Sekolah Inklusi, Upaya Membangun Empati Anak Sejak Dini

Ekspresi serius terlihat dari wajah seorang perempuan muda berbaju ungu. Ia duduk di sebuah sofa yang sengaja disediakan di ruang depan Harsya Ceria.

Harsya Ceria sendiri adalah sebuah sekolah tingkatan PAUD dan TK yang merupakan satu-satunya sekolah inklusi di Banda Aceh.

Sedikit tentang sofa, kursi busa berlapis kain lembut ini memang disediakan pihak sekolah. Fungsinya untuk mengembalikan mood dan rasa nyaman para penghuni sekolah, yakni, murid, tamu yang datang untuk konsultasi, bahkan guru yang mengajar.

“Sofa ini sengaja kita sediakan, dan digunakan ketika para murid sedang merasa tidak nyaman, bahkan untuk guru sekalipun, di sofa, mereka bisa memejamkan mata, mengekspresikan emosinya, hingga bercerita tentang apa yang membuat mereka tidak nyaman,” ujar Safrina Siregar, Kepala Sekolah PAUD-TK Harsya Ceria, Banda Aceh.

Safrina Siregar. Dok. Harsya Ceria

Tempat nyaman untuk curahan ekspresi ini, memang diutamakan oleh manajemen Harsya Ceria, agar proses belajar mengajar berlangsung lancar dan bisa memenuhi target. Maklum, Harsya Ceria adalah Sekolah PAUD-TK Inklusi, yang memadukan anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak yang tumbuh dengan normal.

Kembali ke Perempuan Muda bergaun ungu, selidik punya selidik, ternyata ia adalah seorang ibu yang ingin menjadikan Harsya Ceria sebagai lembaga pendidikan bagi anaknya yang berkebutuhan khusus.

“Anaknya masih pada tahap survey dan bersosialisasi di sekolah dan ibu sedang berkonsultasi dengan pihak sekolah, bagaimana cara tepat menangani anaknya, dan apa-apa yang keluarga harus lakukan untuk mendukung anak yang berkebutuhan khusus,” jelas Ema, guru di Harsya Ceria, menjawab rasa penasaran Digdata.id yang sengaja berkunjung ke sana.

Safrina, mengakui kalau pihak sekolah memang menyediakan waktu konsul gratis bagi para orangtua anak berkebutuhan khusus setiap Senin-Jumat. ”Ini sengaja kita lakukan untuk berbagai pemahaman dan pengalaman, sehingga anak-anak tetap bisa mendapatkan haknya,” ujar Safrina.

Harsya Ceria beroperasi sejak tahun 2021. Bagi Safrina, menyediakan kebutuhan pendidikan sejak dini bagi Anak Berkebutuhan Khusus adalah hal utama dalam hidupnya.

“Alasan utama saya mendirikan lembaga pendidikan ini adalah, karena melihat banyak Anak Berkebutuhan Khusus yang masih belum terlayani dengan baik di sekolah regular, serta mengakomodir keinginan orang tua mengantarkan anak ke sekolah  layaknya anak yang lain, dan tidak mau mengantarkan anaknya ke SLB,” jelas Safrina.

TK-PAUD Harsya Ceria. Poto; Dara/Digdata.id

Perempuan bertubuh mungil tapi gesit ini menegaskan, semua anak di Harsya Ceria tetap dalam kelas yang sama, tapi kebutuhannya disesuaikan, pembauran disini bertujuan agar ABK tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri, dan anak normal tumbuh dengan jiwa empati yang tinggi terhadap sesama.

Bagi Safrina, kebutuhan sekolah inklusi di berbagai jenjang sangt dibutuhkan di Banda Aceh. “Pastinya harus dengan layanan dan fasilitas yang benar-benar mengakomodir ABK, bukan sekolah yang menyamakan semua anaknya, nah kondisi ini yang belum terakomodir di sekolah inklusi yang ada di Banda Aceh,” jelas Kepala Sekolah yang akrab disapa Bu Ina, ini.

Tidak hanya di Banda Aceh, semua kabupaten/kota sebaiknya juga memiliki sekolah inklusi. “Banyak anak-anak di Harsya Ceria berasal dari Kabupaten/kota diluar Banda Aceh, orangtua mereka terpaksa pindah sementara ke Banda Aceh hanya demi anak-anak mereka mendapat pendidikan yang baik dan tepat,” kisah Ina.

Tantangan terbesar, sebut Ina adalah penyediaan Suber Daya Manusia. Tidak semua sekolah inklusi punya SDM yang cukup, bahkan seringkali tidak ada, sehingga anak berkebutuhan khusus tidak mendapat penanganan yang tepat.

Julia Ulfa (35) warga Bireun, juga menyayangkan tidak adanya sekolah inklusi yang bisa mengakomodir anaknya yang berkebutuhan khusus. “Anak saya sudah saatnya masuk sekolah TK, tapi susah cari sekolah yang bisa menampung anak dengan kondisi Down Syndrome seperti anak saya, tapi sekarang kami sedang diuji, anak menderita leukemia dan harus menjalani perawatan intensif di Banda Aceh, sehingga untuk sekolah ditunda dulu hingga dia sembuh,” ungkap Julia.

Dr Ismail, MPD, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala

Hal senada juga diutarakan oleh Dr Ismail MPD, Dosen Senior Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Disebutkan Ismail, sekolah inklusi di Banda Aceh saat ini sangat dibutuhkan khususnya bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. “Namun kita sayangkan sampai saat ini program sekolah inklusi baik SD, SMP, dan SMA. Hanya menerima siswa saja sedangkan sedangkan guru tidak disiapkan bagi siswa tersebut, sehingga guru mengeluh dalam proses pembelajaran dalam menangani siswa yang berkebutuhan,” ujar Ismail.

Minimnya sumber daya manusia untuk pendidikan inklusi bahkan belum disahuti oleh Universitas Syiah Kuala,“ FKIP USK sampai saat ini belum ada jurusan yang mendidik calon guru untuk sekolah anak yang berkebutuhan Khusus, mungkin kedepannya akan menjadi pertimbangan untuk mengadakan jurusan pendidikan bagi ABK,” jelasnya.

Ada banyak keuntungan bagi anak berkebutuhan khusus jika bersekolah disekolah inklusi, sebut Ismail.  “Artinya sang anak akan memiliki teman yang bisa enjadi tempat bertanya dan berdiskusi baik, terkait pelajaran dan tugas sekolah, ataupun hal lainnya, sehingga perkembangan intelektualnya semakin baik,” sebut Ismail.

Sudah memadaikah pendidikan inklusi di Banda Aceh?

Menurut Ismail, berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi pihaknya di sekolah inklusi, peran pemerintah Kota Banda Aceh masih kurang serius memperhatikan sekolah yang sudah dinobatkan sebagai sekolah inklusi.

“Contohnya guru mengeluh dalam mengajar anak berkebutuhan dicampur dengan anak yang cerdas karena tujuan PBM tidak tercapai. Seharusnya pemerintah khususnya dinas pendidikan dan kebudayaan kota Banda Aceh mempersiapkan guru pendamping khusus bagi anak yang berkebutuhan, agar tujuan PBM bisa tercapai, baik bagi sekolah maupun bagi anak didik,” tegas Ismail.

Anak-anak di PAUD Harsya Ceria sedang berinteraksi dengan sesama murid dan guru sambil bermain. Poto; Dara/Digdata.id

Harapan yang sama juga disampaikan oleh Safrina. “ Harapannya akan banyak sekolah inklusi yg benar benar inklusi, bukan hanya sekedar ada Lebel inklusi saja, dan hanya menerima anak tertentu saja. Karena jika kita telah menyebut kata inklusi maka semua anak harus siap kita terima. Jika belum siap, maka jalin kerjasama dengan pihak terkait, misalnya psikolog atau terapis ABK atau praktisi sekolah inklusi,” ujar Safrina.

Safrina juga berharap, pemerintah daerah bisa mengangkat status guru LB yang bisa di tempatkan di sekolah regular. “Saya juga berharap seua daerah memiliki sekolah inklusi agar anak-anak berkebutuhan khusus ini juga diperhatikan haknya untuk mendapat pendidikan yang sama,” kata Safrina.

Empati dan peduli memang harus dibangun sejak dini. Sekolah inklusi adalah tempat di mana anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dengan anak-anak reguler lainnya,dengan pendampingan selama kegiatan belajar mengajar.

Konsep pendidikan inklusi dapat menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera untuk semua orang. Seperti tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Aceh Nomor 92 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif yang mendefinisikan sistem pendidikan yang sama pada semua pihak, terlepas dari kondisi fisik, mental maupun intelektualitas. (Yan)

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

Berita Terbaru

Newsletter

Subscribe to stay updated.