BeritaNews

Cek Kesehatan Geratis, Cara Baru Masyarakat Serambi Mekkah Menjemput Sehat

Share
Cek Kesehatan Geratis Warga gampong Mulia Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh / Foto: Hotli /Digdata.id
Share

Jarum jam menunjukan pukul 7.30 WIB, matahari pagi ini terlihat cerah, uapnya mulai terasa perih di kulit, antrian di ruang tunggu Puskesmas Kuta Alam mulai penuh dan riuh dengan percakapan pengunjung.                                    Bau khas cairan antiseptik dan obat obatan menyambut Naimah (60) begitu ia melangkah masuk ke ruang pemeriksaan Puskesmas Kuta Alam Banda Aceh.

perempuan paruh baya asal desa nelayan Lampulo Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh ini bukan sedang jatuh sakit, ia datang untuk menggunakan haknya sebagai warga yang memegang KTP Kota Banda Aceh untuk mendapat pelayanan kesehatan yang biasanya ia lakukan di desanya setiap pertengahan bulan. Namun, pada bulan ini ia tidak bisa hadir karena sedang berada di luar kota sehingga harus ke Puskesmas untuk bisa mendapatkan layanan Cek Kesehatan Geratis (CKG).

“Biasanya saya cek kesehatan di gampong (desa), saya punya riwayat Darah Tinggi, Kolestrol dan kadang-kadang HB rendah, jadi setiap bulan saya rutin periksa. Awalnya saya kira ribet dan mahal untuk cek kesehatan di Puskesmas. ternyata tinggal tunjuk identitas, langsung diperiksa,” kata Naimah sumringah sambil menggulung lengan bajunya. Petugas medis juga melilitkan manset tensimeter digital ke lengan.

Langkah Naimah adalah potret kecil dari megaproyek kesehatan yang digulirkan pemerintah sejak awal tahun 2025 dan menyelimuti secara masif pada tahun 2026.

Kementerian Kesehatan mencatat target yang ambisius: menyasar 136 juta warga tahun ini. Angka yang bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan upaya memburu “musuh dalam selimut” bernama penyakit tidak menular, hipertensi, diabetes, hingga potensi gangguan jantung yang kerap datang tanpa mengetuk pintu.

Namun di ruangan balai desa Gampong Mulia Kecamatan Kuta Alam, cerita lain bergulir, Nurleli seorang ibu rumah tangga berusia 55 tahun duduk menunggu urutan namanya dipanggil untuk melakukan pemeriksaan tubuhnya terlihat lemah sesekali ia memegang dadanya saat batuk.

Panas teriknya cuaca dan debu jalanan Kota Banda Aceh yang membuat kepalanya sering sakit batuk hingga sesekali terasa berat saat bernafas. Setelah beberapa menit menunggu, Nurleli dipanggil untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter menyimpulkan masuk dalam kategori prehipertensi (belum mencapai hipertensi aktif) dan HB nya rendah  Namun jika ia tidak segera ditangani akan berdampak pada stork atau gagal ginjal dan anemia akut yang nantinya akan membutuhkan biaya pengobatan yang tidak ramah kantong. Sedangkan untuk batuknya ia terkena ispa. Dokter pun meminta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan lengkap di puskesmas agar penyakitnya tersebut bisa dicegah sejak dini. Dan pemerintah sudah menyiapkan upaya penanganan lanjutan.

Bagi masyarakat yang terdeteksi mengidap risiko seperti Nurleli, sudah tersedia akses penanganan awal dan obat gratis pada fase-fase krusial. Namun, esensi terbesar dari program ini bukan sekadar obat gratisnya, melainkan kesadaran kolektif untuk mengubah paradigma: dari mengobati yang sakit menjadi mencegah sebelum parah.

Setelah melakukan pemeriksaan dan menerima obat yang diberikan dokter yang bertugas pada kegiatan CKG gampong, Nurleli pulang bersama anaknya dan dokter memintanya untuk periksa kepuskesma jika kondisinya belum membaik beberapa hari kedepan.

Berdasarkan data Aplikasi Sehat Indonesia (ASIK) antusiasme masyarakat terhadap program kesehatan dasar  di Aceh menunjukan sinyal positif. Per 20 Mei 2026 tingkat kehadiran masyarakat dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mencapai 89,86% untuk tingkat Provinsi Aceh (251.977 kehadiran) dan 95,42% untuk Kota Banda Aceh (8.461 kehadiran)  dan jumlah ini terus terjadi peningkatan hingga bulan Juli 2026.

Program Cek Kesehatan Geratis di propinsi Aceh, khususnya Kota Banda Aceh tidak hanya ada di gampong-gamponng (desa) tetapijuga dilakukan di sekolah-sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga jenjang Sekolah Menengah Atas juga ddikalangan ASN Propinsi Aceh yang dipusatkan di Kantor Gubernur. hal ini dilakukan untuk menjaga kondisi kesehatan peserta didik dan para ASN Dikalangan Pemerintah Aceh guna mendukung upaya peningkatan pelayanan kesehatan sesuai program Nasional.

Hasil pemeriksaan nantinya menjadi bagian dari data pemantauan kesehatan masyarakat dan anak sekolah/madrasah yang akan dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri sebagai indikator pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.

Selain itu menurut Kabit Bidang Pelayan Kesehatan Dinas Kesehatan Aceh, Nizarli mengatakan program CKG merupakan upaya Pemerintah Aceh dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan melalui deteksi dini berbagai penyakit.

Layanan yang diberikan dalam kegiatan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan dasar, seperti pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol, asam urat, serta penghitungan indeks massa tubuh. Selain itu, petugas kesehatan juga menyediakan layanan konsultasi kesehatan.

Ini juga merupakan bagian perlindungan terhadap anak dari menularkan penyakit yang merupakan fondasi utama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Kesehatan anak dan remaja kini menjadi perhatian serius Pemerintah Aceh. Saat ini terdapat berbagai tantangan kesehatan anak usia sekolah dan remaja, seperti gizi kurang, penyakit menular, kesehatan reproduksi, hingga kesehatan mental.

Data Nasional Tahun 2024 mencatat bahwa 76,42% remaja puteri mengonsumsi Tablet Tambah Darah sesuai standar, 77,38% siswi kelas 7 dan 10 telah diskrining anemia, dan 20,74% dari mereka mengalami anemia. Sementara itu, data Provinsi Aceh menunjukkan bahwa baru 49,08% remaja puteri mengonsumsi Tablet Tambah Darah sesuai standar, 78,09% telah diskrining anemia, dan 17,05% di antaranya terindikasi anemia. Capaian ini dinilai masih jauh dari target nasional yang ditetapkan.

Hingga Juli 2026 ada sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan kesehatan geratis melalui program CKG, dan ini melebihi target capaian setiap minggunya. CKG bukan hanya sebagai program skrining kesehatan saja tetapi juga menjadi landasan untuk menguubah paradigm pelayanan kesehatan dari pengobatan menjadi menceegah.

 

Share
Related Articles
BeritaHeadlineJurnalisme Data

WALHI: Karhutla Akumulasi Kejahatan Negara dan Korporasi

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Aceh melonjak tajam dalam dua tahun...

BeritaHeadlineKawasan Ekosistem Leuser

Makwod dan Perjuangan Perempuan Beutong Menjaga Tanah Leluhur

Terik matahari siang itu tidak menyurutkan langkah Saudah alias Makwod (49) berkeliling...

BeritaHeadline

DPRK Aceh Selatan: Tambang Bukan Jalan Keluar Kemiskinan

Pertambangan kerap datang membawa janji investasi dan kesejahteraan. Namun bagi anggota DPRK...

BeritaHeadline

Tiga Mukim Tolak Tambang di Samadua, 725 Warga Teken Petisi

Bagi perusahaan, 1.491,4 hektar adalah wilayah konsesi. Bagi warga di tiga mukim...