Pertambangan Hanya Serap 1,2 Persen Tenaga Kerja di Indonesia

Hilirisasi pertambangan merupakan program unggulan Presiden terpilih Prabowo-Gibran, seperti disampaikan dalam debat kandidat Pilpres 2024 pada 22 Desember 2023 lalu. Dalam dokumen visi-misi mereka setebal 88 halaman ada 18 kali disebutkan “hilirisasi”, terutama sektor investasi pertambangan. Lalu bagaimana dengan tenaga kerja yang terserap?

Sederhananya hilirisasi atau downstreaming adalah tahap pengolahan produk dari bahan mentah menjadi barang yang memiliki nilai lebih tinggi dan siap dijual kepada konsumen akhir. Proses ini melibatkan pemrosesan, pengemasan, distribusi, dan penjualan produk.

Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Kementerian Koordinasi Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Rifky Setiawan menyampaikan bahwa hilirisasi pertambangan Indonesia dapat menjadi peluang dan langkah menuju masa depan.

“Kinerja penanaman modal asing (PMA) 2022 mencetak rekor tertinggi, hilirisasi industri mendorong peningkatan investasi yang lebih merata. Kontribusi sektor sekunder (manufaktur) terus mengalami peningkatan seiring dengan hilirisasi dan share investasi PMA di luar Jawa juga terus mengalami peningkatan,” jelas Rifky dalam acara Infrastructure Business Forum dalam rangka Main Event Sewindu Proyek Strategis Nasional (PSN) di Jakarta, Rabu (13/9/2023).

Prabowo-Gibran juga menegaskan, perlu digenjot sektor pertambangan, terutama nikel untuk kesejahteraan masyarakat dan mendongkrak perekonomian bangsa. Lalu pertanyaan selanjutnya, hingga 2023 berapa jumlah tenaga kerja yang terserap dari sektor tersebut?

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), dari total tenaga kerja formal di Indonesia sebanyak 139,8 juta lebih dari berbagai sektor, baik industri, jasa, pegawai pemerintah dan lainnya. Mirisnya sektor pertambangan dan penggalian hanya mampu menyerap tenaga kerja 1,2 persen atau setara dengan 1,7 juta orang.

Sementara yang tertinggi menyerap tenaga kerja dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang mencapai 28,2 persen atau sekitar 39,4 juta lebih. Lalu disusul pedagang besar, eceran; reparasi dan perawatan mobil dan motor sebesar 19 persen atau setara dengan 26,5 juta orang.

Bila ditinjau jumlah tenaga kerja sejak 2011 hingga sekarang jumlah tenaga kerja yang bekerja di pertambangan berkisar 1,3 juta hingga 1,7 juta. Ini menunjukkan bahwa sektor investasi ektrakstif ini tidak pernah tembus 2 juta tenaga kerja.

Masih kalah dengan sektor pekerjaan industri pada 2011 lalu jumlahnya mencapai 6 juta lebih dan meningkat menjadi 9,2 juta lebih pada 2023 lalu. Artinya dalam 13 tahun terakhir tenaga kerja di sektor industri mengalami peningkatan sebesar 39 persen. Sedangkan sektor pertambangan hanya naik sebesar 20 persen.

Sementara kontribusi sektor jasa dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia pada 2023 justru lebih tinggi dibandingkan pertambangan. Dari seluruh usaha sektor jasa menyerap tenaga kerja mencapai 14,6 persen atau total 20,4 juta orang. Begitu juga dengan sektor industri cukup besar kontribusi menyerap tenaga kerja, yaitu mencapai 22,5 persen atau sekitar 32 juta.

Dari data menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja sektor pertambangan relatif sangat kecil – tetapi lebih besar peluang lapangan pekerjaan dari sektor jasa, industri, pertanian dan perikanan.

Kendati menurut data BPS sektor pertambangan lebih tinggi dibandingkan lainnya pada awal 2024, yaitu rata-rata mencapai Rp 4,94 juta, sedangkan rata-rata gaji pekerja nasional Rp 3,04 juta.[acl]

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

Berita Terbaru

Newsletter

Subscribe to stay updated.