Kisah Perjalanan Berbahaya Keluarga Rohingya

Misi utama mereka membawa serta keluarga mengarungi lautan berbahaya adalah untuk mencari kehidupan yang lebih layak di negara-negara tujuan seperti Malaysia atau Indonesia. Keluarga mereka yang sudah terlebih dahulu mengungsi ke negara-negara tetangga menjadi salah satu pendukung besar memberikan mereka biaya perjalanan menyebrang lautan.

Kisah terdamparnya pengungsi Rohingya di Aceh dimulai sejak tahun 2009 yang lalu. Kala itu sebanyak 193 etnis Rohingya terbawa arus ke laut sabang pada tanggal 31 Januari 2009. Saat itu mereka ditampung di markas TNI Angkatan laut Sabang.

Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 03 February 2009, sebanyak 220 warga Myanmar etnis Rohingya kembali mendarat di kawasan Idi Cut, Aceh Timur. Pendaratan ini menjadi gelombang ke-dua pada waktu yang sama mendarat di Aceh pada tahun 2009. Setelahnya, hampir setiap tahun gelombang pengungsi Rohingya mendarat di Aceh

Pengungsi Rohingya istirahat ditempat seadanya di basement Balai Meuseuraya Aceh. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Tahun 2015 hingga 2017 gelombang pengungsi Rohingya asal Myanmar terus berdatangan hingga mencapai puncaknya tahun 2023, mencapai 1600 lebih dalam tempo kurang dari satu bulan, dimulai dari bulan Oktober 2023 hingga 14 Desember 2023. Mereka berlayar ke Aceh dengan beberapa gelombang dan kapal yang berbeda-beda dan wilayah pendaratannya pun berbeda beda. Mulai dari kawasan Sabang hingga ke kawasan pantai di Aceh Timur. Bahkan kini sudah sampai ke wilayah perairan Sumatera Utara, tepatnya di kawasan Deli Serdang.

Saat ini mereka ditampung di 8 titik pengungsian yang disiapkan oleh pemerintah dengan berbagai ragam kondisi yang berbeda-beda. Dari 8 titik pengungsian ini, hanya 2 titik saja yang agak representative untuk ditempati walaupun masih tetap terbatas hanya sebagai penampungan sementara, yaitu di penampungan Mina Raya, Pidie dan penampungan bekas Kantor Imigrasi Lhok Seumawe.

Dari sekitar 1600-an pengungsi yang saat ini ditampung di Aceh, hampir setengahnya adalan anak-anak dan perempuan. Berbeda dari gelombang pengungsi di awal-awal yang umumnya terdiri dari laki-laki dewasa. Bahkan dalam setiap gelombang pelayaran, selalu terdapat keluarga yang membawa serta seluruh anggota keluarganya untuk berlayar menempuh perjalanan penuh resiko dan bahaya.

Motivasi mencari kehidupan yang lebih baik dan terbebas dari rasa takut adalah faktor utama yang menyebabkan para pengungsi Rohingya meninggalkan camp pengungsian di Bangladesh. Fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas pendukung lainya berada dalam keadaan tidak layak. Hal ini ditambah lagi dengan populasi pengungsi yang terus meningkat dengan lahirnya bayi-bayi, menambah problem baru bagi keluarga-keluarga Rohingya yang saat ini ditampung di Cox Bazar Bangladesh.

Selain fasilitas kehidupan yang tidak layak, aksi kriminalitas yang tinggi, seperti pembunuhan dan penculikan terhadap anak-anak menjadi faktor yang paling kuat mendorong mereka keluar dari penampungan. Secara khusus bagi keluarga yang memiliki anak, baik anak laki-laki maupun perempuan. Aksi penculikan dengan modus meminta tebusan adalah hal yang lumrah terjadi di lokasi penampungan. Para pelaku aksi kriminalistas ini meningkat tajam seiring dengan meningkatnya jumlah populasi di pengungsian Bangladesh.

Misi utama mereka membawa serta keluarga mengarungi lautan berbahaya adalah untuk mencari kehidupan yang lebih layak di negara-negara tujuan seperti Malaysia atau Indonesia. Keluarga mereka yang sudah terlebih dahulu mengungsi ke negara-negara tetangga menjadi salah satu pendukung besar yang memberikan mereka biaya perjalanan menyebrang lautan untuk sampai ke Indonesia dan Malaysia.

Berikut kisah dan potrait keluarga-keluarga Rohingya yang berlayar dari kamp pengungsi di Bangladesh ke Aceh dengan membawa serta seluruh anggota keluarga mereka menempuh perjalanan yang penuh resiko dengan konsekwensi hilang dan mati di lautan nan ganas. Foto dan cerita ini disarikan dari dua kelompok pengungsi di dua kamp pengungsi sementara, di Sabang, Pulau Weh dan Balai Meuseraya Banda Aceh, Indonesia.

Pengungsi Rohingya, Aisyah Sidiq, Fatima Sualika Sidiq (putri) dan Nur Mustafa Ahmed Sidiq (putra), berpose untuk difoto di tempat penampungan sementara mereka di Banda Aceh, Indonesia, 12 Desember 2023. Aisyah Sidiq bersama anaknya berlayar ke Indonesia untuk bertemu kembali dengan suaminya yang sudah lebih dulu berangkat ke Indonesia.

Ia mendapat kabar bahwa suaminya, Muhammad Anesul Hoque, telah tiba dan ditampung di Indonesia dengan selamat. Ia mengambil risiko berlayar bersama kedua anaknya agar bisa berkumpul kembali dengan suaminya keluar dari kamp pengungsi di Bangladesh. Ia berharap berkumpulnya keluarga di Indonesia menjadi salah satu cara terbaik untuk mengubah hidup mereka menjadi lebih baik di masa depan sesuai dengan janji suaminya untuk berangkat ke Amerika Serikat. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Keluarga Rohingya, Nur Madu (ibu), Nur Kholima (putri sulung) Nur Sohid (putra), Nur Arafah (putri bungsu) berpose untuk difoto di tempat penampungan sementara mereka di Banda Aceh, Indonesia 13 Desember 2023. Nur Madu adalah seorang janda yang kehilangan suaminya di Kamp Bangladesh. Kondisi kehidupannya sebagai seorang janda menambah beban hidup dan sulitnya menjalani kehidupan normal di kamp pengungsi Bangladesh.

Perjuangannya sebagai seorang ibu untuk menghidupi anak dan putrinya memotivasinya untuk mengambil risiko berlayar ke Indonesia untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan layak dibandingkan tinggal di kamp Bangladesh. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Keluarga Rohingya, Muhammad Zabur (ayah), Sajidah (ibu), Sakil Khan (putra sulung) Muhammad (putra bungsu), Safika (saudara perempuan Sajidah) berpose untuk difoto di tempat penampungan sementara mereka di Sabang, Pulau Weh, Indonesia, 18 Desember 2024. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan sebagai salah satu putri Muhammad Zabur yang diculik dan dibunuh oleh kelompok kriminal di kamp pengungsi mereka di Bangladesh beberapa tahun sebelumnya.

Dia ingin anak-anaknya yang lain memiliki masa depan yang baik dengan membesarkan mereka dari kamp untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Karena mereka bisa mendapatkan pendidikan yang baik dan kehidupan normal untuk anak-anaknya tanpa rasa takut akan pembunuhan dan penculikan.

Ia tidak mempunyai rencana khusus sesampainya di Indonesia, yang terpenting ia lakukan adalah membawa dan menyelamatkan anaknya dari penculikan dan tuntutan uang tebusan dari kelompok radikal dan penjahat di kamp Bangladesh. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Keluarga Rohingya, M.Toyotami (ayah), Aisyah (ibu) Teroih (putri) Muhammad Juned (putra sulung), Muhammad Ayas (putra), Muhammad Jaber (putra bungsu) berfoto di tempat penampungan sementara mereka di Banda Aceh, Indonesia, 13 Desember 2023. Keluarga ini memutuskan untuk meninggalkan kamp pengungsi di Bangladesh untuk menyelamatkan nyawa mereka dari kelompok kriminal yang semakin banyak berada di lokasi pengungsian.

Kehidupan yang tidak nyaman dan kondisi yang memprihatinkan, mulai dari permasalahan pendidikan, pekerjaan dan kehidupan layak yang tidak pernah mereka dapatkan, menginspirasi M. Toyotami untuk keluar dari kamp untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Salah satu tawaran dan informasi yang mereka terima adalah Aceh merupakan salah satu daerah yang menerima pengungsi dengan baik. Hal inilah yang memotivasi mereka untuk mengarungi lautan demi mencari kehidupan yang lebih baik demi masa depan keluarga dan anak-anaknya. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Keluarga Rohingya, Muhammad Shaker (ayah), Yasmintara (Ibu), Tosmiara (adik), Muhammad Jaber (putra), Jasmihata (putri), berfoto di tempat penampungan sementara mereka di Banda Aceh, Indonesia 13 Desember 2023. Mereka melarikan diri dari Kamp di Bangladesh karena situasi keamanan yang tidak aman.

Banyak kasus kriminal yang menyebabkan mereka hidup tidak aman dan nyaman. Kondisi ini memaksa Muhammad Shaker mengungsi ke negara mana pun yang bersedia menampung mereka, termasuk Indonesia. Harapannya kehidupan anak-anaknya kelak akan lebih baik melalui pendidikan dan pekerjaan yang layak. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Keluarga Rohingya Muhammad Muslim (ayah), Rukiya (istri), Habsah (anak perempuan), Muhammad Abdul Rohim (saudara laki-laki Muslim), berpose untuk fotografi di tempat penampungan sementara mereka di Sabang, Pulau Weh, Indonesia 18 Desember 2023. Keluarga ini mengungsi dari kamp pengungsi Bangladesh karena Muhammad Muslim telah diculik oleh kelompok tak dikenal di kamp pengungsi tersebut, kemudian istrinya memberinya uang tebusan, sehingga mereka berangkat ke Indonesia untuk menyelamatkan diri.

Ia memiliki seorang putri bernama Habsah yang membuatnya takut menyekolahkannya karena khawatir putrinya akan diculik dan dimintai uang tebusan. Banyak penculikan yang berakhir dengan pembunuhan, karena itulah ia berusaha menyelamatkan keluarganya dari kamp pengungsian dan memutuskan untuk berlayar ke Indonesia. Saat ini Muhammad Muslim tidak memiliki kesempatan untuk hidup baik di Bangladesh dan berencana menyekolahkan putrinya di Indonesia dengan aman tanpa takut diculik. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Keluarga Rohingya Husein Mubarik bersama empat orang anak dan istri serta saudara laki-lakinya berfoto di tempat penampungan sementara mereka di Sabang, Pulau Weh, Indonesia, 18 Desember 2023. Keluarga ini mengambil resiko untuk pergi ke Indonesia demi kehidupan yang lebih baik di masa depan, Dia tinggal di Myanmar sebelum tahun 2017 ketika pemerintah Myanmar melakukan genosida terhadap orang-orang Rohingya.

Ia berlayar ke Indonesia bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dan memperbaiki kehidupan keluarganya karena di Bangladesh mereka tidak memiliki akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, tidak ada jaminan kehidupan yang baik. Ia juga tidak bisa menjalani kehidupan Islami yang baik dalam kesehariannya Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Keluarga Rohingya, Hassonali (ayah), Shamina Katum (istri) Samina (anak perempuan) Nurul Islam (putra) Sava Nur (perempuan), Muhammad Rian (bayi) berpose untuk difoto di tempat penampungan sementara mereka di Sabang, Pulau Weh, Indonesia 18 Desember 202. Keluarga ini memutuskan untuk meninggalkan kamp pengungsi di Bangladesh karena kondisi di kamp tersebut sangat buruk dan banyak kelompok radikal yang melakukan aksi pembunuhan dan penculikan.

Terutama menculik anak-anak. Kondisi di kamp terus memburuk dengan kurangnya fasilitas hidup yang layak menyebabkan keluarga mereka hidup dalam kondisi yang sulit dan berbahaya. Kondisi tersebut mendorong Hassonali memutuskan untuk membawa seluruh keluarganya melarikan diri dari kamp dengan melakukan perjalanan berbahaya di laut.

Rasa takut menjadi pengungsi mengalahkan rasa takut menyeberangi lautan yang ganas. Lebih baik mati dalam perjalanan daripada mati tanpa melakukan apapun untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Yang terpenting adalah kehidupan anak-anaknya yang tidak mendapatkan kehidupan yang layak dan fasilitas yang menunjang kehidupan yang layak sebagai manusia. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Keluarga Rohingya, Abubakar Sidiq (ayah), Runa Begum (istri) dan Muhammad Saher (putra) berfoto di tempat penampungan sementara mereka di Banda Aceh, Indonesia, 13 Desember 2023. Keluarga Abubakar Sidiq adalah keluarga baru dengan satu orang anak yang tinggal di kamp Bangladesh. Mereka melarikan diri karena kondisi kamp dan kehidupan yang semakin memburuk dan tidak memiliki kepastian tentang masa depan.

Apalagi masa depan anaknya masih sulit dan perlu perhatian lebih. Buruknya kondisi kehidupan pengungsi Bangladesh, terutama meningkatnya angka kejahatan, termasuk penculikan dan pembunuhan, membuat mereka cemas akan masa depan keluarga barunya. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Foto dan teks: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

Berita Terbaru

Newsletter

Subscribe to stay updated.