Belum ada perubahan banyak, sebulan pascabencana banjir dan longsor, di Kabupaten Aceh Tamiang. Suasananya masih memprihatinkan. Seorang relawan kemanusiaan, Aduen Mufti, yang baru kembali dari lokasi bencana menyebutkan penanganan di lapangan hingga kini masih didominasi oleh upaya swadaya masyarakat.
Mufti menjelaskan, di beberapa desa yang masih dapat diakses melalui jalur darat, terlihat personel TNI membantu pembersihan fasilitas publik. Namun, bantuan tersebut belum menjangkau seluruh wilayah terdampak, akrena terbatasnya jumlah personel.
“Secara umum, kondisinya masih korban membantu korban,” kata Mufti, Rabu (24/12/2025).
Di sepanjang perjalanan menuju lokasi bencana, Aduen mengaku kerap melihat anak-anak berdiri di pinggir jalan meminta sumbangan. Ia tidak mengetahui apakah itu inisiatif pribadi atau dorongan dari kondisi keterdesakan yang mereka alami.
“Rasanya kami sudah tidak sanggup lagi mengatakan maaf. Sedih sekali melihat anak-anak seperti itu,” katanya.
Hingga tiba di Desa Sikumur. Mufti juga mengungkapkan bahwa Desa Sekumur hingga kini masih terisolasi dari akses darat. Bantuan memang mulai berdatangan, namun jalur utama menuju desa tersebut harus ditempuh dengan perahu motor, menyeberangi sungai sejauh sekitar 100 meter.
Selain itu, Mufti menggambarkan kondisi beberapa kawasan di Aceh Tamiang yang masih tampak seperti baru saja dilanda bencana, meski peristiwa tersebut telah terjadi sebulan lalu.
“Di wilayah kota saja masih terlihat genangan air dan belum ada pembersihan menyeluruh seperti penyedotan. Ketika masuk ke lorong menuju Lubuk Siduk, kondisinya bahkan jauh lebih parah,” ujarnya.
Menurut Mufti, kebutuhan dasar warga masih sangat mendesak, terutama tikar dan alas tidur. Banyak pengungsi terpaksa beristirahat di atas papan tanpa perlindungan yang layak. “Anak-anak bilang ke kami, malam hari mereka kedinginan,” tuturnya.









