Jakarta – Sebanyak 11 kota di dunia terancam tenggelam akibat kenaikan permukaan laut dan penurunan daratan. Jakarta menjadi salah satu wilayah yang menghadapi risiko serius, dengan laju penurunan tanah mencapai 17 sentimeter per tahun di sejumlah kawasan.
Ancaman tersebut diungkap dalam laporan World Economic Forum (WEF) pada 2019 bersama Business Insider. Kota-kota yang masuk daftar tersebar di Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika Serikat.
Kondisi geografis, eksploitasi air tanah, serta perubahan iklim menjadi faktor yang meningkatkan kerentanan wilayah pesisir terhadap banjir. Meski demikian, risiko tenggelam tidak berarti seluruh kota dipastikan akan terendam pada waktu tertentu.
Berikut 11 kota di dunia terancam tenggelam beserta faktor penyebab dan upaya penanganannya, sebagaimana dirangkum dari Beritasatu.com.
1. Jakarta, Indonesia
Jakarta menghadapi ancaman penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air tanah secara berlebihan. Di sejumlah wilayah, penurunannya dilaporkan mencapai 6,7 inci atau sekitar 17 sentimeter setiap tahun.
Laporan tersebut memperkirakan sebagian besar Jakarta berpotensi terendam pada 2050 apabila persoalan yang mendasarinya tidak ditangani. Namun, tingkat penurunan tanah berbeda di setiap kawasan.
Selain banjir rob, Jakarta menghadapi ancaman luapan sungai dan hujan deras. Pengendalian penggunaan air tanah, pembangunan infrastruktur perlindungan, serta penyediaan air perpipaan menjadi bagian penting dalam mitigasi risiko.
2. Bangkok, Thailand
Ibu kota Thailand ini mengalami penurunan tanah lebih dari 1 sentimeter per tahun. Sebagian wilayahnya diperkirakan berpotensi berada di bawah permukaan laut pada 2030.
Sebagai langkah mitigasi banjir, Bangkok membangun Chulalongkorn University Centenary Park seluas 11 hektare. Taman tersebut mampu menampung hingga 1 juta galon air hujan.
3. Dhaka, Bangladesh
Dhaka menghadapi ancaman yang berkaitan dengan kerentanan wilayah dataran rendah Bangladesh terhadap kenaikan permukaan laut.
Secara nasional, sekitar 17 persen wilayah Bangladesh diperkirakan berpotensi terendam, dengan 18 juta penduduk terancam kehilangan tempat tinggal pada 2050.
Perkiraan tersebut berlaku untuk Bangladesh secara keseluruhan, bukan khusus Dhaka. Negara ini disebut hanya menyumbang sekitar 0,3 persen emisi penyebab perubahan iklim.
4. Lagos, Nigeria
Lagos menghadapi risiko banjir pesisir akibat kenaikan permukaan laut dan erosi garis pantai.
Penelitian Universitas Plymouth pada 2012 menunjukkan kenaikan air laut sebesar 0,9 hingga 2,7 meter dapat menimbulkan dampak besar terhadap aktivitas manusia di wilayah yang dikaji.
5. Venesia, Italia
Kota bersejarah Venesia mengalami penurunan tanah sekitar 2 milimeter setiap tahun. Kondisi tersebut memperbesar kerentanan terhadap banjir saat permukaan air meningkat.
Italia mengembangkan sistem penghalang banjir Mose yang memiliki 78 pintu di tiga jalur masuk laguna.
Proyek senilai sekitar US$ 6,5 miliar itu dimulai pada 2003, tetapi mengalami keterlambatan dari target penyelesaian awal pada 2011. Ketika badai melanda pada 2018, sistem tersebut belum sepenuhnya selesai.
6. Rotterdam, Belanda
Sekitar 90 persen wilayah Rotterdam disebut berada di bawah permukaan laut. Kondisi ini menjadikan pengelolaan air sebagai kebutuhan utama dalam pembangunan kota.
Belanda menerapkan pendekatan room for the river, yakni menyediakan ruang tambahan bagi sungai untuk menampung air saat debit meningkat.
7. Alexandria, Mesir
Alexandria menghadapi penyusutan garis pantai akibat erosi dan kenaikan permukaan Laut Mediterania.
Permukaan laut tersebut diperkirakan berpotensi meningkat hingga 61 sentimeter pada 2100. Kondisi ini dapat memperbesar risiko banjir di kawasan pesisir dan mengancam permukiman.
8. Houston, Amerika Serikat
Sebagian wilayah Houston mengalami penurunan tanah hingga 5 sentimeter per tahun, antara lain akibat pengambilan air tanah berlebihan.
Kerentanan banjir kota ini terlihat ketika Badai Harvey melanda pada 2017. Bencana tersebut merusak hampir 135.000 rumah dan memaksa sekitar 30.000 orang meninggalkan tempat tinggal mereka.
9. New Orleans, Amerika Serikat
New Orleans memiliki sejumlah kawasan yang berada di bawah permukaan laut.
Penelitian NASA pada 2016 menemukan penurunan tanah hingga 5 sentimeter per tahun di beberapa lokasi, dipengaruhi antara lain oleh pemompaan air tanah dan pengeringan lahan.
Sebagian wilayah kota ini berpotensi terendam pada 2100, bergantung pada kondisi lingkungan dan efektivitas perlindungan banjir.
10. Virginia Beach, Amerika Serikat
Virginia Beach menghadapi kombinasi kenaikan permukaan laut dan penurunan daratan.
Laporan WEF pada 2019 mengutip perkiraan NOAA bahwa kenaikan permukaan laut di wilayah tersebut dapat mendekati 3,7 meter pada 2100.
Angka itu merupakan proyeksi, bukan kepastian, karena bergantung pada skenario perubahan iklim dan kondisi setempat.
11. Miami, Amerika Serikat
Miami menghadapi ancaman banjir pesisir, kerusakan infrastruktur, hingga masuknya air asin ke sumber air tawar.
Penulis lingkungan Jeff Goodell pernah menyampaikan kekhawatiran mengenai keberlangsungan Miami hingga akhir abad ini. Namun, pandangan tersebut bukan kepastian ilmiah bahwa seluruh kota akan hilang.
Risiko yang dihadapi kesebelas kota menunjukkan pentingnya pengendalian penggunaan air tanah, pengelolaan kawasan pesisir, serta pembangunan infrastruktur pengendali banjir.
Ancaman tenggelam bukan berarti seluruh wilayah perkotaan akan hilang sekaligus. Dampaknya bergantung pada laju kenaikan air laut, penurunan tanah, dan keberhasilan langkah adaptasi masing-masing kota.




