Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh memastikan hilal awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi tidak terlihat pada pemantauan pada 29 Syakban di Observatorium Hilal Tgk Chiek Kuta Karang, Lhoknga, Aceh Besar.
Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, mengatakan berdasarkan perhitungan astronomi posisi hilal berada di bawah ufuk sehingga secara astronomis tidak mungkin dapat dirukyat.
“Sebagaimana telah kita informasikan beberapa hari yang lalu, bahwa kondisi hilal hari ini minus di bawah ufuk. Maka bisa dipastikan tidak nampak,”ucap Azhari di lokasi pemantauan.
Kondisi serupa terjadi di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, di mana posisi hilal masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam. Meski secara hisab sudah dipastikan tidak terlihat, pemantauan tetap dilaksanakan sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat tentang mekanisme penentuan awal bulan hijriah jelas Azhari lagi.
“Kita lakukan pemantauan hari ini dalam rangka edukasi bahwa di 29 Syakban kita tetap melakukan pemantauan. Walaupun dipastikan hilal ini tidak nampak, ini dilakukan sebagai pembelajaran bahwa ketika hilal tidak nampak maka Syakban itu digenapkan 30,” jelasnya.
Dengan demikian, lanjut Azhari, bulan Syakban 1447 H akan disempurnakan menjadi 30 hari dan awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis, dua hari setelah pemantauan.
Hal yang sama juga di jelaskan Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh, Alfirdaus Putra, menurutnya, ijtimak awal Ramadan 1447 Hijriah terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H, pukul 19.01.07 WIB. Ijtimak terjadi setelah matahari terbenam sehingga hilal dipastikan masih berada di bawah ufuk.
Secara rinci, matahari terbenam pada 29 Sya’ban pukul 18.52 WIB dengan azimuth 258 derajat. Sementara itu, bulan telah lebih dahulu terbenam sebelum waktu magrib, yakni pukul 18.48 WIB dengan azimuth 257 derajat dari Utara searah jarum jam.
“Ketika matahari terbenam pada posisi 258 derajat, posisi hilal di markaz rukyat Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang, Lhoknga, berada pada minus 0,97 derajat di bawah ufuk dengan elongasi 0,93 derajat,” ujar Alfirdaus, Selasa, 17 Februari 2026.
Untuk wilayah Indonesia lainnya, ia menyampaikan bahwa hilal juga masih berada di bawah ufuk, yakni antara minus 1 derajat di wilayah Sumatra hingga minus 2,4 derajat di wilayah Papua.
“Dengan posisi minus seperti ini, dapat dipastikan hilal tidak mungkin terlihat di Aceh maupun di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, bulan Sya’ban 1447 H harus diistikmalkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026,” jelas Alfirdaus.
Perhitungan ini sejalan dengan data hisab yang dirilis oleh sejumlah organisasi masyarakat Islam. Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebelumnya telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 melalui metode hisab hakiki wujudul hilal.
Nahdlatul Ulama (NU) melalui Lembaga Falakiyah juga akan melaksanakan rukyatul hilal di berbagai titik di Indonesia pada Selasa sore, 17 Februari 2026, untuk menentukan awal Ramadan secara langsung.
Meski demikian, Alfirdaus menegaskan bahwa keputusan resmi tetap menunggu pengumuman Menteri Agama yang dijadwalkan disiarkan secara langsung pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.00 WIB. Sidang isbat akan digelar Kementerian Agama dengan mengundang perwakilan ormas Islam, ahli falakiyah, serta instansi terkait untuk menetapkan awal Ramadan secara resmi.
Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah merilis data hisab yang menyatakan bahwa posisi hilal di seluruh Indonesia pada 17 Februari 2026 masih di bawah kriteria visibilitas MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat . Dengan data tersebut, hampir dapat dipastikan pemerintah akan mengumumkan bahwa 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
“Jadi puasa nanti di hari Kamis, lusa. Namun pengumuman pasti nanti kita dengar dari Menteri Agama,” ujarnya.
Ia menegaskan, umat Islam diimbau tetap menunggu dan mengikuti keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat yang diumumkan oleh Menteri Agama RI.
Alfirdaus berharap penetapan awal Ramadan tahun ini dapat diterima secara bersama sehingga tidak menimbulkan perbedaan di tengah masyarakat.









