Bungong Ue dan Ombak Laut Motif Inai Khas Sabang

Boh gaca (taruh inai) merupakan tradisi turun temurun masyarakat Aceh pada pengantin, khususnya mempelai perempuan. Dan untuk melestarikan budaya tersebut, Dinas Pariwisata Aceh memperlombakan tadisi boh gaca dalam pagelaran Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke 8.

Ada 20 Kabupaten kota yang ambil bagian dalam lomba tersebut, satu diantaranya adalah Pemerintah Kota Sabang yang memperkenalkan motif bungong ue (bunga kelapa).

Koordinator Tim boh gaca kontingen Kota Sabang, Cut Mutia Aswanis mengatakan bahwasannya tradisi boh gaca di Sabang sama seperti tradisi yang dilakukan masyarakat Aceh lainnya.

Tujuannya untuk memberikan ke khasan dan menambah pesona kepada setiap pengantin yang melangsungkan pernikahan.

“ Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun sejak dulu dan tradisi ini juga terus dilestarikan oleh masyarakat di Sabang,”jelasnya lagi.

Peserta Lomba Boh Gaca Kontingen Sabang sedang melukis inai di tangan mempelai perempuan (darabaro). Fota Fitri J / Digdata.id

Tradisi boh gaca yang ada di Sabang juga sama dengan trasi didaerah lain. Karena budaya dan tradisi Aceh tetap dasarnya Islam, jadi diawali dengan salawat dan peusijuk (tepung tawar), hanya motifnya yang berbeda. Motif bungong ue dan rantai ombak merupakan motif khas Sabang

Pada 2019 silam, Sabang sudah sudah mendapatkan hak cipta (HAKI) dari Kementerian hukum dan HAM terhadap motif bungong ue, sehingga pemerintah kota terus berupaya mempromosikan di tengah masyarakat.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kota Sabang, Murdiana di Banda Aceh, Selasa (7/11) mengatakan boh gaca merupakan atraksi warisan budaya di Aceh yang sudah ada sejak lama secara turun temurun sehingga sangat penting untuk dilestarikan.

“ Dalam perlombaan boh gaca di PKA 8 ini kita tetap mengangkat tema motif bungong ue dan ombak laut yang merupakan khas Sabang,”kata Murdiana.

Motif Inai khas Kota Sabang, Bungong Ue dan Ombak Laut Foto;Fitri J/ Digdata.id

Murdiana juga mengatakan, prosesi adat boh gaca ini masih berlangsung ditengah masyarakat Kota seribu benteng itu. Dan tradisi ini bisa dijumpai saat upacara perkawinan dan sunatan Rasul. Namun saat ini, dia menilai tradisi boh gaca terancam tergerus zaman karena semakin banyak generasi muda Aceh yang menggunakan inai instan atau hena instan yang bukan berasal dari daun pacar seperti dalam tradisi boh gaca.

Pihaknya, kata Murdiana, terus berupaya mensosialisasi kepada generasai muda agar tradisi boh gaca itu terus terawat di tengah masyarakat supaya tidak ditinggalkan sebagai warisan budaya Aceh.

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

spot_img

Latest articles

Newsletter

Subscribe to stay updated.