Saat ditanya tentang konflik Aceh, Jurnalis Perempuan kelahiran Banda Aceh ini, terdiam sejenak, menghela nafas panjang sembari menyusun kembali pazel-pazel ingatan tentang konflik bersenjata yang pernah ia abadikan. Nada suaranya terasa berat saat ia membuka cerita kembali tentang apa yang pernah ia rasakan saat menjadi jurnalis pada masa konflik Aceh.
Teror, ancaman dan tekanan dari kedua belah pihak yang sedang berseteru saat itu menjadi makanan sehari-hari Daspriani Yuli Zamzami, yang biasa disapa Yayan. Kedua belah pihak yang bertikai kerap memintanya untuk menulis berita sesuai arahan mereka, sehingga mengaburkan fakta yang ada. Bahkan tak segan-segan mereka mengancam dengan senjata atau mati jika isi berita merugikan kedua belah pihak.

Hal ini masih sangat membekas di ingatan Yayan, saat itu ia meliput pengejaran seorang warga yang di duga anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dari Pasar Aceh hingga Desa Peuniti yang merupakan rumah ayah si korban untuk bersembunyi, namun ketahuan oleh polisi sehingga ia kabur dan berhasil ditembak hingga meninggal.
Korban dibawa ke instalasi pemularasan jenazah Rumah Sakit Zainoel Abidin. Sampai disana diperiksa semua baju-bajunya oleh dokter dengan merogoh semua kantong dan tidak menemukan apapun bersih, clear, clean, setelah itu diserahkan kembali ke pihak kepolisian dan Polisi melakukan pemeriksaan ulang dengan sangat cepat gerakan tangannya tiba-tiba dia menemukan empat selongsong peluru di dalam kantong baju korban yang diduga anggota GAM tersebut.
“ Saat itu saya berada di dalam ruangan jenazah tanpa disadari oleh semua orang, saya tidak bawa kamera, sepintas saya melihat kecepatan tangan anggota polisi memasukkan 4 peluru ke baju korban dan saya terkejut. Saya konfirmasi itu ke humas polresta, dan beliau bilang tulis saja yang lain apa yang kamu lihat”Cerita mantan Reporter Indosiar tersebut.

Saat itu Humas Polresta Almarhum Pak Sayed, ketika dikonfirmasi terkait hal tersebut, ia berkata kepada Yayan, ‘kamu jangan banyak bertanya, tulis saja apa yang kamu lihat, tapi bukan yang itu. Kamu tulis saja kalau Polisi berhasil menembak mati satu GAM yang merugikan negara’Kata Humas Polresta Saat itu, ceritanya lagi.
Tak hanya itu saja, mantan reporter Indosiar ini juga pernah di sandera dan diteror senjata juga pedang. Dan itu sangat membekas diingatannya hingga mengganggu psikologisnya.
Ancaman itu datang dari seorang petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dalam terornya mengatakan jika Ia mengatahui dimana keberadaan yayan saat itu, tau rumahnya di Banda Aceh, tau orangtuanya hingga kendaraan dan jalan mana yang selalui ia lewati untuk pulang kerumah.
“Jangan kamu kira saya tidak tau kamu dimana sekarang, menginap di hotel mana dan nomor kamar berapa, saya juga tau rumah kamu, orangtua kamu dan jalan mana yang biasa kamu lewati, jadi hati-hati kalau buat liputan, jangan berlebihan! Saya tau kamu nginap dimana sekarang, rumah kamu, orang tua kamu saya juga tau”cerita Yayan mengulang kembali kalimat tokoh GAM tersebut.

Sejak saat itu ia mulai menutup diri terhadap orang yang baru ia kenal, dengan tidak gampang mengumbar identitasnya, tidak pernah mengenalkan keluarga kepada orang-orang bahkan teman dekat sekalipun. Dan untuk mengakalinya setiap dia keluar atau pulang kerumah selalu mencari jalan mutar (alternative) untuk sampai kerumah dan masih ia lakukan hingga hari ini.
“ Saya masih trauma dengan teror itu, sehingga untuk pulang pergi dari rumah dan berangkat kerja selalu mencari jalan yang tidak sama setiap harinya (cari jalan mutar) sampai-sampai saya disorientasi, dan itu masih saya lakukan hingga saat ini”ucap Penyiar Radio Djati tersebut.
Anggota AJI yang satu ini juga berkisah tentang kelucuan dalam sebuah liputan perang di Aceh, dan itu terjadi saat meliput kontak tembak di sebuah rumah di desa Lambhuk Kota Banda Aceh, kejadiannya itu siang hari, saat itu ia belum makan dan terasa sangat lapar dan penyakit maag nya mulai kambuh, sehingga ia harus lari ke sebuah rumah di lokasi tersebut untuk minta makan, ternyata rumah tersebut sudah ditinggal penghuninya dan uniknya makanan sudah terhidang di atas meja makan siap untuk di santap.
“ Jadi pas pas tembak-tembakan sedang terjadi, saya udah enggak kuat lagi karena lapar, lari kesebuah rumah di pinggir jalan, penghuni rumah itu sudah kabur tapi dia sepertinya sudah menyiapkan makan untuk makan siang karena terlihat itu di mejanya kami masuk dan Akhirnya saya memilih buah pepaya sambil mohon maaf mohon izin, kalau diingat sekarang lucu dan itu gitu, aneh aja”ceritanya sambil tertawa.
Sebagai Kontributor Daerah meliput didaerah konflik merupakan bagian dari aktifitas sehari-hari sebagai pewarta, pahit, getir, manis yang terjadi saat liputan harus ia telan.
“Mau tidak mau saya harus menikmati suasana itu, berani tidak berani saya harus menghadapinya” ucap anggota AJI Banda Aceh tersebut.

1999 adalah awal dari karirnya menjadi seorang jurnalis yang bernaung dibawah organisasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), saat mengawali karir langsung menjadi jurnalis perang tanpa ada bekal ilmu khusus untuk bisa meliput perang, menulis sisi human interst saat konflik, bagaimana mengatasi trauma pasca konflik. Hanya bermodalkan keberanian dan ilmu dasar jurnalistik. Namun berbeda dengan teman-teman jurnalis yang ditugaskan dari Jakarta. Sebelum ke Aceh mereka terlebih dahulu dilatih ala militer di Cijantung.
“ Mereka dilatih untuk bertempur, bagaimana berlindung saat terjadi perang. Sementara teman-teman jurnalis di Aceh tidak punya bekal itu, yang ada hanya pelatihan P3K dan membaca situasi saat dilapangan” ingat yayan kembali.
Ada rasa kepuasan tersendiri bagi Yayan saat menjadi bagian dari dua dekade perdamaian Aceh, banyak cerita yang sudah ia tulis dan rekam selama masa konflik Aceh yang kini menjadi kepingan-kepingan sejarah untuk masyarakat Aceh dalam merawat sejarah terutama generasi muda yang tidak pernah tau bagaimana kondisi Aceh saat konflik masalalu. Bisa menyediakan diri untuk menulis dan memotret sejarah kelam di masa konflik Aceh adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk tanah kelahirannya (Aceh).









