Home Berita Pemulihan Aceh Jalan di Tempat, Korban Lelah Berharap
BeritaHeadline

Pemulihan Aceh Jalan di Tempat, Korban Lelah Berharap

Share
Suasana Tenda Pengungsian di Meuredu Kabupaten Pidie Jaya, saat sedang menyiapkan makanan berbuka puasa/Foto; Wahyu Majiah/Digdata.id
Share

Genap Tiga bulan bencana ekologi menghantam 18 Kabupaten/Kota di Aceh, Pemulihan Aceh pasca bencana masih jalan di tempat. tidak ada perubahan yang signifikan. 12.194 orang masih tinggal di tenda-tenda pengungsian tanpa ada kepastian rumah pengganti.

Gundukan lumpur yang telah mengeras hingga saat ini masih mengepung dan menghiasi pelataran rumah mereka, bahkan parahnya lagi masih banyak rumah warga yang masih tertanam lumpur dan tumpukan kayu sehingga tidak layak ditempati lagi.

Sebagian warga bahkan membangun kembali rumahnya dengan sisa-sisa kayu dan seng bekas rumahnya yang rusak agar bisa ditempati kembali sembari menanti rumah pengganti dari pemerintah.

Abu Bakar, warga desa Sekumur kecamatan Sekerak kabupaten Aceh Tamiang, mengaku pasrah dengan kondisi mereka yang hingga saat ini masih tinggal di tenda-tenda yang dibangun dari terpal bantuan relawan yang datang kedesa mereka. Hari-hari ia habiskan waktu di tenda dan Masjid saja untuk beribadah, karena sudah tidak punya pekerjaan lagi setelah kebun sawit miliknya rata disapu banjir tanpa tersisa.

Ia, Istri dan ketiga anaknya yang masih sekolah saat ini hanya hidup dari bantuan para relawan, dengan makan seadanya. tidak ada kepastian sampai kapan mereka harus hidup dari bantuan para dermawan.

“Kami warga disini hanya bisa pasrah saja, tidak tau mau bekerja apa untuk menyambung hidup, kebunpun sudah tidak ada. Bahkan sampai bulan puasa kami masih aja tinggal di tenda, kerjaan pun tidak ada”cerita Abu Bakar

“Sudah Tiga Bulan kami tida ada kejelasan untuk tempat tinggal, lahan perkebunan sebagai sumber mata pencaharian. Kami hanya bisa berharap sama Allah sajalah, dengan mengirimkan orang-orang baik yang bisa menolong kami warga Sekumur ini” tambah Abu Bakar yang sesekali menyeka air matanya yang jatuh di pipi.

Tak hanya tumpukan lumpur yang masih tersisa, tumpukan kayu yang dibawa banjir juga masih menjadi lautan hingga saat ini dengan ketinggian dua meter lebih dari badan jalan menutupi perkampungan desa seukumur, sehingga menjadi ketakutan tersendiri bagi 240 kepala keluarga yang tinggal di desa tersebut saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Duka itu juga dirasakan Rasyidah nenek berusia 65 tahun, untuk menopang hidupnya dan keluarga ia harus berjualan kue seadanya di gubuk yang dibangun di bekas tapak rumahnya yang rusak dihantam kayu besar saat banjir menenggelamkan kampungnya di desa Sekumur Kecamatan Sekerak Aceh Tamiang.

Rasyidah Warga desa Sekumur Kecamatan Sekerak Kabupaten Aceh Tamiang berjalan kaki menyusuri jalan yang tertimbun Lautan Kayu menuju ke rumahnya untuk berjualan./Foto; Fitri/Digdata.id

Sabanhari ia harus berjalan kaki dan menyeberang sungai dengan Rakit untuk berbelanja bahan baku kue untuk bisa menafkahi keluarganya. Pekerjaan ini harus ia laukan karena ia dan suaminya sudah tidak punya pekerjaan lagi setelah kebunnya rusak karena banjir, hasil sawitnya sudah tidak bisa dipanen lagi.

“Kalau tidak jualan kue seperti ini keluarga saya mau makan apa? mau sampai kapan bergantung pada bantuan donatur terus. Kalau sama pemerintah, saya sudah lelah berharap, sedikasihnya saja” ucap Rasyidah sambil berjalan menuju rumahnya.

Saat ini kondisi rumah milik Rasyidah masih rusak parah, tertimbun lumpur dan glondongan kayu besar yang menimpa sebagian rumahnya sehingga tidak layak untuk ditempati lagi.

Lambannya penanganan pemulihan pasca banjir oleh pemerintah membuat warga harus merayakan Ramdhan di tenda pengungsian.

Erna Wati warga Gampong Meunasah Raya, Kabupaten Pidie Jaya, mengatakan Ramdhan tahun ini menjadi masa tersulit bagi warga terdampak, dan ia merasakan Ramadhan tahun ini jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya setelah hampir tiga bulan hidup di tenda pengungsian akibat banjir yang melanda wilayah tersebut.

Hidup di tenda yang hanya beralaskan tikar yang dibeli sendiri dengan sisa-sisa uang yang mereka punya. Selama ini hanya bantuan sembako yang masuk dan itupun terbatas. Cerita Erna.

Ia bersama warga Meunasah Raya lainnya kini mengungsi dan tinggal di tenda darurat yang didirikan di pekarangan meunasah atau mushala desa setempat. Dilokasi itu, mereka berkumpul dan saling menguatkan agar tetap tabah menjalani musibah sekaligus menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

Tenda yang jadi tempat tinggal beberapa keluarga korban banjir di Meuredu Pidie Jaya/ Foto: Wahyu Majiyah/Digdata.id

“Biasanya puasa bersama keluarga di rumah sendiri sekarang di pengungsian yang penuh dengan air mata. Sedih sekali hidup sepertia ini, tapi mau bagaimana lagi, ya sudah dinikmati saja”Ucapnya pasrah.

“Biasanya kita melihat anak gembira saat buka puasa dan sahur, sekarang ketika buka puasa termenung melihat piring nasi, dan tida ada menu istimewa selama puasa di pengungsian” lanjutnya sambil menangis.

Ibu 2 anak ini, tida bisa membendung air matanya saat mengingat kecerian hilang diwajah anak-anaknya saat Ramdaha, dan entah bagaimana saat lebaran nanti. Sudah tiga bulan tida ada kejelasan sama sekali apapun yang dijanjikan pemerintah untuk korban bencana, satupun belum terealisasi di tempat mereka.

“Seperti inilah kehidupan kami, tidak jelas seperti apa, sudah tiga bulan tapi tidak ada perubahan, ditambah lagi dengan kehilangan mata pencaharian”Jelas Ernawati sembari memperlihatkan kondisi tenda tempat tinggalnya saat ini.

Kondis Pengungsiang di Kabupaten Pidie Jaya saat Ramdhan 1447 H./Foto; Wahyu Majiah/Digdata.id

Selama tinggal di pengungsian, air bersih dan MCK juga menjadi kendala, karena mereka harus mengantri menggunaan MCK Umum, begitu juga dengan penggunaan air bersih untuk memasak dan kebutuhan sehari-hari.

Selain itu luka akibat banjir yang mereka alami juga belum sepenuhnya sembuh. Saat hujan turun, air masih kerap naik hingga masuk ke area tenda pengungsian.

“Rata-rata anak-anak di sini masih trauma, anak saya setiap hujan pasti menangis, takut banjir”ucap Ratna lagi.

Rasa trauma juga turut dirasakan Munir (70) Warga Langkahan Aceh Utara yang selalu terbangun ditengah malam, terutama saaat mendengar suara deru tenda karena hembusan angin kencang dan hujan, ia takut banjir datang lagi dan menghatam tenda yang kini menjadi rumah bagi anggota keluarganya.

Munir bersama Istri, anak, menantu dan cucunya kini tinggal di bawah tenda yang terbuat dari terpal setelah rumahnya hanyut disapu banjir bandang akhir November 2025 lalu. Kini sudah tiga bulan dia dan keluarganya tinggal di tenda darurat yang jauh dari kata layak.

Munir mengaku dia tidak berharap banyak bisa pindah dalam waktu cepat ke rumah hunian sementara atau hunian tetap yang dijanjikan pemerintah, karena selama ini ia mendengar pembangunan huntara tidak kunjung selesai  dan ada beberapa daerah malah baru di data.

“ Sampai lebaran sepertinya kami masih tinggal disi dengan kondisi seperti ini, tidak tau sampai kapan kami akan disini”Ucap Munir lirih.

Tenda Pengusian Warga di Desa Sekumur Kecamatan Sekerak Kabupaten Aceh Tamiang/ Foto:Fitri/Digdata.id

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Satgas PRR) Wilayah Sumatera dalam rapat di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, pada Rabu (18/2/2026). melaporkan jumlah pengungsi per di Aceh tercatat sebanyak 12.194 orang. Terkait penanganan lumpur, di Aceh masih terdapat 88 lokasi.

Wakil Gubernur Aceh Fadlullah mengatakkan kebutuhan hunian tetap di Aceh masih sangat besar dan belum sebanding dengan rencana pembangunan yang tersedia. Berdasarkan data kebutuhan huntap sesuai SK Bupati/Wali Kota (SK BNBA) total rumah rusak dan hilang di Aceh mencapai 246.484 unit. Kategori rusak berat dan hilang mencapai 97.936 unit.

Sementara itu, rencana pembangunan huntap hingga 18 Februari baru mencapai 9.246 unit atau sekitar 9,4 persen dari total kebutuhan. Adapun usulan renaksi Kementrian PUPR/PKP untuk pembangunan huntap di Aceh sebanyak 21.590 unit atau sekitar 22 persen dari kebutuhan.

Share
Related Articles
BeritaHeadline

Satu Pendaki Gunung Seulawah Agam Belum di Temukan, Tim SAR Masih Laukan Pencarian

Seorang pendaki asal Kabupaten Aceh Utara dilaporkan hilang di kawasan Gunung Seulawah,...

Berita

Jumlah Penumpang di Bandara SIM Mengalamai Penurunan di Idul Adha 1447 H

Pergerakan penumpang angkutan udara selama periode Idul Adha 1447 Hijriah di Bandara...

Berita

Warga Pintu Rime Gayoe Perbaiki Akses Jalan Nasioanal Takengon-Bireuen

Enam Bulan pascabencana hidrometeorologi yang melanda Aceh masih banyak fasilitas publik yang...

Jemaah Haji Aceh bertola dari Mekah ke Madinah pada 8 Juni 2026 Foto : Dok.PPIH Aceh
Berita

Arab Saudi Pastikan Haji 1447 H Bebas Wabah, Lebih dari 2,5 Juta Layanan Kesehatan Diberikan

DIGDATA.ID – Arab Saudi melaporkan keberhasilan penyelenggaraan layanan kesehatan selama musim Haji...