Junta militer Myanmar mengumumkan gencatan senjata sementara mulai Rabu (2/4/2025) hingga 22 April mendatang. Keputusan ini diambil seiring meningkatnya jumlah korban jiwa akibat gempa bumi besar yang melanda negara itu pekan lalu. Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3/2025), meratakan bangunan di sejumlah wilayah dan menyebabkan hampir 3.000 orang tewas. Ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.
Dalam pernyataannya, pemerintah militer menyatakan bahwa langkah gencatan senjata bertujuan untuk mempercepat distribusi bantuan kemanusiaan dan upaya rekonstruksi. “Gencatan senjata ini bertujuan untuk mempercepat upaya bantuan dan rekonstruksi, serta menjaga perdamaian dan stabilitas,” tulis pihak junta.
Kebijakan tersebut diambil setelah kelompok-kelompok bersenjata yang selama empat tahun terakhir terlibat dalam perang saudara juga menyatakan komitmen serupa.
Namun, junta tetap memberikan peringatan kepada lawan-lawan politik dan kelompok bersenjata pro-demokrasi serta etnis minoritas. Mereka akan tetap merespons jika terjadi serangan, sabotase, atau aktivitas lain yang dianggap mengganggu stabilitas, termasuk “pengumpulan, pengorganisasian, dan perluasan wilayah yang akan merusak perdamaian,” sebut junta dalam pernyataan tertulis.
Sementara itu, kondisi di lapangan masih penuh kepanikan. Wartawan AFP melaporkan suasana kacau di Sagaing, wilayah yang paling dekat dengan episentrum gempa. Ratusan warga terlihat berebut bantuan. Beberapa di antaranya berlarian ke jalan untuk mengantre. Para relawan membagikan air bersih, beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya kepada warga. Salah satu korban, Cho Cho Mar (35), mengaku belum pernah mengalami antrean bantuan seperti itu.
“Saya belum pernah mengantre makanan seperti ini sebelumnya. Saya tidak bisa mengungkapkan betapa khawatirnya saya. Saya tidak tahu harus berkata apa,” ujarnya sambil menggendong bayi dan menggenggam bungkus kopi instan serta obat nyamuk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa rata-rata satu dari tiga rumah di kota tersebut ambruk akibat gempa. Lima hari pascabencana, keluhan warga terkait minimnya bantuan terus bermunculan. Aye Thi Kar (63), kepala sekolah untuk biarawati muda, mengatakan bahwa kebutuhan pangan sangat mendesak. Namun, menurut dia, kebutuhan akan tempat berteduh lebih penting, terutama di tengah suhu panas yang ekstrem.
Banyak warga masih tidur di jalan karena takut gempa susulan dan bangunan yang tidak aman. Fasilitas kesehatan yang rusak dan berkapasitas terbatas pun kewalahan menghadapi lonjakan pasien. WHO melaporkan bahwa persediaan makanan, air bersih, dan obat-obatan semakin menipis. Meski harapan untuk menemukan korban selamat terus menurun, pada Rabu sempat terjadi momen haru. Dua pria berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup dari reruntuhan hotel di ibu Kota Naypyidaw. (Yan)
Sumber : Kompas.com