Lamuddin, Pentagon dan Kalpataru

Oleh : Inike Yulia Putri*

Siang itu seusai makan siang disalah satu coffeeshop yang terletak di pinggir jalan lintas Kabupaten Bireuen-Takengon saya dan teman-teman dari Banda Aceh berencana untuk berkunjung ke salah satu desa yang berada di Kabupaten Bener Meriah untuk menemui salah satu Kelompok Perhutanan Sosial di Kampung Damaran Baru.

Sebelum ke Kampung Damaran Baru, teman saya bernama Rubama berniat untuk singgah ke salah satu tempat bernama Pentagon yang terletak di Kampung Blang Tampu, Kecamatan Bukit, letaknya tidak jauh dari Simpang Teritit. Sesampainya di Kampung Blang Tampu kami diarahkan oleh rambu panah bertulisan “Pentagon”, dan kami mengikuti arah panah tersebut dan memasuki jalan-jalan kecil. Tidak lama kemudian kami disambut gerbang dari rindangnya pepohonan, bambu dan pinus.

Saat itu suasana mulai terasa sejuk, diiringi dengan sisa tetesan hujan yang jatuh dari balik kanopi pepohonan yang tegak berdampingan. Sembari menunggu pengelola sekaligus pemilik tempat tersebut kami pelan-pelan berjalan menyusuri Pentagon hingga menemukan aliran sungai di kaki lerengnya, karena tempatnya merupakan perbukitan. Terpesona dengan suasana disana, kami tidak lupa mengambil jepretan gambar dan cuplikan video singkat sembari ikut merasakan sejuknya alam sekitar.

Tidak lama kemudian seorang teman memanggil saya dan yang lainnya untuk bertemu dengan sang pemilik tempat itu, ia bernama Lamuddin, lalu kami berjabat tangan dan saling berkenalan. Sembari bercerita dan berkenalan kami kembali ke atas bukit Pentagon. Di tengah perjalan kami disuguhi beberapa tanaman salak yang sedang berbuah dan siap panen, tentu saja Pak Lamuddin menawarkan salaknya dan kamipun dengan senang hati siap memanen. Hasil panen langsung disergap dan masuk ke dalam tas jinjing. Sesampainya ditempat tinggal Pak Lamuddin, kami bertemu dengan sang istri dan beberapa tamu lain yang sedang berkunjung juga. Kemudian saya dan teman-teman diajak masuk ke rumahnya.

Kami masuk dan menaiki tangga menuju loteng, sesampainya diloteng segera mengambil posisi strategis untuk duduk senyaman mungkin. Tidak lama menarik nafas,  sajian kopi telah hadir dihadapan kami, dan kopi menjadi awal dalam membuka diskusi.

Pak Lamuddin merupakan anak petani, ia pernah berkuliah di Medan, tepatnya di Institut Teknologi Medan, Sumatera Utara.

“Saat kuliah saya memiliki seorang teman berasal dari Kabanjahe dan waktu itu saya berkunjung ke rumahnya. Keluarganya adalah keluarga petani yang memiliki lahan seluas 1 ha dan lahan tersebut dibagi menjadi dua bagian, satu sisi ditanami bambu dan satu sisi ditanami markisa,” Kisah Pak Lamuddin.

Dari lahan tersebut, tambah Pak Lamuddin, mereka bisa memanen 1 truk bambu dan 1 pick up buah Markisa dalam seminggu, dan itu menjadi mata pencaharian utama keluarga tersebut.

“Dari situ saya mulai berfikir, ternyata ini bisa menghasilkan, jika ini dilakukan dikampung saya sepertinya akan berhasil. Kemudian saya juga pernah pergi ke Gundaling, Berastagi, setelah melihat kondisi lingkungan muncul lagi ide, oh ternyata gunung disini ada manfaat lainnya, di kampung saya semua adalah gunung, dan banyak ditemukan alur, kelak saya akan membuat hal semacam ini juga di kampung. Itulah ide pertama nya sehingga saya engelola kebun seperti ini,” Kisah Pak Lamuddin.

Pak Lamuddin memulai usahanya dari nol, dengan mendapatkan modal dari berkebun di lahan orang lain yang meminjamkan lahannya. Pak Lauddin memulai usahanya dengan menanam sebanyak 45 ribu batang cabai dengan hanya dibantu oleh 2 orang pekerja.

Dan dengan kegigihannya, kini ia mengelola lahan seluas 6 ha yang dikembangkan sendiri, dengan lebih dari 260 jenis pohon didalamnya.

Melalui kreativitasnya mengubah lahan tidur menjadi lahan yang kini disebutnya sebagai hutan di tengah kampung, inisiatif ini berhasil menggiringnya mendapat kalpataru pada tahun 2020, sebuah penghargaan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada orang-orang yang telah berjasa dalam pelestarian lingkungan.

Sukses menjadi juragan cabai, menjadi modal awal baginya untuk melakukan penghijauan di tengah-tengah kampungnya. Tanpa bantuan siapapun, ia terus bekerja meski seringkali mendapat cemoohan.

Pak Lamuddin terus mencari bibit, membeli bibit dan menanamnya sendiri. jika ditanya sebaran masing-masing pohon di lahan seluas 6 ha tersebut, aka ia tahu dimana persis letak dan posisi tanaman-tanaman tersebut.

Pak Lamuddin percaya bahwa uang adalah penunjang. Baginya, uang tidak selalu menjadi modal utama. Karena sekarang ini bukan lagi zaman uang jika ingin berkembang, tetapi zamannya ide dan kreativitas. Jika uang menjadi patokan utama, maka akan sulit untuk berkembang.

Kami pun menikmati secangkir kopi yang sedari tadi aromanya telah menari-nari dihidung. Rasanya begitu khas, Pak Lamuddin menyebutnya sebagai kopi 1000 pohon. Menurut Pak Lamuddin, rasa khas kopi tersebut tercipta karena di Pentagon tumbuh beranekaragam jenis tumbuhan, sehingga hal ini menimbulkan persaingan antara tanaman kopi dengan tanaman lainnya dalam penyerapan nutrisi. Adanya persaingan ini justru membuat tanaman kopi di Pentagon memperkuat jati dirinya dengan menciptakan rasa yang berbeda secara murni.

Pentagon bukan hanya tempat untuk mencari inspirasi bagi sebahagian orang, namun Pentagon juga sebagai tempat pendidikan. Pak Lamuddin mendedikasikan tempat tersebut sebagai wadah pendidikan yang dapat menjalin kedekatan manusia dengan alam terutama anak-anak usia dini.

Pentagon sering dikunjungi oleh anak-anak sekolah yang ingin belajar banyak tentang alam, cara merawat tanaman perkebunan seperti kopi, dan lain-lain. Ia juga berencana untuk membuat suatu kawasan khusus yang ditumbuhi oleh tanaman-tanaman yang mengandung toksik atau racun seperti jelatang, karena ia yakin Tuhan tidak akan menciptakan satu individupun jika tidak memberikan manfaat kepada yang lain, sehingga ia berharap kelak Pentagon juga dapat sebagai tempat untuk melakukan penelitian.[ ]

*Penulis adalah Warga Bener Meriah dan anggota Jurnalis Warga Banda Aceh

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

Berita Terbaru

Newsletter

Subscribe to stay updated.