Imunisasi, Pemutus Matarantai Penyebaran Polio di Aceh

Penemuan 4 kasus Polio pada anak yang terjadi di Desa Mane Kabupaten Pidie beberapa waktu lalu, ditetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus polio. Setelah 8 tahun Indonesia dinyatakan sebagai negara bebas polio.

Dan utuk memutuskan mata rantai penyebaran kasus Polio di Kabupaten Pidie, Dinas Kesehatan Kabupaten Pidie, dinkes Propinsi serta kementian kesehatan akan melakukan Outbreak respon Immunization (ORI) yang pencanangannya 28 November 2022 yang di pusatkan di Kabupaten Pidie.

Kementerian Kesehatan RI menyatakan pelaksanaan sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) di Aceh menyusul Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus polio di Kabupaten Pidie, menjadi upaya percepatan memutus rantai penyebaran virus polio di Tanah Rencong itu.

Plt Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan Prima Yosephine, Jumat, mengatakan Outbreak Response Immunization (ORI) tersebut dimulai di Pidie pada pekan depan, sementara untuk seluruh Aceh mulai pada 5 Desember.

“Kita memang harus melakukan sub PIN. Disebut sub karena khusus Aceh, dan ini untuk segera memutus mata rantai penyebaran (polio) ini, harapannya kita sukses,” kata Prima di Banda Aceh.

Ia menjelaskan cakupan imunisasi dasar lengkap di Aceh memang cukup rendah sejak beberapa tahun terakhir. Kondisi ini pula yang menyebabkan anak-anak di Aceh berisiko tinggi tertular penyakit yang selayaknya dapat dicegah dengan imunisasi.

Tentu, lanjut dia, hal ini dibuktikan dengan penemuan kasus polio atau lumpuh layu yang menyerang anak di Kecamatan Mane, Pidie.

Bahkan, virus polio juga telah menginfeksi anak yang sehat, tanpa gejala, namun tidak memiliki riwayat imunisasi dasar lengkap. Oleh karena itu pelaksanaan sub PIN di Aceh menjadi sangat penting.

“Sub PIN ini kita harapkan segera memutuskan penyebaran virus polio yang saat ini sudah ada di Pidie. Virus ini sudah bersirkulasi, sudah kita temukan di anak sehat pun terkena virus polio,” ujarnya.

Data Kemenkes RI, cakupan imunisasi per antigen di Aceh hingga Oktober 2022 umumnya cukup rendah. Cakupan untuk BCG sekitar 48,90 persen, HB0 67,1 persen, polio 46,8 persen, IPV 18,8 persen, DPT-HB-Hib 3 baru 39,3 persen, CR 43,7 persen.

Selanjutnya, cakupan IDL sebanyak 39,8 persen, DPT-HB-Hib 4 baru 17,3 persen dan CR2 hanya 21,9 persen. Cakupan setiap antigen itu masih belum ada yang mencapai target.

“Jadi (Sub PIN) ini tergantung kita semua, cakupan untuk sukses minimal 95 persen, sehingga perlu dukungan lintas sektor lain, jadi tidak mungkin hanya dinas, Puskesmas saja yang bergerak. Targetnya di Pidie sekitar 100.000 anak, ” ujarnya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Aceh mencatat empat kasus polio di Aceh yang terdeteksi di wilayah Mane, Kabupaten Pidie. Satu dari empat anak itu masih harus menjalani terapi di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin Banda Aceh.

Keempat anak yang terinfeksi virus polio tersebut sama sekali tidak memiliki riwayat imunisasi dasar lengkap sehingga sangat berisiko tinggi tertular virus. (Yan)

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

Berita Terbaru

Newsletter

Subscribe to stay updated.