JAKARTA – Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi menyatakan negaranya masih menunggu tanggapan Indonesia terkait tawaran bantuan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan. Meski belum memperoleh kepastian tindak lanjut, Malaysia memilih tetap berpandangan positif terhadap pemerintah Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Zahid Hamidi seusai meresmikan Bulan Kesiapsiagaan Nasional 2026 di Ipoh Convention Centre, Malaysia, Minggu (11/10/2026).
Dikutip dari kantor berita Bernama, Zahid menjelaskan bahwa Badan Pengelolaan Bencana Nasional Malaysia (NADMA) bersama Kementerian Luar Negeri telah mengirimkan surat kepada instansi terkait di Indonesia. Namun, menurutnya, belum ada tanggapan atas komunikasi tersebut.
Baca Juga: WALHI: Karhutla Akumulasi Kejahatan Negara dan Korporasi
Zahid mengatakan pihaknya berusaha memahami situasi dengan beranggapan Indonesia mungkin tidak lagi membutuhkan bantuan dari Malaysia.
Ia menegaskan pemerintah Malaysia tetap optimistis dan memilih berprasangka baik meskipun tawaran bantuan tersebut belum mendapat kepastian pelaksanaan.
Malaysia Siapkan Pesawat dan 52 Personel
Zahid menjelaskan bahwa bantuan yang ditawarkan Malaysia mencakup satu pesawat pemadam kebakaran, tiga helikopter, serta 52 petugas dan personel pendukung.
Seluruh sumber daya tersebut disiapkan untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Sumatera dan Kalimantan.
Kebakaran tersebut telah menimbulkan kabut asap lintas batas yang turut memengaruhi kualitas udara di Malaysia.
Menurut Zahid, tawaran bantuan telah dibicarakan langsung dengan pemerintah Indonesia ketika dirinya melakukan kunjungan kerja ke Jakarta pada September 2026.
Dalam kunjungan itu, ia bertemu Presiden Prabowo Subianto serta perwakilan Wakil Presiden untuk membahas kerja sama penanggulangan kebakaran.
Prabowo Sebelumnya Sambut Bantuan Malaysia
Pemerintah Indonesia sebelumnya telah menyatakan kesediaan menerima bantuan dari Malaysia.
Berdasarkan keterangan Sekretariat Kabinet RI pada 18 September 2026, Presiden Prabowo Subianto menyambut positif tawaran tersebut setelah menerima Zahid Hamidi di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Prabowo menyampaikan terima kasih atas kesediaan Malaysia membantu Indonesia menghadapi kebakaran hutan, terutama di Kalimantan.
Pemerintah ketika itu juga menyatakan bantuan berupa satu pesawat, tiga helikopter, dan 52 personel akan dikirimkan dalam waktu dekat.
Namun, hingga pernyataan terbaru Zahid pada 11 Oktober 2026, pihak Malaysia menyebut masih menunggu tindak lanjut dari Indonesia.
Pelaksanaan Bantuan Masih Dibahas
Persoalan tindak lanjut bantuan sebelumnya turut disampaikan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan pada 7 Oktober 2026.
Ia menjelaskan bahwa persetujuan atas tawaran bantuan telah diperoleh dari Presiden Prabowo. Kendati demikian, kedua negara masih membahas teknis operasi dan lokasi penempatan personel Malaysia.
Mohamad berharap pembahasan tersebut segera diselesaikan agar tim yang telah disiapkan dapat membantu operasi pemadaman kebakaran di Indonesia.
Menurutnya, kondisi kabut asap di Malaysia telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan sehingga penanganan kebakaran perlu dipercepat.
Dengan demikian, pernyataan Malaysia mengenai belum adanya tanggapan perlu dibedakan dari persetujuan awal Presiden Prabowo. Tawaran bantuan sudah disambut pemerintah Indonesia, sementara pengaturan pelaksanaannya masih memerlukan koordinasi.
Malaysia Tegaskan Kesiapan Membantu Penanganan Bencana
Selain membahas bantuan karhutla, Zahid menegaskan kesiapan Special Malaysia Disaster Assistance and Rescue Team (SMART) untuk terlibat dalam operasi kemanusiaan, baik di dalam negeri maupun di negara lain.
Tim tersebut sebelumnya juga dikerahkan ke Nepal guna membantu pencarian warga Malaysia yang belum dapat dihubungi setelah terjadi bencana.
Zahid menyampaikan apresiasi terhadap kemampuan SMART, yang disebut memperoleh pengakuan sebagai tim penyelamat terbaik kedua di Asia setelah Jepang.
Kesiapan tim tersebut menjadi bagian dari komitmen Malaysia dalam memberikan bantuan penanganan bencana lintas negara.
Sementara itu, kerja sama Indonesia dan Malaysia dalam penanggulangan karhutla masih bergantung pada penyelesaian koordinasi teknis antara kedua pemerintah.




