Rokok menjadi komoditi peringkat kedua penyumbang garis kemiskinan di Indonesia – termasuk Provinsi Aceh. Pengeluaran untuk rokok tersebut mengganggu pendapatan real masyarakat. Harga rokok memiliki kontribusi terhadap faktor kemiskinan 11.38 persen di pedesaan dan 12.22 persen di perkotaan.
Ini selaras dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, jumlah penduduk miskin Maret 2022 di Serambi Mekkah sebanyak 806,82 orang atau setara dengan 14,64 persen, rokok kretek filter menjadi penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan.
Yaitu di perkotaan komoditi rokok menjadi penyumbang kedua garis kemiskinan di Aceh sebesar 9,87 persen. Sementara di pedesaan justru angkanya lebih tinggi mencapai 11,73 persen.
Demikian juga temuan Global Adult Tobacco Survey-GATS selama kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi peningkatan signifikan jumlah perokok dewasa sebanyak 8,8 juta orang, yaitu dari 60,3 juta pada tahun 2011 menjadi 69,1 juta perokok pada tahun 2021.
Dalam upaya mencegah usia remaja dan pelajar menjadi perokok aktif. Selain meningkatkan pemahaman tentang bahaya rokok baik untuk remaja maupun orang dewasa. Memperluas ruang atau area Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dapat mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat serta mewujudkan kualitas udara yang bersih, bebas dari asap rokok.
Liputan selengkapnya dapat dibaca di bawah ini: