Home Berita RS Regional Cut Nyak Dhien, Harapan Tak Kunjung Terwujud
BeritaHeadline

RS Regional Cut Nyak Dhien, Harapan Tak Kunjung Terwujud

Share
Share

Jaring laba-laba berbagai ukuran menggantung di sudut-sudut ruangan dan atap bangunan Rumah Sakit Regional Cut Nyak Dhien, Aceh Barat. Dindingnya pun masih berlapis semen plesteran. Bau tak sedap, rerumputan yang tumbuh liar, serta material sisa pembangunan yang berserakan semakin menunjukkan bahwa bangunan ini telah lama terbengkalai.

Aroma kotoran hewan dan lumpur tercium tajam ketika memasuki pekarangan rumah sakit tersebut. Sebagian sisi bangunan tertutup rumput liar, terutama di halaman depan gedung berdinding kaca itu.

Dari luar, bangunan rumah sakit ini tampak megah dengan struktur yang terlihat selesai hingga ke bagian atap. Namun jauh berbeda dengan sisi belakang bangunan, dindingnya hanya dipoles semen yang kini mulai terkelupas dan banyak coretan, jendela dan pintu belum terpasang, bagian bawah gedung digenangi lumpur.

Tak ada tanda-tanda kehidupan di lahan yang bersebelahan dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) lama Kabupaten Aceh Barat. Hanya sapi dan kerbau milik warga menempati tempat tersebut.

Di sebelah kanan bangunan utama rumah sakit, terdapat bedeng pekerja proyek berukuran 8×3 meter yang kini mulai rusak. Dinding-dindingnya mulai terbuka, dan atapnya hanya tersisa beberapa lembar seng. 

Bangunan ini tampak mirip kandang ternak, dipenuhi sampah kayu, sementara papan pengumuman proyek yang dulunya terpasang rapi di dinding kini tergeletak tak terurus di lantai.

Bangunan yang telah menghabiskan ratusan milyar tersebut kini menjadi bangunan kosong yang terbengkalai. Banyak material sisa pembangunan yang hilang diambil orang tak dikenal.

Abdullah (56) warga Gampong Lapang, Kabupaten Aceh Barat mengatakan, selama ini tidak ada aktivitas pembangunan di lokasi tersebut. Bahkan tidak ada penjaganya, sehingga ada orang-orang tak dikenal datang mengambil material di lokasi tersebut. Namun ia mengaku tak ada kuasa untuk melarang.

“Saya sering lewat sini, tapi enggak ada penjaga sama sekali, bahkan, material bangunan di kawasan ini sering hilang dicuri oleh orang tak dikenal, kami gak berani menegur,” katanya.

Abdullah saban hari melintas di lokasi tersebut, selain memiliki kebun di dekat lokasi RS Regional tersebut. Ia juga memotong rumput untuk pakan ternaknya di kawasan itu sehingga tau kondisi lokasi pembangunan RS yang telah menghabiskan ratusan milyar tersebut.

Bagi Abdullah, keberadaan rumah sakit yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) ini sangat berarti baginya. Ia mengingat jelas bagaimana saudaranya yang sakit parah terpaksa harus dirujuk ke Banda Aceh untuk menjalani cuci darah.

Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien yang menjadi satu-satunya harapan warga Aceh Barat, tidak memiliki fasilitas yang memadai dan sering penuh sehingga harus mengantri untuk penanganannya.

“Saya terpaksa menemani saudara sampai ke Banda Aceh untuk cuci darah, karena di sini layanan cuci darahnya terbatas dan sering penuh sehingga bolak balik ke Banda Aceh. Biaya transportasi bolak balik ke Banda aceh itu besar sekali, ditambah lagi biaya hidup di sana,” kenang Abdullah.

“Kalau rumah sakit ini selesai, kami tidak perlu lagi pergi jauh-jauh ke Banda Aceh atau Medan untuk berobat. Kasihan mereka yang kurang mampu,” ucapnya lagi.

Rumah sakit rujukan regional Cut Nyak Dhien yang berada di Jalan Kayu putih, Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat ini merupakan satu dari lima rumah sakit yang dibangun menggunakan APBA dan Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK), sejak tahun 2017 lalu hingga saat ini belum juga selesai.

Bangunan yang dibangun di atas lahan seluas 7,99 hektar ini terbengkalai begitu saja, beberapa sisinya sudah mulai rusak dan terlihat kumuh, material – material bangunan banyak hilang di ambil orang tak dikenal.

Sejak 2017 hingga 2024 sudah Rp 332,2 miliar anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan rumah sakit tersebut dan targetnya selesai tahun ini. 

Alih-alih selesai, malah bermasalah dan menjadi temuan BPK RI seperti yang tertuang dalam LHP Pemerintah Aceh. Ada kekurangan volume pekerjaan dengan total Rp 301,2 juta lebih.[acl] 

Baca Selengkapnya: Sengkarut Proyek Rumah Sakit Regional Cut Nyak Dhien

 Fitri Juliana & Cut Nauval (KJI Aceh)

Share
Related Articles
Junta militer Myanmar mengumumkan gencatan senjata sementara mulai Rabu (2/4/2025) hingga 22 April mendatang. Keputusan ini diambil seiring meningkatnya jumlah korban jiwa akibat gempa bumi besar yang melanda negara itu pekan lalu. Poto :Trigger
BeritaHeadlineNews

Junta Myanmar Gencatan Senjata untuk Bantu Korban Gempa

Junta militer Myanmar mengumumkan gencatan senjata sementara mulai Rabu (2/4/2025) hingga 22...

Banjir rendam lahan persawahan warga di Gayo Lues, 31 Maret 2025. Poto : BPBD Gayo Lues.
BeritaHeadlineNews

Banjir Landa Beberapa Daerah di Aceh Bertepatan dengan Perayaan Idul Fitri

Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur hingga memicu luapan sungai Aih Badak di...

Gas Petronas meledak, Peristiwa itu terjadi pada Selasa (1/4/2025) pagi dan menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah rumah warga
BeritaHeadlineNewsUncategorized

Gas Petronas Meledak, PM Anwar Ibrahim Janjikan Bantuan bagi Korban

Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim menjanjikan bantuan langsung kepada para korban...

Sebanyak 73 personel Indonesia Search and Rescue (INASAR) diterbangkan menuju lokasi terdampak gempa di Myanmar, Selasa (1/4/2025). Pelepasan tim kemanusiaan ini dilakukan oleh Kepala Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto
BeritaHeadlineNews

Tim INASAR Bertolak ke Lokasi Gempa Myanmar

Sebanyak 73 personel Indonesia Search and Rescue (INASAR) diterbangkan menuju lokasi terdampak...