Terik matahari siang itu tidak menyurutkan langkah Saudah alias Makwod (49) berkeliling kampung mengumpulkan warga. Dengan toa ditangan, ia berteriak lantang memanggil warga khususnya ibu-ibu untuk berkumpul di jembatan utama desa guna menghadang rombongan pemerintah kabupaten Nagan Raya, PT. Bumi Mentari Energi (BME) dan perwakilan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Aceh yang hendak membuka jalan ke area pertambangan.
Suaranya menggema ke seluruh kampung. Toa yang biasanya digunakan untuk Azan, saat itu ia gunakan untuk memanggil warga. Tak sampai 15 menit ibu-ibu yang sedang berada dirumah maupun di sawah berhamburan keluar dan berkumpul di jembatan desa. Pun begitu juga dengan para pemuda.
Ini ia lakukan demi menjaga ruang hidup dan sumber kehidupan mereka yang sudah mereka rawat sejak dari orang-orangtua mereka dulu.

Perlawanan seperti ini bukan hal yang baru bagi ibu tiga anak ini, ia sudah melawan setiap kezaliman yang terjadi di Beutong Ateuh Banggalang Kabupaten Nagan Raya jauh sebelum PT.AMM masuk ke kampungnya, pasca perjanjian damai Aceh dan Indonesia. saat itu ia ikut terlibat dalam penolakan PT.AMM.
Bahkan jauh sebelumnya saat ia masih kecil ia sudah dikenalkan dengan budaya perlawanan oleh orangtuanya. Ia selalu dibawa ibunya jika ada aksi protes dan pembakaran cam-cam pekerja milik PT (perusahaan tambang).
” Perjuangan sebenarnya sudah lama kami mulai, upaya perusahaan menambang emas di wilayah kami sudah terjadi sejak lama sebelum masa Covid-19. Tahun 2020 perjuangan panjang kami bersama LBH saat itu, membuahkan hasil. Gugatan kami di Mahkamah Agung untuk membatalkan izin usaha pertambangan emas PT.EMM yang memiliki konsesi sekitar 10 ribu hektar. Putusan itu benar-benar memberi kami harapan bahawa tanah kami masih bisa terselamatkan dari pengrusakan akibat eksplorasi tambang” Cerita Makwod kepada Digdata.id
Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama di penghujung 2025, perusahaan tambang kembali muncul dengan baju yang berbeda, mereka mengantongi izin seluas 3.500 hektar yang dikeluarkan pemerintah Aceh melalui DPMPTSP. Dan hal itu membuat masyarakat Beutong Geram dan Marah. Karena bagi mereka, khususnya perempuan-perempuan Beutong Ateuh Banggala, tanah ini bukan sesuatu yang bisa ditukar dengan janji apapun.
Bagi warga Desa Beutong Ateuh Banggalang, Makwod bukan sekedar perempuan biasa yang berprofesi sebagai pedagang juga petani tetapi ia adalah sosok perempuan tangguh yang berjuang menyuarakan penyelamatan sumber kehidupan masyarakat Beutong (sumber air dan hutan) dari ancaman tambang.
Kisah perjuangan Makwod dimulai pada tahun 2019. Kala itu, PT. AMM yang sudah masuk ke Beutong Ateuh sejak 2012-2018 ini melakukan rapat dengan warga desa dan perangkat desa untuk membicarakan tentang eksplorasi tambang yang akan mereka kerjakan.

Pihak perusahaan menjelaskan kepada warga jika mereka ingin membuka pertambangan di Beutong seperti Freeport di Papua. Dengan menjelaskan manfaat dan iming-iming janji manis lapangan pekerjaan kepada warga dengan memperlihatkan video-videonya.
“saat itu kami berfikir, tidak mungkin hidup kami akan sejahtera, jika tambang ini jadi yang ada kami akan kehilangan kampung, sumber air juga lahan perkebunan sebagai sumber pencaharian kami. dan nasib kami akan sama seperti orang papua”Cerita Makwod kepada Digdata.idSelain itu masyarakat juga takut tidak bisa berkebun lagi, karena sumber air mereka tercemar dan untuk ke kebun harus ijin pihak perusahaan padahal area kebun sendiri. kenang Makwod sambil mengupas pinang untuk campuran isian sirih.
Diancam dan Dianggap Gila
Perjuangan Makwod dan perempuan Beutong yang tergabung dalam kelompok Perempuan Beutong Bersatu (PBB) tidak berjalan mulus. Pada tahun-tahun pertama, ia sering mendapat cibiran dari tetangganya sendiri, banyak yang menganggap tindakannya sia-sia dan membuang-buang waktu.
“Saya sering disebut orang gila karena menentang dan memprovokasi warga untuk menolak tambang, dan sok-sok nolak padahal terima uang juga, tapi saya tida peduli dengan omongan orang”ucap perempuan Beutong tersebut.
Namun, cibiran, hujatan dan pandangan sinis tersebut tidak menghentikan langkahnya. Makwod bersama tokoh masyarakat dan pemuda Beutong tetap konsisten menyuarakan penolakan pertambangan di wilayah mereka. suara itu tidak hanya mereka gaungkan di tanah Beutong saja tapi hingga ke Ibukota Jakarta. Semua pintu mereka ketuk mulai dari otoritas Negara (Gubernur DPRA, Pemerintah Pusat) hingga lembaga resmi lainnya dan komunitas masyarakat di Ibukota Jakarta. Namun hal itu lagi-lagi tidak mudah, dalam beberapa pertemuan ada saja upaya untuk melunakan sikap warga.
Apa yang mereka lakukan selama ini, hanyalah bagian kecil dari perjuangan panjang perempuan-perempuan Beutong Ateuh Banggalang untuk mempertahankan ruang hidup, nilai-nilai tradisi serta hutan, sumber air dan tanah yang menjadi sumber pangan mereka.
Sampai hari ini perempuan kelahiran 1977 ini masih berdiri bersama warga menghadang berbagai upaya industri ekstraktif yang ingin merampas ruang hidup mereka. tapi jika mereka hanya diam dan menyaksikan saja atas kerusakan lingkungan, maka mereka yang akan merasakan dampaknya, seperti yang terjadi di akhir November 2025. Warga harus kehilangan rumah, kebun dan sawah mereka karena banjir bandang.
Namun saat ditanya apakah tidak ada rasa takut saat melakukan perlawanan dengan perusahaan tambang yang memiliki modal besar dan pengaruh tersebut, lagi-lagi Makwod menjawab, tidak! Sama sekali tidak ada rasa takut, namun was-was itu selalu ada, karena ia masih punya anak dan cucu yang juga harus ia jaga. Masyarakat beutong sudah pernah hidup di tengah konflik bersenjata dan menyaksikan pembantaian yang terjadi dimasa itu, jadi apa yang harus ditakutkan lagi. Bahkan ia melihat langsung ketika ayah dan suaminya ditembak di depan matanya saat peristiwa pembantaian tengku Bantaqiyah tahun 1999 lalu.
“Ancaman itu sudah biasa kami terima disini, anggap saja itu bagian dari perjuangan. walaupun harus mati Makwod sudah siap, yang penting anak cucu Makwod bisa tetap hidup di Beutong tanpa ada tambang”tegasnya lagi.
“Jika bukan kami siapa lagi yang akan mempertahankan tanah kami, selama kami masih hidup di tanah ini, kami akan terus menjaga dan merawatnya, bagaimanapun caranya”tambahnya lagi.
Tak hanya itu, Makwod juga bercerita bahwa kampung mereka ini punya daya tarik bagi investor karena letaknya berada di sebuah lembah subur di Kawasan Ekosistem Leuser(KEL) wilayah yang sejak lama diincar para investor tambang emas karena disebut memiliki cadangan emas sekitar 59,5 ton atau setara dengan 2,1 juta ounce, itu yang kami dengar dari orang-orang.
Dalam setiap pertemuan dan pelatihan atau pembekalan pengetahuan tentang menjaga dan melestarikan hutan serta pemanfatan hasil hutan, kepada anggota kelompok ia selalu menegaskan bahwa Beutong Ateuh adalah sumber hidup mereka, dan mereka akan terus mempertahankan tanah, kebun, sawah juga hutan dari ancaman tambang walaupun nyawa jadi taruhannya.
“kami tidak butuh tambang, Masyarakat Beutong Ateuh bisa hidup tanpa tambang, hasil hutan dan kebun bisa menghidupi kami”Tegas ketua PBB tersebut.

Saat ini Saudah alias Makwod memimpin komunitas Perempuan Beutong Bersatu, Melalui komunitas ini mereka menolak deforestasi, pertambangan dan berbagai bentuk agenda ekstraktif lainnya yang mengancam kampung mereka. Tak hanya itu Makwod juga sering mengingatkan anggotanya, bahwa suara perempuan tidak boleh diabaikan lagi, dalam berbagai keputusan yang menyangkut masa depan kampung mereka.
Melalui komunitas ini, mereka berusaha mewariskan pengetahuan adat kepada generasi muda Beutong. Kami merawat satu-satunya rumah adat yang masih tersisa di kampung mereka.yang selama ini dijadikan tempat bermusyawarah warga sekaligus ruang untuk menjaga identitas budaya Beutong Ateuh Banggalang.




