Kasus Kanker Payudara dan Serviks Terbanyak di Indonesia

Tahun 2020 dari Data Global Cancer Statistics, di Indonesia terdapat 396.914 kasus baru kanker dengan 234.511 kematian. Dan jumlah kasus baru kanker diperkirakan akan mencapai 489.800 kasus pada 2030.

Namun dari data 2020 tersebut Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat ada dua kasus kanker paling banyak di Indonesia yaitu kanker payudara sebanyak 65.858 kasus dan kanker serviks sebanyak 36,633 kasus.

Dokter ahli kanker serviks RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh dr Munizar SpOG mengatakan dari berbagai jenis kanker, baru kanker serviks, yang sudah diketahui penyebabnya, yaitu Human Papilloma Virus (HPV).

sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencanangkan eliminasi kanker serviks pada 2030.

“Jadi virus ini sudah diketahui, dan sudah diketahui cara pencegahannya, tapi sampai sekarang kanker serviks masih menjadi momok yang menakutkan dan kasusnya paling tinggi”Jelasnya.

Di Aceh, kata dia, saat ini masyarakat masih malu menyampaikan kalau dirinya menderita kanker serviks. Padahal penyakit ini mematikan ini bisa dicegah dengan cepat dengan tata laksana penanganan.

“Maka kita berharap masyarakat bisa lebih terbuka, apalagi RSUD Zainoel Abidin sudah membuka layanan penyakit kanker. Setiap hari ada kunjungan kanker serviks ke poliklinik,”ujarnya.

Tak hanya itu, Munizar juga meminta masyarakat untuk mendukung program vaksinasi kanker dan deteksi dini melalui pemeriksaan pap smear atau tes IVA. Pemeriksaan itu bisa dimulai pada usia 30 tahun atau sudah aktif secara seksual.

“Kanker serviks salah satu kanker yang sangat bisa dicegah, caranya melalui vaksinasi, pap smear atau tes IVA. Kita sudah mampu tangani kanker serviks, saat ini kita punya tiga ahli kanker kandungan yang siap melalukan tindakan pencegahan maupun tindakan tata laksana pasien kanker,” ujarnya.

Himbauan yang sama juga disampaikan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Banda Aceh, dr. Murthadar yang di temui pada acara car free day minggu (5/2) dalam peringatan hari kanker sedunia, ia meminta masyarakat di Provinsi Aceh untuk lebih aktif melakukan deteksi dini penyakit kanker ke rumah sakit, sebagai upaya pencegahan sekaligus menekan angka kematian akibat penyakit itu.

“Kanker bisa dihindari dengan pola gaya hidup sehat, sekaligus percepatan deteksi dini,”kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Banda Aceh Munthadar.

Ia menjelaskan bahwasannya kanker bukan penyakit menular, namun mematikan. Dalam momentum peringatan Hari Kanker Sedunia 2023, diharapkan semua orang ikut memperhatikan terhadap penanganan penyakit kanker.

Dokter spesialis bedah anak itu mencontohkan kanker pada anak yang ditentukan pada usai triwulan pertama kehamilan, saat proses pembentukan jaringan di embrionik, sehingga ketika ada masalah pada pertumbuhan sel tersebut bisa terjadi keganasan,

“Jadi begitu lahir, tumor sudah ada. Maka para ibu sangat diperlukan untuk menjaga makanan ketika hamil,”ujarnya.

Munthadar juga mengatakan pada peringatan Hari Kanker Sedunia tahun ini mengangkat tema close the care gap. Yaitu sebagai upaya untuk menghilangkan semua hambatan terhadap penanganan penyakit kanker.

“Jadi diharapkan semua orang fokus terhadap penanganan kanker karena kanker ini bukan penyakit menular tetapi terus bertambah hari ke hari dan penyakit yang sangat mematikan,” kata Munthadar.

penyakit kanker bisa dicegah, terutama dengan menggalakkan pola hidup sehat. Selanjutnya, percepatan deteksi dini terhadap kanker, sehingga apabila terkonfirmasi mengidap kanker maka dapat ditangani dengan cepat melalui pengobatan paripurna.

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

Berita Terbaru

Newsletter

Subscribe to stay updated.