BeritaHeadline

UGM Kritik Peringatan Hari Kartini Jangan Hanya Formalitas Belaka

Share
Share

Pusat Studi Wanita Universitas Gadjah Mada (UGM) mengkritik pelaksanaan peringatan Hari Kartini selama ini hanya bersifat formalitas belaka. Seharusnya peringatan itu harus dijadikan teladan dan hari libur bukanlah menjadi refleksi keteladanan perjuangan Kartini.

Kepala Pusat Studi Wanita UGM, Dr. Widya Nayati, M.A., mengatakan Hari Kartini seharusnya tidak diisi dengan aktivitas yang hanya bersifat formalitas. Hari Kartini memiliki makna yang mendalam dan menjadi momen refleksi bagi warga Indonesia.

“Sering kali saat peringatan hari besar hanya sekadar upacara tapi tidak masuk hati. Sekadar hari libur bukan menjadi refleksi yang menjadikan kita lebih hebat,” ucapnya, Kamis (22/04/2022) dikutip dari situs resmi UGM.

Ia mencontohkan peringatan Hari Pahlawan yang seharusnya menjadi momen untuk mengingat para pahlawan serta teladan kepahlawanan mereka. Pemahaman inilah yang memberi pendorong atau inspirasi, terutama dalam hal bela negara.

Gelar pahlawan nasional yang diberikan pemerintah, menurutnya, juga seharusnya mendorong masyarakat melihat tindakan-tindakan inspiratif yang dapat diteladani di masa sekarang dan masa yang akan datang.

“Poinnya bagaimana kita belajar dari mereka, menginspirasi kita menjadi manusia Indonesia yang lebih baik,” kata Widya.

Dengan Hari Kartini sendiri, menurutnya banyak orang mengetahui sekilas tentang sosok R.A Kartini serta kalimatnya yang terkenal “habis gelap terbitlah terang”. Meski demikian profil, capaian, serta catatan sejarah tentangnya belum terlalu banyak digali.

“Kita harus membuka seperti apa beliau dan apa yang dilakukan menjadi suatu pembelajaran untuk ke depan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, Kartini menjadi teladan seorang insan muda yang tekun mencari ilmu dan membagikannya bagi banyak orang, memanfaatkan kesempatan yang ia miliki untuk belajar dan berdiskusi bagi kepentingan dan kemajuan banyak orang.

Teladan ini menurutnya perlu ditiru oleh banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan, baik anak muda maupun orang tua.

“Bayangkan pada abad itu dengan keterbatasan yang ada beliau mampu belajar banyak dan mau melakukan sesuatu tidak hanya untuk dia sendiri tetapi juga untuk teman-temannya. Tapi sekarang banyak orang egois hanya mencari ilmu untuk dirinya sendiri,” ucapnya.

Agar teladan Kartini serta para pahlawan negara dapat terus dilestarikan, menurutnya diperlukan lebih banyak penelitian yang menggali catatan-catatan sejarah dan membuatnya tersedia bagi banyak orang.

Peringatan Hari Kartini yang umum dilakukan seperti mengenakan busana daerah tidak ada artinya jika tidak diikuti dengan penghayatan yang benar.

Pemahaman akan keteladanan para pendahulu yang disertai dengan refleksi secara pribadi, menurutnya, akan menimbulkan kesadaran serta dorongan untuk ikut berperan menjadi Kartini masa kini, yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi-generasi yang akan datang.

“Jadi bukan lagi apa kata orang, tapi itu sungguh-sungguh masuk ke dalam hati kita,” kata Widya.[acl]

Share
Related Articles
Kabut Asap Pekat, 27 Sekolah di Samarinda Terapkan PJJ Akibat Karhutla
Berita

Kabut Asap Pekat, 27 Sekolah di Samarinda Terapkan PJJ Akibat Karhutla

SAMARINDA – Kabut asap Samarinda akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memaksa...

Ekspor Benih Lobster Dilarang Permanen, Ini Alasannya
Berita

Pemerintah Resmi Larang Ekspor Benih Lobster Selamanya, Trenggono: Fokus Budidaya Dalam Negeri

JAKARTA – Pemerintah Indonesia resmi menghentikan ekspor benih bening lobster (BBL) atau...

Malaysia Bantu Pemadaman Karhutla, Tunggu Respons RI
Berita

Malaysia Tunggu Respons RI soal Bantuan Karhutla, Wakil PM Zahid Hamidi: Kami Tetap Berprasangka Baik

JAKARTA – Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi menyatakan negaranya masih...

11 Kota di Dunia Terancam Tenggelam, Termasuk Jakarta
Berita

11 Kota di Dunia Terancam Tenggelam, Jakarta Masuk Daftar dengan Penurunan Tanah hingga 17 Cm per Tahun

Jakarta – Sebanyak 11 kota di dunia terancam tenggelam akibat kenaikan permukaan...