Home Berita Ferry Efendi : Mengabadikan Api Konflik di Tengah Peluru dan Fakta
BeritaHeadline

Ferry Efendi : Mengabadikan Api Konflik di Tengah Peluru dan Fakta

Share
Ferry Efendi mantan Kameramen Liputan 6 SCTV
Share

Usianya memang sudah tak muda lagi, bahkan langkahnya saat ini sudah tak segesit dulu saat masih menjadi jurnalis pada masa konflik Aceh. hampir seluruh pelosok di Aceh ia susuri dengan memanggul kamera yang ukuran dan beratnya lumayan menguras energi. Kamera miliknya kini menjadi saksi bisu dari denyut tragedi yang jarang terlihat oleh publik luas.

Ia adalah Ferry Efendi, lelaki berdarah melayu yang selalu mengabadikan setiap momen dan peristiwa yang terjadi pada masa konflik Aceh. Kecintaannya terhadap Profesi jurnalis membuat ia terus bertahan meski ancaman kematian selalu mengintainya. Ia merasa punya tanggung jawab moral untuk menyuarakan bagaimana kondisi masyarakat Aceh yang hidup ditengah konflik bersenjata antara GAM dan Pemerintah RI.

“Jurnalis saat itu ibarat fasilitator antara masyarakat yang hidup di daerah konflik dengan dunia luar, meski resikonya kematian, karena peluru itu tidak punya mata dan tidak punya nama jika sudah tertembak maka tidak bisa dibelokan lagi”ucap Efendi saat ditanya apa alasan ia bertahan menjadi jurnalis saat itu.

Tak terhitung sudah berapa banyak peristiwa yang berhasil ia dokumentasikan. Mulai dari pengepungan sebuah rumah di kawasan Lambhuk, Banda Aceh, yang saat itu ramai diberitakan sebagai markas gerilyawan, hingga kontak senjata yang menegangkan di camp pengungsian Kota Fajar, Aceh Selatan, di masa kehadiran Joint Security Committee (JSC) menjelang perdamaian.

Efendi juga mengabadikan tragedi pengepungan tokoh militer GAM, Abdullah Syafi’i, di desa Jimjim, Kabupaten Pidie, yang menjadi babak penting dalam fase akhir perlawanan bersenjata di Aceh.

“ Saya hanya berpikir, kalau saya tidak merekam ini, siapa lagi? ini sejarah,” ujar Efendi saat di wawancara media ini dalam mengenang dua puluh tahun perdamaian Aceh.

Mantan kameramen Liputan 6 SCTV ini mulai meliput di Aceh sejak tahun 1994 saat masih bertugas di RCTI.  Ia masuk ke Aceh bersama Asnawi Kumar.  Pada 1997 hingga Desember 2004 ia bertugas di SCTV sebagai kameramen Liputan 6.

Jurnalis yang meliput saat konflik Aceh./Foto:Ist

Perjuangan Efendi dan teman-teman jurnalis saat itu tak semudah sekarang,  dimana semua teknologi tersedia dan mudah dijangkau, sedangkan pada  masa konflik mereka juga harus berjuang dengan waktu supaya hasil liputan bisa sampai kemeja redaksi di Jakarta untuk ditayangkan hari itu juga.

“ Kita saat itu bekerja di bawah ancaman keamanan dan keterbatasan alat komunikasi, tidak semua wilayah memiliki jaringan telepon sehingga hasil rekaman berupa kaset video dikemas rapi dan dikirimkan ke Redaksi di Jakarta melalui kargo bandara. Semua dilakukan secara manual, tanpa satelit, tanpa internet, tanpa pengiriman digital. Hanya tekad dan rasa tanggung jawab terhadap fakta”Cerita Fery Efendi

Bahkan ia pernah menitip kaset video liputannya kepada Panglima Kodam Iskanda Muda, Endang Suwarya, Kapolda dan Sejumlah Pejabat Aceh yang berangkat ke Jakarta agar hasil liputannya bisa cepat sampai, tidak tercecer di kargo bandara.  kaset-kaset tersebut nantinya akan dijemput langsung oleh kantor.

Untuk bisa mengirimkan hasil liputannya teman-teman jurnalis itu sudah mengantongi jadwal keberangkatan pesawat dari bandara Sultan Iskandar Muda yang saat itu hanya ada satu kali penerbangan saja, sehingga dua jam sebelumnya mereka sudah harus stanbay di bandara untuk melihat siapa pejabat yang berangkat dan bisa dititipkan video hasil liputan.

“Untuk tayang satu berita itu, banyak tahapan yang harus dilewati, dan kita harus punya managemen waktu yang baik. Karena setiap liputan harus di prediksikan waktunya agar sesuai dengan waktu keberangkatan pesawat supaya kasetnya bisa dikirim keredaksi”Kenang Kameramen SCTV tersebut.

Bahkan uniknya lagi, Efendi dan teman-teman jurnalis televise, harus mengakali kaset video yang mereka punya dengan cara memotong pitanya dan menggunakan kembali kaset-kaset yang pernah dipakai jika kiriman kaset dari Jakarta belum sampai.

Fery Efendi tak hanya lihai mengabadikan dan mengemas cerita konflik tapi ia juga mampu mengabadikan momen-momen harapan, kebahagian, terutama saat proses perdamaian mulai terjalin. Salah satu momen bersejarah yang terekam kameranya adalah pemusnahan senjata eks kombatan GAM yang dilakukan di berbagai daerah, sebagai simbol konkret berakhirnya konflik bersenjata dan dimulainya proses damai setelah penandatanganan MoU Helsinki pada tahun 2005.

Hampir satu dekade Ferry Effendy merekam semua peristiwa yang terjadi di Aceh ditengah desingan suara tembakan dan kepulan asap saat konflik berkepanjangan. Ia tak hanya menjadi jurnalis visual, tetapi juga saksi sejarah yang mencatat langsung dinamika konflik Aceh dari dekat.  Rekaman-rekamannya kini menjadi arsip berharga, bukan hanya bagi SCTV, tetapi juga bagi bangsa ini dalam memahami luka dan upaya penyembuhan di Aceh.

kisah perjuangan Ferry Effendy dan teman-teman jurnalis saat itu mengingatkan kita bahwa di balik setiap tayangan berita, ada kerja keras, air mata, risiko nyawa, dan semangat jurnalistik yang tulus untuk menyuarakan kebenaran.

Share
Related Articles
Dua Gempa Dahsyat Magnitudo 7,2 dan 7,5 Guncang Venezuela, 164 Orang Tewas
Berita

Dua Gempa Dahsyat Magnitudo 7,2 dan 7,5 Guncang Venezuela, 164 Orang Tewas

CARACAS – Dua gempa dahsyat beruntun mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) sore...

BeritaHeadline

Tolak Aktivitas Pertambangan, Masyarakat Beutong Duduki Kantor Bupati Nagan Raya

Ratusan Masyarakat Beutong Ateuh Banggala bersama aliansi mahasiswa dari Banda Aceh, Aceh...

BeritaHeadline

Masyarakat Beutong Datang, Bupati TRK Tingalkan Nagan Raya

Aksi demontrasi ratusan masyarakat Beutong dan Mahasiswa di Kantor Bupati Nagan Raya...

BeritaHeadline

Jemaah Haji Asal Aceh Meninggal di Tanah Suci Mekkah Jadi 14 Orang

Memasuki jadwal kepulangan jemaah haji asal Aceh ke tanah air sejak 15 ...