Kesulitan Disabilitas Rohingya Meretas Batas Hingga Tiba di Aceh

Setelah beberapa kali ditolak kembali ke periaran saat mendarat di beberapa lokasi di Aceh. Rohima dan para pengungsi Rohingya lainnya kembali merapat ke pesisir Bireuen. Kali ini, mereka diperbolehkan mendarat.

Saat itu, mesin perahu yang mereka tumpangi memang sudah rusak. Para pengungsi pun berlomba turun dari kapal, lantas berlari ke pesisir, namun tidak dengan Rohima.

Ketika pengungsi lainnya dengan leluasa berlari, Rohima harus dipanggul oleh ketiga anaknya dengan tertatih-tatih.

Sejak lama, kaki Rohima memang bermasalah sehingga ia harus menggunakan penyangga untuk membantunya berjalan. Meski sudah memakai penyangga, Rohima masih kesulitan melangkahkan kakinya.

“Saya akhirnya dipanggul oleh anak-anak saya ke daratan,” ucap Rohima sembari sesekali memegang kakinya.

Di Bireuen, para pengungsi berdiam tiga hari di Desa Lapang Barat. Sebagian dari mereka beristirahat di ruang terbuka beralas terpal di bawah pepohonan, sementara yang lainnya menempati bangunan tempat pelelangan ikan.

Setelah tiga hari, mereka diboyong bertahap menggunakan truk dan bus sekolah milik pemerintah Kabupaten Bireuen ke kamp pengungsian yang disediakan di bekas kantor imigrasi di Lhokseumawe.

Di pengungsian itu, mereka tidur berdesakan. Udara di dalam ruangan juga pengap karena beberapa jendela ditutup.

Di tengah ruangan, melintang tali yang digunakan untuk menjemur pakaian, membuat pergerakan kerap terhambat.

Dengan masalah di kakinya, Rohima tentu merasa ruang geraknya kian terbatas. Namun, ia mengaku lega dapat berada di tempat yang relatif aman ketimbang kamp di Cox’s Bazar di Bangladesh.

Tak hanya Rohima, sejumlah pengungsi Rohingya lainnya juga harus berupaya ekstra untuk dapat menginjakkan kaki di Tanah Rencong, salah satunya Muhammad Siddiq.

Bocah tunanetra itu harus melalui perjalanan panjang bersama ibunya, Zohora Begum, dan kedua adiknya dari kamp pengungsian di Bangladesh.

Mereka datang menggunakan kapal yang berbeda dari Rohima dan Yasmin. Ibu dan ketiga anak tersebut merupakan penumpang kapal pertama dari enam armada yang masuk ke Aceh dalam beberapa pekan terakhir.

Siddiq, rela mengarung laut demi dapat bertemu kembali dengan ayahnya, Zakaria, yang sudah lebih dulu menetap di Malaysia sejak 2015 silam.

Sebagai tunanetra, Siddiq tak bisa jauh-jauh dari ibu dan kedua adiknya selama perjalanan. Siddiq pun sempat panik ketika tiba-tiba badai menghantam kapal di suatu malam.

Sambil sesekali bersandar ke bahu ibunya, Siddiq bercerita, “Saat badai datang, saya merasa hilang arah. Saya pikir saya akan mati. Saya menangis dan sangat takut.”

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri dalam catatan di situs resminya mengakui bahwa saat ini, belum ada kerangka normatif yang memadai untuk menangani secara khusus pengungsi-pengunsi penyandang disabilitas.

UNHCR hanya pernah mengeluarkan seruan pada 2010 lalu agar negara-negara dan badan PBB lainnya melindungi dan membantu pengungsi penyandang disabilitas.

Kendati demikian, tak ada ketetapan resmi atau panduan cara yang tepat untuk menangani pengungsi yang menyandang disabiliatas.

PBB pun terus mendesak agar negara-negara anggota mau menyisihkan waktunya untuk memikirkan nasib para pengungsi disabiliatas yang mereka anggap masuk dalam kategori “sangat rentan”.

Bagaimana pun, para pengungsi saat ini tak dapat mengeluh. Lagipula, Begum sendiri mengatakan bahwa orang-orang di kapal terus membantunya untuk memastikan anaknya baik-baik saja.

Begum pun menganggap masalah terbesar di dalam kapal bukanlah menjaga anak-anaknya.

“Kesulitan utamanya adalah menemukan makanan untuk mereka. Kami delapan hari di kapal, tapi hanya makan empat kali,” katanya.

Setelah perjalanan panjang itu, Siddiq pun bahagia ketika mendengar suara lolongan dari kejauhan, pertanda daratan sudah dekat.

Ia bersama ibu dan kedua adiknya kemudian ditempatkan di penampungan sementara di gedung bekas Yayasan Mina Raya, Pidie.[acl] Sumber: BBC Indonesia

Baca Juga:

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

spot_img

Latest articles

Newsletter

Subscribe to stay updated.