Jangan Remehkan Karhutla di Aceh

Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) masih menjadi ancaman serius di Aceh yang mengakibatkan deforestasi dan meningkatnya emisi. Kondisi ini tidak boleh dipandang sebelah mata, karena berpengaruh terhadap perubahan iklim serta keberlangsungan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat, bahkan ancaman kelaparan dapat terjadi.

Kondisi ini menjadi tantangan berat yang dihadapi Provinsi Aceh saat ini, begitu juga Indonesia secara umum. Setiap musim kemarau, kebakaran terus terjadi dan berulang setiap tahunnya. Berbagai kajian telah dilakukan, permasalahan terbesar dengan perubahan iklim karena Karhutla masih masif terjadi, sehingga telah meningkatkan emisi gas rumah kaca secara signifikan.

Karhutla tidak hanya berdampak hilangnya tutupan hutan dan meningkatnya emisi. Bank Dunia dalam laporannya “Indonesia Economic Quarterly Report (IEQ) juga memperkirakan terjadinya penurunan 0,09 persen dan 0,05 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 dan 2020 lalu.

Selain itu juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Data September 2019 lalu, lebih 900.000 orang mengalami gangguan pernapasan dampak dari kebakaran dan kabut asap yang terjadi di Indonesia. Bahkan dampak kabut asap ikut dirasakan beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura dan beberapa negara lainnya.

Medio 2023 lalu Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh telah mengingatkan pemerintah kerentanan terjadi Karhutla di Provinsi Aceh. Peringatan ini bukan tanpa alasan, mulai dari fenomena alam El Nino yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan pada Juni 2023 lalu, Aceh tertinggi terjadi Karhutla.

Pada Juni 2023 lalu, BNPB merilis data dari total Karhutla di Indonesia mencapai 206 kejadian, Aceh menduduki peringkat tertinggi dengan jumlah kejadian sebanyak 53 kali, lalu disusul Kalimantan Tengah 35 kali dan Kalimantan Barat 17 kejadian.

Meskipun berdasarkan data analisis dari data terbuka SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas Karhutla di Indonesia pada 2023 meningkat 82,35 persen. Tentu ini menjadi peringatan, tidak hanya Indonesia secara umum, juga provinsi Aceh yang juga cukup rentang terjadi Karhutla.

Padahal pada 2020 lalu, Karhutla Indonesia sempat turun mencapai 82 persen,  lalu kembali meningkat pada 2021 sebesar 21 persen dan kembali turun pada 2022 lalu seluas 204.894 hektar. Namun prestasi tersebut tidak mampu dipertahankan, justru meningkat tajam pada 2023 menjadi 1,1 juta lebih Karhutla terjadi dengan emisi yang dikeluarkan 182.714.438 ton CO2e.

Kendati Aceh sempat menduduki peringkat pertama Karhutla di Indonesia tahun lalu, tetapi trennya sepanjang 2023 menurun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 48 persen. Berbeda yang terjadi seluruh Indonesia pada 2023 mengalami peningkatan drastis yang mencapai 82,35 persen dibandingkan 2022 lalu.

Data kenaikan luasan Karhutla Indonesia itu nyaris setara kejadian pada 2019 lalu dengan jumlah totalnya mencapai 1,6 juta hektar lebih, hanya selisih 42 persen kejadian pada 2023 dengan jumlahnya mencapai 1,1 juta hektar lebih.

Tren Karhutla yang sempat turun drastis sejak 2020-2022, ternyata tidak mampu dipertahankan oleh pemerintah Indonesia. Dalam rentang waktu tersebut, dunia maupun Indonesia sedang dilanda wabah Covid-19. 

Untuk mengaitkan keterkaitannya, memang butuh analisis lebih lanjut, namun bila ditinjau dari fakta empiris sangat jelas Karhutla dalam rentang waktu pandemi Corona menurun drastis. Alasan lain diduga ada keterkaitan, pada 2023 Karhutla meningkat tajam seiring Indonesia ditetapkan sebagai negara endemik Covid-19.

 

Ancaman Karhutla di Depan Mata

Ada yang menarik analisa data tentang Karhutla di Provinsi Aceh, karena luasannya berbanding terbalik yang terjadi seluruh Indonesia – dimana Aceh meningkat tajam justru pada 2022 sebesar 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lalu turun sebesar 48 persen tahun selanjutnya.

Kendati demikian tidak boleh berbangga dulu Karhutla di Aceh turun pada 2023. Pasalnya sejak 2019 hingga 2023 terus meningkat Karhutla di Aceh. Kalaupun turun angkanya pada 2023, justru masih lebih luas dibandingkan pada 2019 lalu.

Karhutla pada 2019 hanya 730 hektar, meningkat 62,31 persen pada 2023 dengan luasan 1.937 hektar. Puncak luasan Karhutla ada pada 2022 lalu – saat itu dunia dan khususnya Aceh sedang pandemi Covid-19, jumlahnya meningkat 80,36 persen dibandingkan 2019. 

Ini semakin menunjukkan bahwa kondisi Karhutla di Serambi Mekkah sedang tidak baik-baik saja. Karena secara umum trennya terus meningkat dalam 5 tahun terakhir ini. Berkaca dari itu patut diwaspadai ancaman Karhutla di Tanah Rencong pada 2024 ini, terlebih saat ini akan segera memasuki musim kemarau yang cukup rentan terjadi kebakaran.

Indikasi Pemerintah Aceh tidak boleh meremehkan Karhutla, awal 2024 saja KLHK merilis data bersumber data terbuka SiPongi, Aceh menduduki peringkat pertama sebaran titik panas. Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses digdata.id pada Rabu (7/2/2024) pukul 10.23 WIB.

Jumlah total titik panas terpantau di Indonesia sebanyak 111 kejadian. Aceh merupakan provinsi terbanyak terdapat titik panas mencapai 24 kejadian, juga mengalami peningkatan sehari sebelumnya 4 titik panas yang tersebar di dua belas kabupaten/kota.

Untuk provinsi Aceh, kategori titik panas berdasarkan hasil pencitraan satelit milik KLHK seluruh medium, artinya tingkat kepercayaan sedang. Kendati sedang ini patut diwaspadai – mengingat kondisi cuaca saat ini sedang dalam kondisi panas.

Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 – 29, skala sedang 30 – 79, dan skala tinggi 80 – 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Baca: Aceh Tertinggi Jumlah Titik Panas di Indonesia

Alasan bahwa Karhutla di Aceh tidak sedang baik-baik saja – mengingat data terbaru yang dirilis KLHK semuanya dalam kategori ‘sedang’. Artinya kategori ini dengan tingkat kepercayaan mencapai 79 persen – ditemukan ‘benang merah’ Aceh termasuk zona berbahaya bencana Karhutla pada 2024 ini.

Baca Juga: Aceh Tenggara Kabupaten Tertinggi Terdeteksi Titik Panas

Ada yang lebih menarik lagi bila diteliti lebih dalam – dimana jumlah Karhutla berdasarkan data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) terus menurun sejak 2019-2023, kalau pun mengalami kenaikan masih lebih rendah dibandingkan beberapa kejadian tahun sebelumnya.

Turunnya jumlah kejadian bukan berarti kondisi Karhutla di Aceh membaik. Secara kuantitas jumlah kejadian boleh berbangga karena turun 64,09 persen pada 2019 dan 2022, lalu naik tipis  pada 2023 sebesar 7,06 persen. Secara umum menunjukkan masih relatif rendah bila dibandingkan kejadian pada 2019 lalu.

Yang mengkhawatirkan adalah dampaknya, ternyata data menunjukkan  luasan Karhutla justru cukup parah, terjadi disparitas angka yang sangat timpang dibandingkan dengan data jumlah kejadian Karhutla.

Fenomena ini sudah terjadi sejak 2020 lalu, jumlah kejadian memang menurun, tetapi luasannya meningkat. Hal yang sama terjadi juga pada tahun-tahun berikutnya, kejadiannya terus turun namun luas kebakarannya mengalami peningkatan.

Puncaknya terlihat jelas pada 2022 hanya 79 kali Karhutla, namun luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 3.716 hekar. Ini menunjukkan bahwa jumlah kejadian yang turun di Aceh, bukan berarti dampak kebakarannya juga ikut turun. Justru secara kuantitas turun, namun luasan meningkat tajam yang membuat Karhutla di Tanah Iskandar Muda dalam kondisi kurang baik.

“Ini ancaman nyata, pemerintah Aceh tidak boleh lengah, karena bukan hanya Karhutla saja, kekeringan hingga krisis air dan juga banjir akibat anomali cuaca perlu diwaspadai,” kata Ahmad Shalihin, Rabu (26/7/2023) melalui pers rilis diterima digdata.id.

Menurut Om Sol, sapaan akrab Ahmad Shalihin menyebutkan, bila pemerintah Aceh lengah dan tidak memiliki strategi yang terintegrasi dalam mengatasi hal ini. Maka dikhawatirkan akan berdampak pada kekeringan hingga krisis air, baik untuk dikonsumsi maupun lahan pertanian dan perkebunan.

Bila ini terjadi, dampak jangka panjangnya adalah produktivitas pangan atau berdampak pada ketahanan pangan. Karena sangat berpotensi banyak gagal panen karena krisis air atau kekeringan.

“Ancaman kelaparan juga bisa terjadi, tentu ini cukup berbahaya bila tidak segera dicari solusi, terutama terkait dengan Karhutla,” tambahnya.

Mempercepat Krisis Iklim

Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Prof.Dr. HA. Sudibyakto, M.S., mengatakan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menjadi ancaman besar bagi Indonesia. Selain merusak ekosistem lahan tropika  basah, kebakaran hutan dan lahan akan mempercepat proses perubahan iklim.

Hal yang mengkhawatirkan, laju Karhutla dan emisi sangat berhubungan erat mengalami peningkatan. Bila kebakaran terus terjadi tanpa ada upaya penanggulangan, emisi gas rumah kaca yang berdampak perubahan iklim semakin masif terjadi yang berakibat fatal terhadap kehidupan manusia.

Argumentasi yang disampaikan oleh Prof Sudibyakto – bahwa Karhutla sangat erat hubungannya dengan peningkatan emisi. Digdata.id mencoba untuk membuktikan argumentasi dengan menghitung pendekatan  rumus koefisien korelasi pada 2023, sebagai dampak Karhutla berhubungan erat terjadi peningkatan emisi.

Semakin luas yang terbakar, maka semakin tinggi pula emisi dikeluarkan. Hal ini bisa dilihat Karhutla yang terjadi pada 2022 tertinggi selama 5 tahun terakhir – emisi ikut membengkak mencapai 1.013.561 ton CO2e.

Untuk memastikan bahwa kajian antara Karhutla berbanding lurus peningkatan akumulasi karbon dioksida. Digdata.id menyajikan analisis menggunakan rumus koefisien korelasi. Ini untuk membuktikan secara ilmiah bahwa setiap jengkal kejadian kebakaran, khususnya Karhutla berdampak buruk terhadap peningkatan emisi.

Berdasarkan analisis koefisien korelasi dari data yang disajikan secara terbuka oleh KLHK, digdata.id menemukan ada hubungan sangat erat antara kejadian Karhutla dengan peningkatan emisi yang berdampak serius terhadap krisis iklim dunia.

Digdata.id mengambil sampel selama 5 tahun terakhir, yaitu dari 2019 sampai dengan 2023. Temuan dari hasil penghitungan dengan menggunakan rumus koefisien korelasi, Karhutla dan Emisi ditemukan nilai korelasinya sebesar 0,92 dan bila dibulatkan sangat berkorelasi karena sangat mendekati nilai 1,00.

Kriteria korelasi, jika nilainya mendekati ‘1’, berarti Variabel X, dan, Variabel Y memiliki korelasi erat atau kuat dan saling berhubungan. Dengan demikian, luas Karhutla di Aceh pada 2019-2023 berhubungan erat dengan peningkatan akumulasi emisi karbon dioksida dalam lima tahun terakhir.

Interval Koefisien

Keeratan Korelasi

0,00-0,20

Sangat Lemah

0,21-0,40

Lemah

0,41-0,70

Moderat/Sedang

0,71-0,90

Kuat

0,91-0,99

Sangat Kuat

1

Korelasi Sempurna

Bila dilihat dari interval di atas, jelas menunjukkan bahwa korelasinya berada pada angka 0,92 dan keeratan korelasinya adalah Sangat Kuat. Ini merupakan fakta bahwa Karhutla berdampak serius terhadap krisis iklim dunia yang harus diwaspadai, bukan hanya Pemerintah Aceh juga Indonesia pada umumnya dan juga warga dunia. Apa lagi dampak buruk dari krisis iklim akan dirasakan oleh seluruh warga dunia.

WALHI Aceh telah mengingatkan jauh hari kepada pemerintah Aceh agar tidak lengah dan harus memiliki strategi yang terintegrasi dalam mengatasi hal ini. Bila terus dibiarkan, sebut Om Sol, maka dikhawatirkan akan berdampak pada kekeringan hingga krisis air, baik untuk dikonsumsi maupun lahan pertanian dan perkebunan.

Bila ini terjadi, dampak jangka panjang, sebutnya,  produktivitas pangan atau berdampak pada ketahanan pangan. Karena sangat berpotensi banyak gagal panen karena krisis air atau kekeringan karena perubahan iklim, ditambah lagi peringatan dampak dari El Nino.

Selain intervensi dari pemerintah dalam penanggulangan Karhutla, masyarakat sekitar hutan perlu dilibatkan secara langsung dan lebih proaktif dalam berbagai kegiatan mitigasi kebakaran hutan dan lahan. Langkah tersebut dilakukan dengan adanya fasilitasi dalam bentuk desa tangguh bencana secara berkesinambungan menuju pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat.

Karena ancaman kelaparan juga bisa terjadi akibat terjadinya perubahan iklim. Setidaknya menekan angka Karhutla dapat mengurangi resiko krisis iklim. “Tentu ini cukup berbahaya bila tidak segera dicari solusi, terutama terkait dengan Karhutla,” tutup Om Sol.[]

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

Berita Terbaru

Newsletter

Subscribe to stay updated.