Sejumlah tenaga kesehatan (nakes) dari berbagai profesi di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh melakukan aksi unjuk rasa, Kamis (18/9/2025), menuntut keadilan terkait pemotongan jasa medis yang dilakukan manajemen pada Juli lalu.
Para pegawai mengaku awalnya lega ketika jasa medis yang sempat menunggak akhirnya dicairkan pihak manajemen Rumah Sakit. Namun, jumlah yang diterima ternyata tidak sesuai dengan formula pembagian resmi sesuai masa kerja tingkat pendidikan, dan kinerja pegawai.
Mereka mendesak pimpinan RSUDZA berlaku adil dan transparan dalam pembagian jasa medis dan menolak eksploitasi juga pemotongan sepihak yang dilakukan manajemen rumah sakit.
Isu yang beredar, pemotongan dilakukan atas instruksi Pelaksana Harian (Plh) Direktur RSUDZA guna menaikkan jasa medis tenaga kontrak yang menerima dibawah Rp 2 juta.
Namun anehnya, kebijakan itu hanya menyasar profesi selain dokter spesialis, sehingga memicu kekecewaan pegawai rumah sakit terbesar di Aceh tersebut.

Pada aksi demo yang berlangsung sejak pukul 09.00 pagi di lapangan upacara rumah sakit terbesar di Aceh itu, ada 16 tuntutan yang diajukan kepada pihak manajemen rumah sakit. Dan aksi ini dilakukan sehubungan dengan gagalnya audiensi para nakes dan pegawai rumah sakit dengan pihak manajemen untuk pembagian jasa medis.
Selain masalah transparansi masa pendemo juga meminta pihak manajemen melakukan audit terhadap tim pembagian remunerasi (imbalan tambahan) karena dianggap pembagian jasa medis selama ini tidak adil terhadap perawat, bidan dan nakes lainnya.
“ Kami yang bekerja 24 jam tapi hanya dokter yang diberikan insentif tinggi tanpa potongan. rumah sakit hanya mementingkan satu profesi yang selalu tinggi pendapatannya,” tulis para pendemo di karton-karton yang mereka usung.
Sinta, Kepala Poli Ortopedi RSUDZA dalam orasinya meminta pihak manajemen rumah sakit bersikap adil dan transparan dalam masalah keuangan karena mereka tidak mau hanya menjadi pahlawan tanpa jasa tanpa pelayanan. Selama ini para perawat, bidan, dan tenaga pendukung lainnya sudah bekerja 24 jam, namun jasa pelayanan yang diterima belum layak.

Para nakes mendesak pimpinan RSUDZA berlaku adil dan transparan dalam pembagian jasa medis. Mereka menolak eksploitasi dan pemotongan sepihak yang dianggap merugikan hak pegawai.
“Kami tidak ingin hanya menjadi pahlawan tanpa jasa tanpa pelayanan yang layak. Tolong perhatikan nasib kami, perawat, bidan, nakes lainnya dan administrasi, tolong bapak ibu yang terhormat, jangan bohongi kami lagi. Turunkan wakil direktur bila tidak mampu membuat perubahan,” Teriak Kepala Poli Ortopedi RSUDZA, Sinta, dalam orasinya.
Para nakes mendesak pimpinan RSUDZA berlaku adil dan transparan dalam pembagian jasa medis. Mereka menolak eksploitasi dan pemotongan sepihak yang dianggap merugikan hak pegawai.
“Kami tidak butuh janji, kami butuh aksi nyata. Sudah cukup buai kami dengan kata-kata manis, nyatanya pahit yang kami terima. RSUDZA bukan milik segelintir penguasa, tapi ada kami yang membuat sistem rumah sakit ini terus bergerak,” ucap salah satu peserta aksi. (Yan)









