Produksi cincau hitam milik Yuk Fa (66) yang telah ada sejak 20 tahun lalu menjadi primadona selama bulan Ramadan, karena banyak sajian minuman berbahan si hitam legam ini untuk menu takjil untuk berbuka puasa.
Tahun kedua menjalani ibadah puasa dalam suasana pandemi, produksi cincau di Banda Aceh milik Juk Fa ternyata masih belum pulih, dampaknya justru lebih parah penurunan produksi dibandingkan tahun pertama dalam pagebluk Covid-19.
Ruangan belakang rumah sederhana ini di Gampong Laksana, Kota Banda Aceh ia jadikan tempat memproduksi olahan cincau, seperti perebusan daun cincau, penyaringan, percampuran bahan hingga pencetakan cincau yang sudah selesai di olah bersama sejumlah pekerja lainnya.
Satu kaleng berukuran 8×8 centimeter cincau hitam dijual dengan harga Rp 25 ribu. Saat kondisi normal sebelum pagebluk Covid-19 permintaan cincau hitam mencapai 1000 kaleng per hari.
Pada tahun pertama pagebluk, produksi Cincau turun drastis – bahkan hanya memproduksi 10 persen dari sebelumnya dampak dari pembatasan saat itu. Kendati bulan Ramadan pertama pandemi mengalami peningkatan – mencapai 500 kaleng lebih perhari.
Namun kondisinya tak berubah lebih baik pada Ramadan kedua pandemi – justru semakin turun permintaan cincau hitam milik Yuk Fa. Ia hanya memproduksi 300-500 kaleng per hari, berbeda puasa 2022 lalu bisa mencapai 500 kaleng lebih memproduksi per hari.
“Saat pandemi jumlah produksi kita hanya 10 persen dari normalnya. Puasa tahun kemarin agak tinggi peminatnya sehingga produksi sedikit meningkat, tapi untuk puasa tahun ini agak sepi, daya beli masyarakat rendah sehingga produksinyapun kita kurangi,” kata Yuk Fa, Senin (27/3/2023).
Menurut Yuk Fa, terjun bebas permintaan cincau pada bulan Ramadan ini karena faktor ekonomi melemah, sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat selama puasa ini. Sehingga ia pun harus menekan biaya produksi dengan mempekerjakan hanya 10 orang dari 20 pekerja sebelumnya.
Sementara itu Institute for Development of Economics and Finance (Indef) juga menyoroti rendahnya daya beli masyarakat pada periode 2022. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu pemicu.
Direktur Program Indef, Esther Sri Astuti melihat porsi secara nominal konsumsi rumah tangga pada kuartal IV/2022 mengalami kenaikan, namun andilnya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 terus menurun.
Menurutnya, penurunan kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi akibat sebagian besar pendapatan masyarakat dibelanjakan untuk barang habis pakai, contohnya makanan dan minuman.
“Artinya bahwa daya beli masyarakat kita itu sebenarnya rendah karena hampir semua income yang diperoleh itu digunakan untuk beli makanan, misalnya, untuk beli perlengkapan rumah tangga,” ungkapnya dalam Konferensi Pers Indef secara virtual, Selasa (7/2/2023) dikutip dari bisnis.com.
Esther memaparkan data yang mengacu pada Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa pengeluaran konsumsi rumah tangga pada kuartal IV/2022 mencapai Rp2.641 triliun terhadap PDB atau tumbuh 4,48 persen (year-on-year/yoy).
Adapun, secara persentase kontribusi pengeluaran konsumsi rumah tangga menurun bila dibandingkan dengan kuartal IV/2021 yang mencapai 52,9 persen terhadap PDB, sementara pada kuartal IV/2022 hanya 51,7 persen.
Esther menyoroti bahwa hanya sedikit pendapatan masyarakat yang digunakan untuk keperluan kesehatan dan pendidikan, atau sekitar 6,89 persen dari total pengeluaran konsumsi rumah tangga.
Lebih lanjut, pengeluaran tertinggi mencakup makanan dan minuman selain restoran mencapai 40,32 persen atau setara Rp1.065 triliun.
“Sangat sedikit yang diinvestasikan untuk pendidikan. Bahkan karena adanya kenaikan harga BBM ini membuat pengeluaran masyarakat untuk transportasi dan komunikasi itu juga meningkat jadi sekitar 22 persen [kuartal IV/2022],” lanjutnya.
Untuk itu, Esther meminta pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat, namun tidak melalui bantuan sosial, melainkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
“Pemerintah harus meningkatkan daya beli masyarakat yang rendah. Carannya insentif, tidak hanya bansos yang temporer, solusi yang sustain, dengan memberikan upskilling sehingga dia bisa memperoleh pekerjaan lebih baik, pendapatan lebih baik,” sambung Esther.
Bila menelisik data inflasi antara kuartal IV/2021 dengan periode yang sama pada 2022, meningkatnya konsumsi rumah tangga diikuti dengan inflasi yang terus merangkak naik.
Pada kuartal IV/2021 inflasi hanya berkisar di rentang 1,66-1,87 persen, sementara pada kuartal IV/2022 tertahan di atas 5 persen.
Adapun, secara historis pada Januari 2022 inflasi mulai pada level 2 persenan. Memasuki April 2022 inflasi naik menuju angka 3,47 persen dan terus bergerak naik menuju level 4 persenan pada mulai Juni 2022.
Setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada September 2022, inflasi kemballi mencapai puncaknya pada tahun tersebut sebear 5,95 persen dan selanjutnya hingga akhir tahun tertahan di atas 5 persen.
Kendati kondisi perekonomian tak menantu dampak dari menurunnya daya beli masyarakat. Yuk Fa tetap untuk beroperasi usaha cincau hitam miliknya. Harga jual pun tetap masih dibandrol Rp 25 ribu per kaleng ukuran 8×8 centimeter. [acl]