DIGDATA.ID – Laporan terbaru yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa kawasan es dan salju bumi menghadapi kerusakan permanen kriosfer jika pemanasan global melampaui target 1,5 derajat Celsius dalam Perjanjian Paris. Kerusakan pada lapisan es, laut es, dan gletser ini diproyeksikan tidak akan dapat dipulihkan kembali meskipun suhu bumi nantinya berhasil diturunkan.
Penelitian yang disusun oleh 80 ilmuwan dari International Cryosphere Climate Initiative (ICCI) dan UN Environment Programme (UNEP) ini membantah mitos bahwa melampaui batas pemanasan hingga 2°C atau 3°C masih dapat dikelola. Saat ini, suhu bumi telah meningkat sebesar 1,3°C sejak era pra-industri. Untuk menghindari dampak ekstrem pada kriosfer, para ilmuwan mendesak agar periode overshoot dijaga sesingkat mungkin dan emisi karbon ditarik dari atmosfer hingga pemanasan jangka panjang turun di bawah 1°C pada tahun 2150.
Dikutip dari The Guardian, ahli glasiologi ICCI sekaligus penulis utama laporan tersebut, James Kirkham, menegaskan bahwa kriosfer merupakan salah satu komponen paling sensitif dalam sistem iklim bumi.
“Tahun ini, kita telah menyaksikan salah satu longsoran es dan batuan terbesar serta paling mematikan yang pernah tercatat, yang terjadi di perbatasan Nepal-Cina. Bencana ini menewaskan ribuan orang dan menimbulkan kerusakan senilai 10 persen dari PDB Nepal dalam satu peristiwa tunggal,” ungkap Kirkham mengenai dampak nyata pencairan es.
Ia menambahkan bahwa salju dan es merespons dengan sangat cepat terhadap setiap kenaikan suhu. “Salju dan es merespons dengan cepat setiap fraksi derajat pemanasan… Namun sebagian besar sistem ini akan membutuhkan waktu berabad-abad hingga ribuan tahun untuk pulih setelah mengalami overshoot, terutama jika titik kritis (tipping point) telah terlampaui sehingga memicu perubahan yang pada dasarnya tidak dapat dipulihkan,” tegas Kirkham.
Data dalam laporan tersebut mencatat bahwa wilayah Swiss telah kehilangan 20% volume es gletsernya dalam lima tahun terakhir, dan ribuan gletser di seluruh dunia diproyeksikan punah setiap tahunnya pada dekade mendatang. Di kawasan Pegunungan Hindu Kush Himalaya, kebijakan iklim saat ini diperkirakan hanya akan menyisakan 41% massa es, sedangkan pembatasan pemanasan pada 1,5°C dapat mempertahankan hingga 83% massa es.
Selain gletser, lapisan es di Greenland dan Antartika kini mencair sekitar enam kali lebih cepat dibandingkan pada dekade 1990-an. Apabila suhu bumi melonjak hingga 3°C di bawah kebijakan saat ini, hampir seluruh permafrost dekat permukaan akan mencair, yang berisiko memicu gangguan parah pada sirkulasi samudra serta pengasaman laut secara meluas.
Dikutip dari The Guardian, CEO Climate Analytics, Bill Hare, menyatakan bahwa laju pencairan es saat ini telah melampaui batas kemampuan adaptasi manusia.
“Lapisan es mencair enam kali lebih cepat dibandingkan 30 tahun lalu, es laut dan gletser pegunungan lenyap dengan kecepatan rekor, permukaan laut terus naik tanpa bisa dicegah, dan samudra polar yang menjadi penopang kehidupan mengalami pengasaman: semuanya kini tak dapat dipulihkan dalam skala waktu manusia, semuanya membawa konsekuensi global, dan semuanya mendorong dampak iklim melampaui batas kemampuan adaptasi,” ujar Hare.
Publikasi laporan peringatan kriosfer ini bertepatan dengan momentum bertemunya para pemimpin dunia dan diplomat dalam Konferensi Iklim Tahunan COP31 di Turki.
sumber: theguardian.com



