Efek Domino Subsidi BBM Dikurangi, Inflasi Aceh Diperkirakan Naik 7 Persen

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite, pertamax dan solar  sebesar 30 persen telah menciptakan efek domino  kenaikan harga sejumlah sektor ekonomi penting, sehingga bisa membebani masyarakat secara langsung. Terutama  pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan tarif transportasi.

Kepala BI Perwakilan Aceh, Achris Sarwani mengatakan, dampaknya diperkirakan laju inflasi di Aceh akhir 2022 mencapai 7 persen. Proyeksi tersebut lebih tinggi dari sebelum kenaikan harga BBM yang sekitar 6,03 persen.

“Dengan kenaikan harga BBM tersebut, arah inflasi diperkirakan kembali meningkat pada bulan September 2022. Andil inflasi pada komoditas bensin sendiri diperkirakan pada kisaran 0,35 persen,” kata Achris Sarwani Kamis (8/9/2022) dikutip dari infopublik.id.

Menurutnya, pasca terjadinya deflasi pada bulan Agustus 2022, Pemerintah kemudian melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada 3 September 2022. BBM yang dilakukan penyesuaian harga adalah jenis pertalite menjadi Rp 10 ribu, pertamax Rp 14.500, dan solar menjadi Rp 6.800 per liter. 

“Ketiga jenis tersebut merupakan BBM yang paling banyak digunakan oleh masyarakat.” tegasnya.

Petugas sedang mengisi minyak sesaat sebelum pengumuman kenaikan BBM. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Katanya, kenaikan harga BBM terpaksa dilakukan pemerintah setelah kenaikan harga minyak dunia yang cukup signifikan pada tahun ini, dengan harga rata-rata sebesar US$ 99.99 untuk tahun 2022.

Sedangkan, keseluruhan tahun 2021 hanya mencatatkan rata-rata harga minyak sebesar US$ 67.96. Telah terjadi kenaikan harga minyak dunia sebesar 47,13% yang memberikan beban tambahan pada anggaran subsidi. 

“Dengan kenaikan harga BBM tersebut, arah inflasi diperkirakan kembali meningkat pada bulan September 2022. Andil inflasi pada komoditas bensin sendiri diperkirakan pada kisaran 0,35%,” ungkapnya.

Menurut Achris, proyeksi tersebut merupakan dampak langsung dari kenaikan harga BBM yang biasa disebut first round effect.

Meskipun demikian, dampak kenaikan harga BBM masih dapat berlanjut melalui kenaikan harga barang/jasa lainnya melalui second round effect, termasuk tekanan harga pada komoditas pangan.

Tekanan inflasi tidak hanya bersumber dari kenaikan harga BBM. Tapi juga berasal dari kenaikan harga pangan. Oleh karena itu, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Kabupaten/Kota se-Aceh akan mengendalikan dampak dari kenaikan harga BBM tersebut.

Masyarakat antri membeli bahan pangan di pasar murah. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.ID

Dalam rangka stabilisasi pasokan dan harga pangan serta pengendalian inflasi Aceh.  Dinas Pangan Aceh telah  menggelar bazar pangan murah di Pasar Newton Gampong Lamdom (di depan terminal tipe A Batoh), kota Banda Aceh, Senin (12/9/2022)..

Saat ini Aceh menjadi daerah dengan predikat ke enam di seluruh Indonesia yang mengalami inflasi, membuat banyak masyarakat yang terpuruk menghadapi era baru setelah pandemi Covid-19.

Kepala Bidang Distribusi Pangan, Dinas Pangan Aceh, Surya Rayendra mengatakan, kegiatan bazar pangan murah ini dibuat untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam hal pangan dan untuk mengendalikan inflasi daerah.

“Ada 1.800 paket bahan pokok yang kami distribusikan di bazar ini namun tidak dijual perpaket, tapi sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Surya.

Sedikitnya, kata Surya, ada enam macam bahan pokok utama seperti minyak goreng, cabai merah, bawang merah, beras, telur, dan gula yang dijual dengan harga subsidi.

“Harga telur per papan Rp42 ribu, bawang merah Rp 25 ribu per kg, minyak goreng Rp24 ribu per dua liter, cabai merah Rp50 ribu per kg, beras Rp 45 ribu per lima kg dan gula Rp11 ribu per kg,” terangnya.

Ia mengungkapkan jika dilihat secara umum inflasi terjadi karena efek dari kenaikan BBM, sebab biaya transport naik sehingga barang pokok juga merangkak naik. Sehingga untuk menekan harga barang pokok perlu disubsidi dengan tujuan untuk menekan harga supaya mudah diperoleh masyarakat.

Pasar Murah Untuk Tekan Inflasi Di Aceh
Masyarakat antri membeli bahan pangan di pasar murah. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.ID

Lanjutnya, Pj Gubernur Aceh menginstruksikan agar ada kebijakan pengendalian inflasi. Salah satunya dengan kegiatan seperti bazar pangan murah, untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan-bahan pangan yang merupakan kebutuhan sehari-hari.

“Itu memang salah satu tujuannya supaya inflasi di Aceh bisa membantu diturunkan dan juga masyarakat memperoleh kebutuhannya dengan harga terjangkau,” terangnya.

Selain bazar, lanjutnya, untuk menekan inflasi pihaknya juga pemantauan harga di sejumlah pasar di Aceh. Jika ada yang mengalami peningkatan harga pihaknya akan memberikan subsidi transport. 

“Kita ada juga subsidi biaya transport untuk membantu mobilisasi biaya pangan,” ucapnya.

Surya menyebutkan seperti halnya di Simeulue akan dibantu biaya transportasinya, sehingga biaya dibeli dan harga jual di daerah tersebut sama. Selain itu, melihat animo masyarakat kegiatan ini akan terus dilakukan sampai akhir tahun di lokasi yang berbeda.

“Kegiatan ini memang biasanya di hari besar Islam, namun melihat inflasi yang terjadi kemungkinan akan terus dilaksanakan,” jelasnya.

Pasar murah diadakan untuk menahan laju kenaikan inflasi akibat kenaikan BBM. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.ID

Dampak yang pengurangan subsidi BBM sekarang selain berpotensi laju inflasi meningkat akhir 2022 yang berdampak terhadap daya beli masyarakat. Efek domino harga BBM naik mulai dirasakan langsung oleh pengusaha tahu di Banda Aceh.

Seorang pengusaha tahu Timbul Jata di kawasan Geuceu Kayee Jatho, Banda Aceh, Maulizar mengaku sangat merasakan dampak dengan kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah pusat di awal September 2022.

Semua harga bahan baku pembuatan tahu naik drastis, terutama kacang kedelai, yang sebelumnya harga Rp 11.200/ kg kini naik menjadi Rp 13.000/kg. “Harga tersebut juga kemungkinan akan terus naik,” kata Maulizar.

Nah, yang terjadi kemudian Maulizar terpaksa ikut menaikkan harga jual tahu sebelumnya hanya Rp 45 ribu per papan menjadi Rp 48 ribu, harus dinaikkan sebesar Rp 3 ribu guna menyesuaikan dengan harga bahan baku yang meroket.

Produsen tahu terpaksa mengecilkan ukuran tahu, akibat dampak kenaikan harga BBM yang menaikkan harga bahan baku kedelai. Poto: Fitri/Digdata.id

Tak hanya itu, Maulizar juga harus mensiasati agar tidak mengalami kerugian dengan mengurangi ketebalannya. 

Namun persoalannya tidak selesai dengan siasat yang dilakukan Maulizar. Kondisi perekonomian yang merosot akibat efek naiknya harga BBM, daya beli masyarakat juga ikut menurun.

Ia mencontohkan, biasanya pedagang bakso eceran membeli tahu 3-5 papan per hari, sekarang mereka menurunkan kuantitasnya menjadi 1-2 papan saja.

Inilah yang disebut dengan efek domino pengurangan subsidi BBM yang berdampak serius terhadap daya beli masyarakat. Sehingga Kepala BI Aceh memprediksikan bakal terjadi kenaikan laju inflasi akhir 2022 menjadi 7 persen.

Kendati di tengah kondisi perekonomian yang tak menentukan, akibat daya beli masyarakat menurun. Maulizar mengaku tetap tak patah arang. Ia tetap mempekerjakan 7 orang karyawannya, meskipun 50 persen produksi tahu miliknya menurun dibandingkan sebelumnya.

“Produksi tahu sebelumnya itu 500-600 kg/ hari, sekarang hanya 300 kg/ hari,” jelasnya.

Produsen tahu terpaksa mengecilkan ukuran tahu, akibat dampak kenaikan harga BBM yang menaikkan harga bahan baku kedelai. Poto: Fitri/Digdata.id

Turunnya jumlah produksi, sebutnya, akibat permintaan pasar yang merosot pasca harga BBM naik. Ia meminta kepada pemerintah agar segera memberikan subsidi untuk komoditas kedelai agar pengusaha tahu tidak sampai gulung tikar.

Sementara itu Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada, Dr. Ir. Dewanti, MS, mengatakan kenaikan tarif angkutan umum dan transportasi daring akan memberikan dampak bagi penurunan jumlah penumpang namun hal itu tidak hanya berlangsung sesaat.

“Biasanya masyarakat akan mengurangi kegiatan perjalanan dengan kenaikan tarif. Tapi bagi yang membutuhkan perjalanan, hal itu tidak menjadi masalah karena menjadi kebutuhan mereka untuk kelancaran aktivitas pekerjaannya,” katanya, Selasa (14/9/2022) dikutip dari ugm.ac.id.

Seperti diketahui, beberapa daerah telah menaikkan tarif angkutan umum guna menyesuaikan kenaikan harga BBM. Namun, ada juga beberapa daerah yang tidak melakukan kenaikan tarif seperti Trans Jogja DIY.

 “Di DIY tarif tidak dinaikkan, namun layanan dikurangi seperti jarak waktu antar kedatangan bisa di halte agar kenaikan BBM tidak berdampak begitu besar,” ujarnya.

Petugas mengisi minyak bagi konsumen. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.id

Dewanti juga mengapresiasi kebijakan pemerintah Provinsi DKI yang memberikan subsidi yang cukup besar bagi Transjakarta agar tidak mengalami kenaikan tarif. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh DKI tidak semua daerah bisa melakukan hal yang sama karena terbatasnya anggaran. 

“Tergantung kemampuan keuangan daerah untuk bisa memberikan subsidi angkutan umum agar tarif tidak naik,” katanya.

Kenaikan tarif BBM sekarang ini tidak hanya dirasakan oleh angkutan umum saja, namun juga pengelola angkutan daring juga melakukan penyesuaian kenaikan tarif untuk membantu terjaganya pendapatan mitra pengemudi.[]

Baca Liputan Khusus Digdata.id di magazine.digdata.id

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

Berita Terbaru

Newsletter

Subscribe to stay updated.