Sumatera Environmental Initiative (SEI) melaksanakan kegiatan bakti sosial berupa pembersihan lingkungan sekolah dan pemukiman warga di kawasan pesisir Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 Januari 2026, sebagai respon atas dampak banjir dan longsor yang melanda wilayah Aceh, khususnya kabupaten Pidie Jaya, pada November 2025 lalu.
Adit, salah satu penanggungjawab dari kegiatan bakti sosial ini mengatakan, Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap pemulihan lingkungan dan kondisi sosial masyarakat pascabencana, terutama sarana pendidikan yang masih banyak tertimbun lumpur.
“ Bakti sosial ini kami fokuskan di MTsN 2 Pidie Jaya serta kawasan pemukiman warga sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Meureudu, tepatnya di Desa Meunasah Balek” ucap Adit.
Selain melakukan pembersihan lumpur, sampah, dan material sisa banjir, SEI juga memasang tandon air sebagai akses alternatif penampungan air bersih bagi masyarakat pesisir yang mengalami keterbatasan air akibat rusaknya sumber air pascabencana. Pemasangan ini dilakukan bersama warga setempat untuk memastikan pemanfaatan yang berkelanjutan.
Dalam rangka mendukung pemulihan sektor pendidikan, SEI turut menyalurkan donasi buku yang dititipkan oleh para pendonasi melalui rekening Sumatera Environmental Initiative. Sebanyak 210 paket buku tulis diserahkan kepada MTsN 2 Pidie Jaya dari total 320 paket buku yang terkumpul pada tahap pertama. Sementara itu, 110 buku tulis lainnya direncanakan akan didistribusikan kepada siswa terdampak bencana di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
Selain bantuan pendidikan, SEI juga menyalurkan donasi perlengkapan ibadah berupa mukena, sarung, dan sajadah kepada masyarakat sekitar.

“ Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga serta mendukung pemulihan aktivitas sosial dan spiritual masyarakat pascabencana jelas Ade M.Novan selaku penanggungjawab kegiatan ini.
Ade M. Novan juga menyampaikan bahwa aksi ini merupakan wujud keprihatinan SEI terhadap masyarakat kawasan pesisir Pidie Jaya yang terdampak serius akibat banjir dan longsor. Ia menjelaskan bahwa kerusakan di Desa Meunasah Balek terjadi di luar dugaan karena wilayah tersebut berada jauh dari kawasan hutan, namun terdampak aliran air sungai yang tersumbat tumpukan kayu dari daerah pegunungan.
SEI berharap kegiatan ini dapat membantu proses pemulihan dan mendorong kolaborasi lebih luas dalam penanganan dampak bencana di Aceh. SEI juga menyoroti lambatnya penanganan bencana dan pemulihan pascabanjir yang dirasakan langsung oleh masyarakat hingga sebulan lebih setelah kejadian. Keterbatasan akses air bersih, lingkungan sekolah yang belum sepenuhnya pulih, serta minimnya dukungan berkelanjutan menunjukkan bahwa respons darurat belum diikuti dengan upaya pemulihan yang memadai.
Melalui aksi ini, SEI menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada fase tanggap darurat semata, tetapi harus diiringi komitmen nyata dari seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pemulihan lingkungan, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat terdampak dapat berlangsung secara adil dan berkelanjutan.









