Home Headline Gula Aren Samar Kilang, Warisan Tradisi Yang Terjaga
HeadlineKawasan Ekosistem Leuser

Gula Aren Samar Kilang, Warisan Tradisi Yang Terjaga

Share
ibu-ibu kelompok aren Samar kilang Ssedang memproduksi gula Aren bubuk untuk di kemas dan pasarkan/ Foto: Ihan Nurdin
Share

Assalamualaikum, Puteri, Dhee Peuseubang, Buih Laju, Tuha seumangat, Hawa ngon kuen (dengan izin Tuhan, pohon ini akan memberi hasil yang baik dan terus hidup dengan baik). Sapa Muhammad Syam saat menepuk-nepuk tandan buah batang Aru (Aren).

Lantunan selawat dibacakan sambil mengayun-ayun tandan buah aren agar banyak air niranya saat dipanen. Ritual ini dilakuaakan setiap hari pagi atau petang selama satu minggu jelang panen nira. Dan itu diyakini dapat membuat air nira pada batang aren tersebut banyak dan manis.

Menurut Muhammad Syam yang biasa disapa Ama Tris, tokoh masyarakat Samar Kilang Kecamatan Syiah Utama Kabupaten Bener Meriah,  pohon enauatau Aren [Arenga pinnata] ini merupakan jelmaan seorang putri dari keluarga yang sangat miskin, ia berpesan kepada keluarganya saat ingin mengambil nira untuk kebutuhan hidup maka tepuk-tepuklah dibawah ketiaknya (tandan buah) dan ia akan menangis dan air mata putri tersebut diumpamakan sebagai air nira.

Muhammad Syam (Ama Tris) sedang mengayun tandan buah aren sembari berselawat yang di yakini masyarakat Samar Kilang bisa menghasilkan air nira yang banyak / Foto: Fitri/Digdata.id

“Setelah tujuh hari, tandan dipotong dan dipasang bambu di ujungnya, untuk menampung air nira. Panen ini dilakukan selama beberapa hari sampai airnya habis.”jelas Ama Tris saat kami berkunjung ke kebunnya untuk melihat langsung pohon Aren dan cara memanennya.

Ia juga mengatakan agar gula aren yang dihasilkan tidak asam, maka air nira harus diambil saat matahari terbit. Atau, sore hari sebelum mentari terbenam. Kemudian dimasak hingga mendidih sehingga saat di simpan untuk dimasak ke esokan harinya tidak berubah rasanya.

“Awalnya, saya memasak sendiri air nira. Kini, ada kelompok perempuan di Samar Kilang yang mengelolanya dalam bentuk gula aren bubuk, batangan dan cair,” jelas Ama Tris.

Air nira yang dihasilkan dari satu pohon aren berkisar anatar 10-20 perhari bergantung pada kualiitas tanamannya. Bahkan untuk kualitas tannaman yang baik malah bisa menghasilkan 30 liter nira perharinya. Sedangkan untuk di olah menjadi 1 kilo gula aren biasanya berkisar 1-7 liter air nira murni.

Ama Tris juga menjelaskan pohon aren yang bisa menghasilkan iar nira biasanya sudah berusia minimal 15 tahun. Saat di usia segitu akan keluar bunga dan air akan muncul lewat tandan bunga di ketiak daun atau sering disebut manggar.

Sebelum memanen air nira maka perlu dilakukan proses memukul-mukul dan mengayun-ayun manggar tersebut supaya saluran kapiler pecah dan air nirra tersebut mudah keluar tumpah ke tempat alat penampung saat di panen, tambahnya lagi.

Tumbuhan jenil Palma ini sering disebut sebagai tanaman serba guna. Batang, daun, ijuk, hingga buahnya, semua dapat dimanfaatkan. Namun sayangnya sebagian orang menganggap sebagai tumbuhan pengganggu sehingga banyak ditebang.

Lain halnya dengan masyarakat di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara, yang masih setia menyadap air nira untuk dijadikan gula merah.

Olahan nira dari pohon Aren samar kilang kini sudah banyak di kenal orang mulai dari dalam negeri hingga keluar negeri, bahkan pada 2022 Duta Besar Kanada meninjau langsung proses pengolahan gula Aren dari kampung yang terletak di Kawasan Ekosistem Lauser (KEL).

Produk hasil olahan ibu-ibu dari pohon aren di Hutan Samar Kilang Bener Meriah/ Foto; Junaidi Hanafiah.

Ketua Kelompok Pengolah Gula Aren Samar Kilang, Saedah mengatakan sudah 5 tahun ini mereka mengolah gula aren untuk dijual dan itu didampingi oleh Katahati Institute, bahkan produk-produk kami sering di perkenalkan keluar Aceh, seperti ikut kegiatan di Bali.

Sebelum ada pendampingan produk gula aren kami buat dengan cetakan bulat, dan baru sekarang-sekarang ini dibuat dalam bentuk bubuk dan cair dengan pengemasan yang bagus, sehingga mudah untuk dipasarkan keluar Samar Kilang.

“Sebelumnya, gula aren hanya kami jual dalam bentuk bulat atau batangan, hanya dibungkus daun pisang, dan usaha ini sempat gagal karena gula aren bubuk tidak berhasil kami produksi.”ucap Saedah

Namun mereka tak berputus asa, terus mencoba hingga menemukan caranya. Gula bubuk yang dihasilkan malah lebih bagus dari segi warna dan rasa. Gula Aren mereka sudah dijual ke Banda Aceh, Bali juga ada yang ke Kanada.

Kelompok koperasi ini berharap ada dukungan lebih kuat dari pemerintah khususnya Bener Meriah agak kelompok ini bisa berkembang sehingga tidak hanya bertahan saja.

Saedah juga mengaku untuk bahan bakunya sendiri sangat mudah di dapatkan tanpa harus membeli, karena batang aren ini banyak tumbuh di hutan, bahkan sebagian masyarakat sudah menanam di kebun-kebunnya sebagai selingan tanaman utama.

“Enau (Aren) yang dirawat dengan baik tidak hanya air yang menjadi rupiah tapi batang, buah dan daun juga menghasilkan rupiah”ucap Saidah sambil tertawa.

Rihal Fajri, Direktur Yayasan Katahati mengatakan, program pendampingan masyarakat Samar Kilang sudah berjalan lima tahun terhitung sejak 2021. Pendampingan diberikan khusus bagi ibu-ibu untuk mengolah HHBK di desa tersebut. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dengan tidak melakukan perambahan hutan.

Ada tanaman Ubi Hutan (Janeng) dan Gula Aren menjadi komoditi olahan mereka karena bahan bakunya mudah di temui di hutan dan kebun-kebun milik masyarakat Samar Kilang.

“Kami sedang membantu masyarakat Samar Kilang agar bisa memanfaatkan tanaman ini guna meningkatkan perekonomian mereka. Salah satunya, untuk mengalihkan mata pencaharian masyarakat Samar Kilang yang sangat tergantung pada kayu di hutan Leuser,”jelasnya.

Rihal juga mengatakan saat ini produk olahan ibu-ibu di samar kilang ini sudah mulai dikenal orang, baik di Aceh, luar Aceh bahkan beberapa tamu luar negeri. Produk hasil olahan tangan ibu-ibu terampil ini juga pernah dipamerkan di ajang Women Ecopreneur Fest di Ubud Bali 2023.

Hasil olahan Janeng dan Gula aren ibu-ibu samar kilang di pasarkan di Bali 2023/ Foto: Dok. Katahati Institute.

Kelompok perempuan di Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, berhasil mengolah hasil hutan bukan kayu (HHBK) jadi bernilai jual tinggi. Dulu tanaman-tanaman tersebut dibiarkan begitu saja tanpa tau mau diolah menjadi apa sehingga tumbuh menjadi semak belukar, padahal tanaman-tanaman itu selain dapat dikonsumsi dan bernilai ekonomi, juga memiliki nilai histori yang menarik, kata Direktur Katahati Institute, Raihal Fajri

Dia menjelaskan, setelah hampir lima tahun mendampingi perempuan-perempuan Samar Kilang lewat program Katahati Institute dibantu Kedutaan Belanda, mereka kini telah berhasil mengembangkan produk janeng dan aren yang siap dipasarkan.

“Harapannya, selain aren yang berbentuk serbuk dan manisan, janeng diolah menjadi tepung dan keripik, juga nanti akan ada produk-produk hasil hutan lain yang dapat dikembangkan dan dijual,” ujarnya.

Soal pemasaran hasil produk kelompok perempuan Samar Kilang itu, tutur Raihal, tidak hanya dipasarkan di Kabupaten Bener Meriah, tapi juga ke seluruh Indonesia dan ke luar negeri.

“Untuk penjualannya yang sudah kita lakukan selain dengan cara onfline, juga online. Mereka kita latih juga bagaimana berjualan online dengan mengguna kan market place yang ada,”sebutnya

Share
Related Articles
BeritaHeadline

Satu Pendaki Gunung Seulawah Agam Belum di Temukan, Tim SAR Masih Laukan Pencarian

Seorang pendaki asal Kabupaten Aceh Utara dilaporkan hilang di kawasan Gunung Seulawah,...

Jemaah Haji Aceh bertola dari Mekah ke Madinah pada 8 Juni 2026 Foto : Dok.PPIH Aceh
BeritaHeadline

Jemah Haji Aceh Mulai Tinggalkan Madinah Pada Delapan Juni 2026

Jemaah haji Aceh kloter 02 hingga kloter 14 BTJ yang tergabung dalam...

proses pemaaman jemaah haji yang meninggal di Mekkah Foto; Dok.PPIH
BeritaHeadline

Jemaah Haji Asal Aceh Meninggal dunia Bertambah Jadi Enam Orang

Jumlah jemaah haji Embarkasi Banda Aceh yang meninggal dunia di Tanah Suci...

BeritaHeadline

393 Jamaah Haji Kloter 1 Aceh Telah Tiba di Madinah

Sebanyak 393 jemaah haji asal Banda Aceh dan Aceh Besar yang tergabung...