Setiap kali kita berbicara tentang masa depan Aceh, pikiran kita mungkin tertuju pada pembangunan infrastruktur, pendidikan, atau lapangan kerja. Namun, ada satu fondasi penting yang sering terlupakan: kesehatan seorang ibu. Seorang ibu bukan hanya melahirkan generasi baru, tetapi juga mendidik, merawat, dan membentuk karakter anak-anak yang kelak menjadi pemimpin masa depan. Tanpa ibu yang sehat, sulit membayangkan lahirnya generasi Aceh yang kuat dan berkualitas.
Fakta lain menunjukkan bahwa Perempuan itu memegang peranan ganda, merawat keluarga dengan fokus tumbuh kembang anak, namun menjadi “pekerja“ yang membantu tugas suami dalam memenuhi tuntutan kehidupan dan bahkan ada kecenderungan menjadi tulang punggung keluarga sebagai pilar kehidupan. Statistik tentang tenaga kerja Perempuan diseluruh dunia menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan meskipun masih ada ketidakadilan dalam posisi elit sebuah institusi / Perusahaan ketika kursi elit ada yang kosong dan harus diisi, dan laki-laki mempunyai peluang lebih tinggi untuk dipilih.
Mari kita menengok sejenak kondisi nyata. Berdasarkan laporan kesehatan, angka kematian ibu di Aceh masih lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional. Menurut Profil Kesehatan Indonesia 2023, angka kematian ibu di Indonesia masih sekitar 189 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan target SDGs (Sustainable Development Goals) 2030 adalah 70 per 100.000 kelahiran hidup. Aceh sendiri masih mencatat angka kematian ibu di atas rata-rata nasional. Angka ini bukan sekadar data statistik, melainkan kisah nyata dari perempuan-perempuan yang kehilangan nyawa ketika melahirkan, meninggalkan suami, anak, dan keluarga yang mencintainya. Ketika seorang ibu hamil meninggal dunia, maka kesedihan dan kehilangan akan tanggung oleh anak-anak kecil yang ditinggalkannya, suaminya, ayah dan ibunya, serta kepedihan ini tidak ada lagi obat yang bisa menyembuhkannya.
Anemia (kurang zat besi) pada ibu hamil juga menjadi tantangan besar. Prevalensi anemia pada ibu hamil di Aceh mencapai hampir 48%, lebih tinggi dari rata-rata nasional sekitar 37%. Kondisi ini memperlihatkan bahwa risiko kehamilan dan persalinan masih tinggi. Anemia bukan hanya membuat ibu cepat lelah, tetapi juga meningkatkan risiko komplikasi saat persalinan berupa perdarahan yang berpotensi menjadi kasus gawat dan mempengaruhi tumbuh kembang janin.
Banyak anak lahir dengan berat badan rendah atau mengalami masalah kesehatan lain karena ibunya tidak mendapat asupan gizi yang memadai selama kehamilan. Zat besi sebagai bagian mikronutrien mempunyai peran sangat besar ketika organ sedang dalam fase tumbuh kembang menuju kesempurnaan dan akan medatangkan dampak negatif jangka panjang ketika defisiensi terjadi saat tumbuh kembang berlangsung di dalam rahim.
Di beberapa daerah terpencil, akses menuju fasilitas kesehatan masih menjadi tantangan karena jarak, transportasi maupun keterbatasan tenaga medis. Seorang ibu di pedalaman Aceh Besar, misalnya, harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk memeriksakan kandungan. Sementara di Pulau Simeulue, gelombang laut yang tinggi sering menjadi penghalang bagi ibu hamil untuk mencapai rumah sakit. Perbaikan fasilitas kesehatan, penambahan jumlah dan kualitas tenaga Kesehatan dengan perbaikan gaji dan insentif serta karir, inovasi transportasi dengan kapal cepat, kapal klinik, kapal rumah sakit serta ambulan udara dan telemedisin, menjadi keniscayaan dan sebaiknya direncanakan oleh pemerintah.
Pemerintah sebenarnya telah menaruh perhatian besar pada masalah ini. Beberapa regulasi penting antara lain: UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menegaskan bahwa setiap ibu berhak memperoleh pelayanan kesehatan selama kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan. Peraturan Menteri Kesehatan No. 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, yang mengatur standar minimal layanan kesehatan ibu. Program Jaminan Persalinan (Jampersal) yang dulu ada sebaiknya dihidupkan lagi untuk melengkapi Jaminan Kesehatan nasional yang saat ini ada, agar secara finansial para ibu hamil tidak lagi terbebani fikiran dengan masalah finansial, sebagai Upaya dan jaminan agar semua ibu dapat melahirkan di fasilitas kesehatan tanpa terkendala biaya. Pendataan ulang sebaiknya dilakukan apa benar keluarga miskin seluruh aceh benar- benar sudah mempunyai BPJS, karena banyak di daerah lain banyak orang miskin yang berhak mendapat BPJS atas tanggungan negara, justru tidak mempunyainya dan orang yang pendapatannya baik justru mendapat jaminan BPJS untuk orang miskin.
Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah serius. Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena berdampak langsung pada keselamatan ibu maupun bayi. Hampir separuh ibu hamil di Aceh didapatkan kadar hemoglobin yang dibawah normal dan potensi mengalami preeklampsia eclampsia, perdarahan pasca salin, pertumbuhan janin terhambat, IQ yang rendah, apgar skore yang rendah dan jangka Panjang menjadi sumber daya manusia yang rendah. Pemerintah telah menyediakan Tablet Tambah Darah (TTD) secara gratis melalui Puskesmas, sekolah, dan Posyandu namun perilaku hidup sehat belum sepenuhnya menjadi kebiasaan yang dipegang kuat Masyarakat, sehingga pada akhirnya anemia pada ibu hamil tetap menjadi beban yang belum terselesikan hingga kini. Solusi praktis yang bisa dilakukan secara cepat dan relatih lebih sederhana antara lain edukasi sejak remaja putri tentang pentingnya zat besi, membiasakan konsumsi makanan bergizi seimbang dan dukungan keluarga untuk memastikan ibu hamil rutin mengonsumsi TTD, kebiasaan makan yang kaya nutrient dan menghindari rokok dan alkohol.
Persalinan di fasilitas kesehatan di Aceh baru mencapai sekitar 72%, lebih rendah dari rata-rata nasional yang sudah 82%. Artinya, masih ada ibu yang melahirkan di rumah tanpa tenaga medis terlatih. Padahal, melahirkan di fasilitas kesehatan terbukti menyelamatkan nyawa ibu dan bayi. Dukungan keluarga dan ketersediaan transportasi darurat menjadi faktor penting agar ibu bisa sampai ke rumah sakit tepat waktu. Regulasi jelas menekankan pentingnya peran tenaga medis diantaranya UU No. 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan, yang memperkuat kewenangan bidan untuk memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak secara komprehensif.
Adanya Program Desa Siaga dan Posyandu yang terus diperluas untuk mendekatkan layanan ke masyarakat. Dukungan keluarga sangat diperlukan agar ibu bersalin bisa mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan tepat waktu. Keluarga Adalah pemeran utama agar ibu hamil sehat selama hamil, melahirkan, pasca salin dan 5 tahun pertama kehidupan bayi. Mendidik keluarga agar faham akan Kesehatan, mampu melakukan deteksi dini bila ditemukan masalah Kesehatan serta segera mencari pertolongan ke tenaga professional Adalah “habit” yang akan membuat para ibu sehat dan umur panjang. Semua harus sadar bahwa masa depan generasi muda Aceh, berada di tubuh para ibu Aceh yang sehat.
Sebagai masyarakat Aceh yang religius, nilai agama menjadi landasan penting dalam memandang kesehatan ibu. Islam memuliakan ibu dan memberikan perhatian besar pada kehidupan seorang ibu. Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman ayat 14: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku kembalimu.” Ayat ini menegaskan betapa besarnya pengorbanan seorang ibu. Maka sudah seharusnya seluruh elemen masyarakat mendukung agar ibu tetap sehat dan sejahtera, baik fisik maupun mental.
Ibu Adalah Penentu Generasi
Seorang ibu adalah pintu pertama kehidupan. Dari seorang ibu yang sehat, lahirlah anak-anak yang sehat pula. Gizi yang diterima seorang ibu selama kehamilan menentukan kualitas gizi anaknya. Dukungan psikologis dan sosial yang diterima seorang ibu berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anaknya. Jika ibu-ibu dibiarkan berjuang sendiri, maka masa depan Aceh ikut terancam. Kesehatan ibu tidak bisa hanya dibebankan pada tenaga kesehatan. Ada empat pilar penting yang harus diperkuat: keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah. Keluarga terutama suami, harus mendukung ibu hamil secara emosional dan praktis. Masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang peduli pada kesehatan ibu. Tenaga kesehatan perlu fasilitas dan pelatihan yang memadai, dan pemerintah wajib menghadirkan kebijakan serta layanan yang adil dan merata. Ada banyak langkah kecil yang bisa membawa perubahan nyata. Mengingatkan ibu hamil untuk rutin meminum tablet tambah darah, membiasakan gizi seimbang di keluarga, membantu transportasi ke fasilitas kesehatan, hingga membentuk forum desa untuk berbagi informasi kesehatan ibu dan anak. Jika dilakukan konsisten, langkah kecil ini akan menjadi kekuatan besar. Peran serta lintas sektor mempunyai bobot dominan mengingat pemerintah mempunyai infrastruktur dan sistem regulasi dan “power“ yang mencapai struktur sampai di tingkat desa.
Harapan untuk Aceh
Aceh adalah tanah yang kaya, tidak hanya dari sisi sumber daya alam, tetapi juga dari nilai budaya dan religiusitasnya. Aceh mempuyai histori yang membanggakan, tangguh tak pernah menyerah dalam mengusir penjajah serta mempunyai kekuatan militer yang tidak tertaklukkan oleh VOC. Dalam tradisi Aceh, perempuan ditempatkan pada posisi mulia. Bayangkan jika setiap ibu di Aceh mendapatkan perawatan layak, gizi cukup, dan dukungan penuh dari keluarga serta masyarakat. Itulah Aceh yang kita harapkan: Aceh yang sehat, kuat, dan berdaya.
Sebagai penutup bahwa kesehatan ibu adalah cermin peradaban. Tidak ada pembangunan yang benar-benar bermakna jika masih ada ibu yang kehilangan nyawa saat melahirkan. Mari kita jadikan kesehatan ibu sebagai prioritas bersama. Karena sejatinya, sehatnya seorang ibu adalah sehatnya keluarga. Sehatnya keluarga adalah sehatnya masyarakat. Dan sehatnya masyarakat adalah maju dan jayanya Aceh. “Sehatnya ibu, kuatnya keluarga. Kuatnya keluarga, majunya Aceh”
Penulis:
Dr. Maharani, S.ST, M.Keb, Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Aceh.
Dr. dr. Sutrisno, Sp.OG, Subsp.FER., Dosen S2 Kebidanan/Program Studi Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Brawijaya Malang.









