Home Berita Udara Jakarta Tercemar Mikroplastik dari Pembakaran Sampah, Termasuk Aceh Utara
BeritaHeadlineJurnalisme Data

Udara Jakarta Tercemar Mikroplastik dari Pembakaran Sampah, Termasuk Aceh Utara

Share
Pengambilan sampel sampah yang berpotensi menghasilkan mikroplastik seperti popok. Foto: Hotli Simanjuntak/digdata.ID
Share

Penelitian terbaru dari Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) mengungkap fakta mencemaskan, udara di ibu kota Indonesia penuh dengan partikel mikroplastik. Studi yang dilakukan sepanjang Mei hingga Juli 2025 ini mencatat Jakarta Pusat sebagai kota dengan tingkat paparan mikroplastik tertinggi di Indonesia, mencapai 37 partikel per dua jam per 9 cm² permukaan.

Dari 18 kota yang diteliti, posisi selanjutnya ditempati Jakarta Selatan (30 partikel), Bandung (16), Semarang (13), dan Kupang (13). Kota-kota lain seperti Denpasar, Surabaya, Palembang, hingga Aceh Utara juga menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik di udara, meski dalam kadar lebih rendah.

“Sebanyak 55 persen sumber mikroplastik di udara berasal dari pembakaran sampah plastik,” ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON.

Ia menambahkan, sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar kedua dengan 33 persen, diikuti kegiatan laundry dan tumpukan sampah kemasan plastik rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik.

Tim peneliti menggunakan tiga tahapan dalam penelitian ini. Pertama, pengambilan sampel udara dilakukan menggunakan cawan petri yang diletakkan di tiga titik lokasi berbeda di tiap kota. Kedua, partikel mikroplastik yang menempel diidentifikasi secara fisik menggunakan mikroskop Olympus CX dengan pembesaran 400 kali. Tahap terakhir adalah identifikasi jenis polimer plastik menggunakan spektrometer FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy).

Metode ini memungkinkan peneliti menelusuri asal polimer, apakah berasal dari aktivitas rumah tangga, industri, transportasi, atau pembakaran sampah. “Mengetahui jenis polimer itu penting karena bisa melacak perilaku konsumsi dan pengelolaan limbah masyarakat di tiap kota,” jelas Rafika.

Produk plastik yang umum digunakan sehari-hari seperti tas kresek, gelas air mineral, styrofoam, dan alat makan plastik mengandung polimer sintetis berbasis minyak bumi. Ketika dibakar, polimer-polimer ini melepaskan partikel mikroplastik ke udara dan berpotensi terhirup manusia maupun masuk ke sistem pernapasan hewan.

Ancaman Tak Kasatmata

ECOTON memperingatkan bahwa mikroplastik di udara bukan sekadar masalah estetika lingkungan, melainkan ancaman kesehatan publik. Partikel halus itu dapat masuk ke paru-paru, memicu peradangan, dan membawa zat kimia berbahaya seperti logam berat atau aditif plastik yang bersifat karsinogenik.

“Udara kita kini bukan hanya tercemar asap kendaraan, tapi juga serpihan plastik yang kasat mata,” tegas Rafika.

Ia menyerukan masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membakar sampah dan mendesak pemerintah daerah agar memperketat pengawasan terhadap praktik tersebut.

Selain edukasi publik, ECOTON dan SIEJ juga mendorong kebijakan nasional untuk mengatur pengendalian emisi mikroplastik, termasuk dari sumber non-industri seperti laundry dan aktivitas rumah tangga.[acl/ai]

Share
Related Articles
Dua Gempa Dahsyat Magnitudo 7,2 dan 7,5 Guncang Venezuela, 164 Orang Tewas
Berita

Dua Gempa Dahsyat Magnitudo 7,2 dan 7,5 Guncang Venezuela, 164 Orang Tewas

CARACAS – Dua gempa dahsyat beruntun mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) sore...

BeritaHeadline

Tolak Aktivitas Pertambangan, Masyarakat Beutong Duduki Kantor Bupati Nagan Raya

Ratusan Masyarakat Beutong Ateuh Banggala bersama aliansi mahasiswa dari Banda Aceh, Aceh...

BeritaHeadline

Masyarakat Beutong Datang, Bupati TRK Tingalkan Nagan Raya

Aksi demontrasi ratusan masyarakat Beutong dan Mahasiswa di Kantor Bupati Nagan Raya...

BeritaHeadline

Jemaah Haji Asal Aceh Meninggal di Tanah Suci Mekkah Jadi 14 Orang

Memasuki jadwal kepulangan jemaah haji asal Aceh ke tanah air sejak 15 ...