BeritaHeadline

Tolak Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, API: Penghargaan Itu Luka Baru bagi Korban

Share
Ilustrasi dari AI
Share

Aliansi Perempuan Indonesia (API) menolak tegas rencana pemerintah untuk menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto. Dalam pernyataannya, API menyebut langkah rezim Prabowo – Gibran ini sebagai bentuk penghinaan terhadap seluruh korban kekuasaan Orde Baru dan pengingkaran terhadap sejarah kelam pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.

“Pengabaian sejarah pelanggaran berat HAM tak lebih dari upaya membungkam korban agar kasus-kasusnya tak pernah terungkap,” ujar Yolanda Panjaitan dari Cakra Wikara Indonesia, Minggu, (2/11/2025) melalui siaran pers.

Ia menilai, pemberian gelar tersebut adalah strategi politik untuk menekan ingatan kolektif bangsa terhadap realitas kekerasan masa lalu.

Diyah WR dari Perkumpulan Kecapi Batara Indonesia menambahkan bahwa kebijakan itu melanjutkan penyangkalan negara terhadap diskriminasi etnis Tionghoa. “Kami tidak pernah diperhitungkan sebagai warga negara. Banyak kasus kekerasan terhadap masyarakat Tionghoa tak pernah diusut,” katanya.

API menegaskan bahwa Soeharto bukan simbol perjuangan bangsa, melainkan simbol represi, kekerasan, dan pembungkaman politik. Di bawah kekuasaannya selama lebih dari tiga dekade, berbagai pelanggaran HAM berat terjadi, mulai dari pembunuhan massal pasca-1965, penculikan aktivis 1997–1998, hingga kekerasan di Timor Timur, Aceh, dan Papua.

Luviana dari konde.co menyoroti bagaimana Soeharto merusak independensi media. “Ia membangun sejarah buruk media Indonesia, membungkam jurnalis dan menyingkirkan keberpihakan pada publik,” ujarnya.

Sementara itu, Dian Septi dari Marsinah.ID menyebut penyandingan nama Soeharto dengan Marsinah sebagai penghinaan terhadap korban. “Memberi gelar pahlawan kepada Soeharto berarti menutup mata terhadap darah dan air mata korban,” tegasnya.

API juga menyoroti kekerasan sistematis terhadap perempuan di masa Orde Baru, termasuk pembunuhan Marsinah, pemerkosaan massal 1998 terhadap perempuan Tionghoa, dan ideologi “ibuisme” yang mengekang peran perempuan di ranah domestik.

“Orde Baru membungkam gerakan perempuan dan menjadikan tubuh perempuan alat kontrol kekuasaan,” kata Mutiara Ika Pratiwi dari Perempuan Mahardhika.

Dalam pernyataannya, API menyerukan tiga hal: menolak Soeharto sebagai Pahlawan Nasional, menuntut negara menuntaskan kasus pelanggaran HAM masa Orde Baru, dan mendesak pemerintah menghormati ingatan sejarah korban.

“Bangsa ini tidak akan benar-benar merdeka bila pelaku kekerasan dimuliakan dan korban terus dilupakan,” tutup pernyataan API.[acl/ai/rilis]

Share
Related Articles
TKS IT Bazla Aceh Utara Jalani Akreditasi Perdana, Tim BAN-PDM Lakukan Penilaian Langsung
Berita

TKS IT Bazla Aceh Utara Jalani Akreditasi Perdana, Tim BAN-PDM Lakukan Penilaian Langsung

Aceh Utara — Suasana khidmat menyelimuti kompleks Taman Kanak-Kanak Swasta Islam Terpadu (TKS...

BeritaHeadlineJurnalisme Data

WALHI: Karhutla Akumulasi Kejahatan Negara dan Korporasi

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Aceh melonjak tajam dalam dua tahun...

BeritaNews

Cek Kesehatan Geratis, Cara Baru Masyarakat Serambi Mekkah Menjemput Sehat

Jarum jam menunjukan pukul 7.30 WIB, matahari pagi ini terlihat cerah, uapnya...

BeritaHeadlineKawasan Ekosistem Leuser

Makwod dan Perjuangan Perempuan Beutong Menjaga Tanah Leluhur

Terik matahari siang itu tidak menyurutkan langkah Saudah alias Makwod (49) berkeliling...