Hirup Gas Bau Busuk, 29 warga dirawat di RSUD Zubir Mahmud dan Ratusan lainnya Mengungsi

Sebanyak 29 warga Desa Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, harus dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zubir Mahmud, karena mengalami mual, muntah dan pusing.

“Ada 29 warga dirawat. Kami juga belum bisa memastikan apakah semua warga tersebut keracunan karena gas atau tidak. Sebab, di rumah sakit ini belum ada laboratorium,” kata Direktur RSUD Zubir Mahmud Edy Gunawan di Aceh Timur, Senin (29/09/2023)

Menurut dia, memungkinkan mereka mengalami muntah dan pusing serta lemas karena terhirup gas. Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi keseluruhan pasien saat ini stabil. Bahkan, seorang di antaranya sudah diperbolehkan pulang.

Sementara itu, warga Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur yang terdampak keracunan gas menyebutkan bahwa bau tercium seperti kulit jengkol terbakar.  

“Baunya bercampur-campur, ada seperti kulit jengkol terbakar, ada juga baunya seperti bangkai, telur busuk, dan karet terbakar,” kata Maimunah (45), yang mengungsi di Kantor Camat Banda Alam.
 
Maimunah mengaku dirinya merasakan lemas, sakit dada, batuk, sakit di tenggorokan, perih hidung, perih mata seperti terkena air cabai saat terdampak bau gas tersebut. 

“Saya merasakan baunya karena jarak rumah dengan sumur galian berjarak sekitar satu kilometer. Saya berharap masalah ini dituntaskan, sehingga kami dapat kembali ke rumah masing-masing,” kata Maimunah.

Said, warga lainnya, mengharapkan pihak perusahaan migas di sekitar desa tersebut mengedepankan keamanan masyarakat. Keracunan gas dialami warga jangan terulang.

Sementara itu, ratusan warga Gampong Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, terpaksa mengungsi ke kantor kecamatan setempat guna menghindari gas beracun.

“Sampai saat ini sebanyak 446 warga mengungsi di Kantor Kecamatan Banda Alam. Mereka ditempatkan di tenda, musala, dan aula. Ada juga yang mengungsi ke rumah kerabat,” kata Camat Banda Alam Iskandarsyah di Aceh Timur, Senin (29/09/2023)

Iskandarsyah menyebutkan kejadian gas beracun terjadi pada Minggu (24/09/2023) sekira pukul 17.30 WIB. Saat itu, anak-anak sedang bermain bola di lapangan, tiba-tiba mengalami sesak napas, kemudian pingsan dan dilarikan ke puksemas setempat. 

“Bau gas sudah dirasakan sejak Sabtu (23/9/2023). Yang pertama terkena satu keluarga. Kemudian, pada Minggu (24/9/2023) dirasakan orang lain. Mungkin karena dibawa angin, sehingga terkena lagi masyarakat lainnya,” kata Iskandarsyah.
 
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial mendirikan tenda dan dapur umum di lokasi pengungsian.
 
“Semua pengungsi tertangani dan sampai saat ini kondisi aman terkendali. Dan kami juga akan terus mendampingi pengungsi,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Timur Ashadi.

Kepala Dinas Sosial Aceh Timur Elfiandi mengatakan pihaknya juga telah membuka dapur umum serta menyediakan kebutuhan masa panik pengungsi tersebut.

“Untuk logistik pengungsi sudah tersedia dan semua peralatan untuk pengungsi dibawa, seperti popok bayi, susu, selimut, dan lainnya” kata Elfiandi. (Yan)

Sumber : ANTARA ACEH

Tulisan Terkait

Bagikan Tulisan

Berita Terbaru

Newsletter

Subscribe to stay updated.