Home Berita Klik Kamera di Tengah Rentetan Senjata, Kisah Hotli Simanjuntak
BeritaHeadline

Klik Kamera di Tengah Rentetan Senjata, Kisah Hotli Simanjuntak

Share
Hotli Simanjuntak Jurnalis konflik/Foto:Hotli Simanjuntak/Digdata.id
Share

Tubuh yang kurus dan kecil membuatnya gampang bergerak masuk kemana saja untuk membidik setiap momen peristiwa.yang ada disekitarnya, putra Batak kelahiran tapanuli ini merupakan salah satu jurnalis foto yang lumayan  di segani di Indonesia. banyak karya-karyanya yang mendapat apresiasi dan pengakuan banyak pihak, terutama jepretan-jepretan saat konflik bersenjata di Aceh dan peristiwa gempa dan tsunami 2004 silam. 

Hotli Simanjuntak memulai karirnya sebagai fotografer di tengah riuhnya era Reformasi 1998 di sebuah media lokal Medan. 2001 ia memutuskan pindah ke Aceh  meliput konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Indonesia. Di sana, ia bergabung dengan kantor berita internasional Agence France-Presse (AFP).

Sejak saat itu suara peluru dan bunyi klik kameranya saling berlomba mengeluarkan suara yang nyaring. Setiap sudut pedalaman Aceh telah ia susuri hanya untuk menyuarakan sesuatu yang mungkin masyarakat tidak bisa bersuara saat itu. Ia nyaris tewas saat meliput pertempuran di Lhokseumawe (2003), ketika peluru menghantam tembok tepat di belakang tempat ia bersembunyi.

Hotli Simanjuntak dan jurnalis aceeh saat tugas liputan. Foto: Hotli Simanjuntak

“Aku pucat! Dan berpikir, kali ini benar-benar mati, syukurnya Tuhan masih menyayangiku hingga hari ini” kenangnya.  

Dan itu bukan satu-satunya peristiwa yang membuatnya hampir mati, pada awal-awal Darurat Militer (DM) di Aceh. saat itu Ia meliput pengungsian di kabupaten Bireuen di desanya Kautsar Abu Yus (anggota DPRA dari Demokrat), ada seorang warga mengatakan kepada Hotli jika di kampungnya ada pengungsi dan sedang terjadi sweeping, apa ia mau datang ke kampungnya untuk meliput?

Dengan yakin Hotli menjawab mau!  sesampai di kampung tersebut, tiba-tiba terjadi kontak tembak penyerangan ke lokasi pengungsian dan ia terjebak di sana dengan peluru yang lalu lalang di dekatnya sehingga ia harus tiarap menyelamatkan diri saat itu. 

“ itu lah jiwa-jiwa muda saat ini, keinginan untuk meliput dan ingin selalu ada di lokasi untuk bisa mengabadikan setiap momen tanpa memikirkan keselamatan. Tapi kalau sekarang terjadi lagi seperti itu, akan berpikir berkali-kali saya  untuk kelapangan” cerita Fotografer EPA tersebut. 

 

Hotli Simanjuntak meliput kontak tembak saat konflik Aceh/ Foto Hotli Simanjuntak/Digdata.id

Karena menurut Hotli, setiap wartawan akan merasa sangat bahagia, sangat senang jika hasil karya liputannya bisa mengubah sesuatu, dari keadaan perang jadi damai, masyarakat yang tidak bisa bersuara bisa terbantu dengan hasil liputan para wartawan yang menggambarkan kondisi mereka di tengah konflik. Dan itu juga menjadi salah satu alasan kenapa ia masih bertahan jadi jurnalis  hingga saat ini. 

Hotli juga bercerita kepada media ini, dimana masyarakat Aceh pada masa konflik sangat aware dengan wartawan dan mereka merasa terlindungi saat ada media meliput di tempat mereka apalagi saat terjadi penyisiran oleh pihak TNI atau polisi karena mereka tidak berani semena-mena kepada masyarakat saat ada media, terutama media asing.

Pada 2003 saat pertama kali pemberlakuan Status Darurat Militer (DM) terjadi pembantaian terhadap 7 warga sipil di Kabupaten Bireuen, dan saat itu beberapa media nasional dan media asing menulis itu sebagai liputan utama dengan judul yang di Hailet, Telah terjadi pembantaian 7 warga sipil di Bireuen oleh TNI. Saat itu pihak TNI dan pemerintah tidak terima dengan pemberitaan tersebut sehingga Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) memanggil semua wartawan yang menulis tentang itu, namun Hotli dan beberapa jurnalis lainnya saat itu wajib lapor ke PDMD. Hanya beberapa wartawan saja yang melapor. dan mereka  akhirnya balik ke Banda Aceh, saat itu ada wartawan Tempo, Gatra, BBC, AFP, Time Magazine dan beberapa media asing lainnya juga. Sehingga pihak PDMD menganggap wartawan yang menulis peristiwa itu adalah wartawan yang tidak independen. 

Tulisannya itu sangat mengganggu buat militer karena judulnya pembantaian (Slaughter) TNI mengklaim jika yang di eksekusi (buruh tambak) adalah bagian dari GAM. Tapi hasil penelitian warrtawan yang meliput  dilapangan berdasarkan wawancara dengan masyarakat, korbannya ada yang dibawah umur dan saat itu mereka sedang jaga tambak. Bahkan menurut saksi mata yang mereka  wawancara, 7 orang yang jadi korban itu bukan meninggal karena kontak tembak seperti kalim militer, tetapi mereka di jejerkan oleh aparat kemudian ditembak.

“Karena namaku sempat dicari oleh PDMD saat itu, terpaksa aku harus kabur ke Jogja hingga 1 bulan disana. Beberapa minggu sudah tidak ada perintah wajib lapor untuk wartawan akhirnya balik ke Aceh, tetapi saat itu masih tidak bisa liputan karena tidak memiliki kartu biru yang dikeluarkan oleh kemenlu RI” Kenang Hotli akan peristiwa tersebut.

peristiwa penyerangan Tank TNI di kawasan Indrapuri Aceh Besar/ Foto Hotli Simanjuntak/Digdata.id

Akhirnya ia meminta media tempatnya bekerja untuk mengurus kartu khusus liputan untuk media asing nyakni Blue Card di Kementerian Luar Negeri agar bisa meliput kembali di Aceh.  

Pasca tsunami 2004 ia sempat meliput acara Doa bersama di kapal atas rumah lampulo,  saat itu ada suami istri yang mengenalnya dan berkata bahwasannya hotli adalah wartawan yang mereka sembunyikan saat PDMD memeriksa masyarakat terkait liputan media tentang pembantaian 7 warga sipil di Bireuen.

“Saat itu si ibu tersebut mengatakan 7 sipil yang dibunuh itu ada anggota keluarganya, dan mereka sangat berterimakasih saat itu kepada media berani memberitakan itu, dan saat ditanya aparat ia mengatakan tidak mengenal wartawan yang ke desa mereka”. kenang Hotli Sedih. 

Peristiwa itu sebagai bukti bahwasannya jurnalisme bisa menjadi jembatan bagi mereka yang tak bersuara. Karya-karya jurnalis itu bukan hanya sebagai dokumentasi sejarah tetapi juga pengingat akan kekuatan empati. Karena menurut Hotli seorang jurnalis itu memotret bukan hanya dengan kamera tetapi dengan seluruh jiwanya. 

Selain mengabadikan momen-momen bersejarah dan berdarah di Aceh pada masa Konflik Aceh, Bapak dua anak ini juga menjadi saksi langsung tragedi tsunami Aceh 2004, saat itu, ia bekerja untuk stasiun televisi nasional seperti Global TV, TV7, dan Trans TV. Sekaligus mendukung organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah Internasional dan Bank Dunia melalui pelatihan fotografi jurnalistik.

Hotli kerap menuliskan refleksi tentang perjalanan, perenungan, dan pengalaman hidup yang membentuk perspektifnya sebagai jurnalis.Di balik setiap “klik” kamera, ada hati yang terus belajar menjadi manusia yang lebih utuh. Sebab pada akhirnya, pengakuan bukanlah tujuan utama. 

Hasil Jepretan Hotli Simanjuntak saat konflik Aceh/ foto: Hotli Simanjuntak/Digdata.id

Kata “aku” dalam hidup bisa bermakna banyak. Ia bisa menjadi suara yang ingin didengar, atau sekadar sudut pandang yang hadir untuk memberi makna. Apakah “aku” butuh pengakuan? mungkin. tapi lebih dari itu, “aku” hadir karena suatu alasan. Hotli memilih menjadikan “aku”-nya sebagai jembatan bagi cerita-cerita yang tak terucap, suara-suara yang kerap terlupakan, dan wajah-wajah yang terpinggirkan dari berita utama.

 “Percayalah, semakin banyak kita melihat, mengalami, dan merenung, kita akan semakin bijak bersikap terutama setelah berkeluarga. Adrenalin liar masa muda lambat laun terkikis, berganti dengan rasa syukur” ucap Hotli diakhir wawancaranya dengan media ini. 

Hotli juga menitip pesan bagi anak muda yang mulai bergelut dalam dunia jurnalis dan memotret bahwasannya tetaplah menjaga independensi, jangan pernah menjadi alat kepentingan pihak mana pun, memiliki Empati karena foto terbaik lahir dari kedekatan dengan subjek, bukan hanya dari teknik dan keseimbangan. Dimana keberanian harus diimbangi dengan kebijaksanaan, tahu kapan maju dan kapan harus mundur.

Kini, Hotli tetap aktif sebagai fotografer di European Pressphoto Agency (EPA). Ia juga pernah menjadi kontributor The Jakarta Post, media berbahasa Inggris yang kini telah berhenti terbit akibat tergilas oleh perkembangan digital. (Yan)

Share
Related Articles
BeritaHeadline

Satu Pendaki Gunung Seulawah Agam Belum di Temukan, Tim SAR Masih Laukan Pencarian

Seorang pendaki asal Kabupaten Aceh Utara dilaporkan hilang di kawasan Gunung Seulawah,...

Berita

Jumlah Penumpang di Bandara SIM Mengalamai Penurunan di Idul Adha 1447 H

Pergerakan penumpang angkutan udara selama periode Idul Adha 1447 Hijriah di Bandara...

Berita

Warga Pintu Rime Gayoe Perbaiki Akses Jalan Nasioanal Takengon-Bireuen

Enam Bulan pascabencana hidrometeorologi yang melanda Aceh masih banyak fasilitas publik yang...

Jemaah Haji Aceh bertola dari Mekah ke Madinah pada 8 Juni 2026 Foto : Dok.PPIH Aceh
Berita

Arab Saudi Pastikan Haji 1447 H Bebas Wabah, Lebih dari 2,5 Juta Layanan Kesehatan Diberikan

DIGDATA.ID – Arab Saudi melaporkan keberhasilan penyelenggaraan layanan kesehatan selama musim Haji...