboon Kumchaya, yang mengumumkan pada 2016 lalu bahwa perang terhadap narkoba gagal sehingga metode penanganan lain terhadap penyalahgunaan narkoba diperlukan.

Tatkala Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand, Anutin Charnvirakul, mengusulkan kebijakan legalisasi ganja—dengan segala faedah ekonominya—dia sejatinya mendorong pintu yang relatif terbuka (walaupun dia mengatakan perlu upaya keras untuk mendorong kebijakan tersebut).

Konsekuensi legalisasi ganja ini, lebih dari 4.000 napi terkait kasus ganja kini dibebaskan dari penjara.

Thailand Siapkan Aturan Lain

Bagaimanapun, pemerintah Thailand boleh jadi belum siap untuk sepenuhnya menyambut produk ganja dalam berbagai wujud sejak legalisasi mariyuana diberlakukan.

Tanaman itu muncul di mana-mana, mulai dari es krim, sajian khas Thailand, hingga minuman smoothie. Bahkan ada penjual yang menjajakan daging ayam yang saat masih hidup diberi pakan ganja.

Pemerintah Thailand kini sedang menyusun aturan teknis soal penggunaan ganja. Secara resmi, posisi pemerintah Thailand merujuk pada undang-undang yang mengizinkan penggunaan ganja untuk keperluan medis, bukan rekreasional. Namun, pengawasannya tampak sulit.

“Kami semua tahu dari mempelajari pasar lain bahwa penggunaan rekreasional adalah tempat uang berada,” kata Chidchanok Chitchob, penyuka mariyuana yang ayahnya adalah politikus berpengaruh di kawasan Buriram, Thaila

“Jadi saya pikir ini adalah langkah baik menuju hal tersebut [penggunaan ganja secara rekreasional], jika kita benar-benar berpikir ini [ganja] adalah tanaman ekonomis,” sambungnya.

Chidchanok bereksperimen dengan beragam jenis tanaman ganja guna membantu petani lokal mendapatkan jenis terbaik untuk dibudidayakan di kawasan Buriram.

Tom Kruesopon mengaku tidak ada masalah dengan aturan teknis soal penggunaan ganja. Dia mengadvokasi penjualan mariyuana hanya dari penjual berlisensi, dengan resep, dan tidak boleh untuk siapapun berusia di bawah 18 tahun.

“Jangan kebanyakan berpikir. Aturan apapun yang diberlakukan untuk rokok, berlakukan pula untuk ganja. Sudah ada sejumlah aturan yang diterapkan untuk membantu mengendalikan penggunaan rokok dan minuman beralkohol—gunakan saja aturan yang sama,” ujarnya.

Legalisasi ganja adalah langkah berani pemerintah Thailand ke dunia baru. Negara-negara tetangganya akan menyaksikan apakah langkah itu sepadan.[acl]

Sumber: bbc.com

Share
Related Articles
BeritaHeadline

Aceh Masuk 10 Besar Provinsi dengan Deforestasi Tertinggi di 2024

Deforestasi di Indonesia meningkat 2 persen pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Aceh...

BeritaHeadlineJurnalisme Data

Keruk Emas di Benteng Ekologi (3)

Peta angkasa menunjukkan, Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) merambah Kawasan Ekosistem Leuser...

Sebanyak 77 imigran etnis Rohingya menggunakan sebuah kapal motor kayu kembali diketahui terdampar di Pantai Leuge, Kecamatan Pereulak, Kabupaten Aceh Timur, Rabu (29/01/2025)
BeritaHeadlineNews

Imigran Etnis Rohingya Kembali Terdampar di Aceh Timur

Sebanyak 77 imigran etnis Rohingya menggunakan sebuah kapal motor kayu kembali diketahui...

Pertunjukkan Barongsai memeriahkan Tahun Baru Imlek 2025 di Banda Aceh.
BeritaHeadlineNews

Barongsai Imlek, Sedot Perhatian Warga Banda Aceh

Atraksi barongsai digelar dalam rangka memeriahkan tahun baru Imlek 2576 Kongzili di...