Matahari mulai menegaskan sinarnya, gemericik air sungai dan nyanyian burung menemani perjalanan kami peserta Filtrep Eksplorasi Cerdas Hasil Hutan Bukan Kayu dan Limbah Organik(ECOLOG) Katahati Instritut, menuju kebun Janeng (Ubi Hutan) dan Aren milik Muhammad Syam yang biasa di sapa Ama Tris. Jaraknya hampir satu kilo meter dari pemukiman.
Lalu-lalang sepeda motor milik warga melintasi area perkebunan yang berada di seberang sungai Kala Meriah (Sungai yang menghubungkan Aceh Timur dan Aceh Utara). Bermacam jenis tanaman obat dan sumber pangan terdapat di lahan berukuran satu haktar tersebut. Bahkan dibeberapa sudut kebun terdapat pohon aren (bak jok) dan gundukan tumbuhan Janeng (Ubi Hutan) yang sudah siap dipanen.
Janeng adalah ubi hutan [Dioscorea hispida Dents] merupakan jenis tanaman yang masuk kategori umbi-umbian. Tumbuhan merambat yang dikenal luas dengan nama gadung hutan ini banyak tumbuh di hutan Aceh, termasuk di Kawasan Ekosistem Leuser [KEL].

Ubi hutan, meski mengandung racun, jika diolah dengan benar akan menjadi makanan kaya karbohidrat. Pejuang-pejuang Aceh yang bertahan di hutan saat melawan penjajah Belanda, memanfaatkannya sebagai makanan pokok, pengganti nasi.
Bahkan hingga kini sebagian masyarakat Aceh terutama masyarakat Samar Kilang, Kabupaten Bener Meriah masih mengolahnya untuk bahan baku kue dan kudapan ringan. Sejak 2021 olahan janeng tersebut sudah di perkenalkan hingga ke Nasional oleh lembaga Katahati Institut dengan mengikut sertakan pameran.
Ama Tris salah satu tokoh gampong yang menjadi pemandu kami ke kebun janeng miliknya pada Rabu 16 Juli 2025, dalam perjalanan tersebut ia menjelaskan tentang bagaimana cara memanen dan mengolah janeng agar tidak beracun sehingga menjadi sumber pangan bagi masyarakat. Tak hanya itu lelaki paruh baya ini juga mengisahkan bagaimana bermanfaatnya janeng menjadi penopang hidup masyarakat Samar Kilang Kecamatan Syiah Utama Kabupaten Bener Meriah, Propinsi Aceh saat musim kemarau hingga mengakibatkan paceklik (masa sulit bahan pangan)
Janeng merupakan makanan utama pejuang Aceh saat bergerilya melawan tentara Belanda sebelum Indonesia merdeka. Umbi-umbian ini juga pernah dikonsumsi masyarakat Samar Kilang saat gagal panen, karena kemarau panjang pada 1970-an. Pada tahun itu, untuk keluar dari Samar Kilang ke Pondok Baru, Kabupaten Bener Meriah, butuh waktu lebih dari lima hari jalan kaki. Sementara, menuju Kabupaten Aceh Utara, butuh waktu beberapa hari dengan menyusuri sungai menggunakan rakit.
“Akses sangat sulit, ketika kemarau, masyarakat Samar Kilang saat itu hanya bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitar mereka sebagai makanan utama, salah satunya janeng.”cerita Muhammad Syam
Menurutnya, saat itu masyarakat Samar Kilang menjadikan janeng sebagai makanan utama selama empat bulan lebih dan baru bisa makan nasi kembali setelah panen padi. Jika musim kemarau, padi yang sudah disimpan habis semuanya, sehingga masyarakat harus mengolah janeng menjadi tepung dan bisa diolah menjadi makanan utama masyarakat Samar Kilang.
“Kampung kami dikelilingi hutan lebat, tapi kami pernah kelaparan karena kemarau tahun 1970-an. Satu kecamatan di sini harus makan ubi hutan yang jika tidak benar mengolahnya membuat kita keracunan,”Kenang Syam hingga meneteskan airmata
Tanaman Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) jenis ini bukan hanya sekedar bahan pangan saja tetapi memiliki nilai sejarahnya dan merupakan warisan masalalu yang harus di lestarikan.
“ Janeng bukan hanya sekedar makanan pengganti beras atau cemilan, bagi kami merupakan warisan turun temurun sehinggga perlu dimunculkan kembali denggan berbagai cara pengolahannya” harap tokoh mayarakat Samar Kilang itu.

Syam sangat berterimakasih serta menyambut baik upaya Katahati Institute untuk mendampingi ibu-ibu di desanya mengolah janeng menjadi produk makanan yang memiliki nilai ekonomi dan bisa membantu untuk menopang perekonomian masyarakat di desanya.
Tak hanya itu saja, masyarakat juga bisa merasakan manfaat dari pengolahan hasil pangan yang bersumber dari hutan dan kebun seperti janeng dan gula aren yang kini telah dikenal banyak orang bahkan hingga kebeberapa Propinsi di luar Aceh. Akses jalan menuju samar kilang kini sudah mulai bagus dan bisa ditempuh hanya 2 hingga 3 jam saja dari Pondok Baru.
Sebelum tahun 2020, Samar Kilang merupakan daerah terisolir. Jalan yang hancur menyebabkan waktu tempuh ke desa ini lebih dari 10 jam, padahal dari Simpang Tiga Redelong, Ibu Kota Bener Meriah, ke Samar Kilang jaraknya hanya 70 kilometer.
Namun untuk menjual hasil kebun dan pertanian, warga memilih ke Lhoksukon, Ibu Kota Kabupaten Aceh Utara, karena lebih mudah diangkut dibandingkan ke Pondok Baru Bener Meriah, mereka harus memikul sambil berjalan kaki karena tidak ada transportasi darat.
Jika menjual hasil panennya ke Lhoksukon mereka bisa menggunakan rakit dengan menyusuri Sungai Kala Meriah dan hanya butuh waktu tiga hari. saat itu rakit merupakan alat transportasi utama masyarakat Samar Kilang.
“Sekarang jalannya sudah bagus sudah bisa dilewati mobil, meskipun transportasi umumnya masih menggunakan truk barang”ucap Ama Tris
Syam alias Ama Tris juga mengajak kami para peserta Filtrep ECOLOG untuk memanen janeng sembari menjelaskan sisi mana dari bongkolan janeng yang mengandung racun dan tidak bisa dikonsumsi meskipun sudah direndam berhari-hari.

Setelah memanen, peserta juga diajak untuk melihat bagaimana cara mengolahnya mulai dari mengupas, memotong, mencuci bersih di sungai hingga merendamnya untuk menghilangkan kandungan racun pada ubi hutan tersebut. kemudian para peserta kembali ke rumah Produksi Janeng dan Gula Aren yang berada di desa dekat pemukiman warga untuk mencicipi olahan janeng dan gula aren.
Setiba di rumah produksi terdengar suara kukuran kelapa yang di mainkan oleh ibu-ibu kelompok janeng, rebusan janeng yang sudah mengalami proses perendaman berhari-hari tersebut di campur dengan kelapa dan taburan gula aren diatasnya hingga menjadi kudapan ringan yang sangat lezat dan mengenyangkan.
Mak Jamur, perempuan asal Samar Kilang yang giat mengolah ubi hutan untuk bahan kue. Disela-sela mengolah janeng ia bercerita bagaimana janeng menjadi olahan bahan makan yang lezat dan bisa diterima semua lidah masyarakat di Indonesia hingga Luar Negeri.









