Home Opini Wabah Campak di Indonesia, Aceh harus bagaimana?
Opini

Wabah Campak di Indonesia, Aceh harus bagaimana?

Share
Share

Sebenarnya sudah dapat diduga, selesai pandemi Covid 19, akan disusul oleh wabah lain dari penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan vaksin. Cavid 19 menyebabkan cakupan imunisasi rutin menjadi turun. Wabah campak di Indonesia adalah masalah kesehatan masyarakat utama yang disebabkan oleh kombinasi cakupan vaksinasi yang rendah di masa sebelumnya, keadaan sosial dan ekonomi, serta cara orang berpikir tentang imunisasi yang menyebabkan meningkatnya golongan antivaksin. Virus yang menyebabkan campak menyebar dengan sangat mudah, yang menjadikannya ancaman besar bagi orang yang belum divaksinasi secara lengkap. Insiden ini menunjukkan bahwa ada banyak masalah yang perlu dipecahkan melalui tindakan sistematis, teratur, terorganisir dan pilihan program yang tepat agar kekebalan masal bisa dibentuk di dalam masyarakat.


Kisah program vaksinasi Indonesia dimulai pada tahun 1977 dengan diperkenalkannya vaksin yang mengandung campak (MCV) sebagai bagian dari program imunisasi nasional. Dosis pertama vaksin (MCV1) diberikan sebagai bagian dari program ini dan kegiatan lapangan diintegrasikan dengan layanan di puskesmas dan posyandu. Dengan cara turun langsung ke lapangan, cakupan imunisasi campak menampakkan hasil yang tidak terlalu mengecewakan. Imunisasi berbasis sekolah dimulai pada tahun 2002, dan dosis kedua (MCV2) ditambahkan pada tahun 2014. Meskipun sudah ada upaya-upaya ini, jumlah kasus campak masih mengkhawatirkan. Data menunjukkan bahwa kesenjangan signifikan dalam cakupan imunisasi masih ada, terutama di kalangan anak di bawah lima tahun di daerah seperti Aceh Jaya, di mana status sosial ekonomi dan aksesibilitas layanan kesehatan diakui sebagai faktor penting yang memengaruhi tingkat vaksinasi.


Kondisi internasional, tertutama jumlah orang yang migrasi Dimana proporsinya makin besar, juga berperan dalam keberlanjutan epidemi di Indonesia. Seperti yang terlihat dalam tren global, perjalanan orang yang belum divaksinasi telah membantu penyebaran campak lintas batas. Pendatang asing dengan tujuan wisata ke berbagai daerah, seperti Indonesia, menunjukkan bahwa tidak mendapatkan vaksinasi dapat menyebabkan epidemi yang disebabkan oleh penyakit dari negara lain berkembang ke Indonesia. Hal ini menyoroti perlunya taktik pengawasan dan respons yang komprehensif, terutama di titik masuk, untuk mengurangi kasus pejalan internasional.

Genotipe virus yang ada dalam wabah memberikan informasi berharga mengenai epidemiologi campak di Indonesia. Genotipe Campak D8 terdeteksi selama wabah di kota tertentu, menunjukkan bahwa heterogenitas kekebalan yang diinduksi vaksin mungkin berperan dalam infeksi kelompok khusus. Ini menunjukkan betapa pentingnya memiliki kebijakan kesehatan masyarakat yang baik untuk meningkatkan tingkat vaksinasi dan memantau strain virus yang beredar agar respons dapat diubah sesuai kebutuhan.


Di Indonesia, pengaruh budaya sangat besar terhadap tingkat vaksinasi. Pemimpin agama memainkan peran besar dalam cara masyarakat berpikir tentang vaksin. Pendapat dan fatwa pemimpin agama, pemimpin suku, dan pemimpin informal lainnya yang dikumandangkan dalam kampanye kesehatan masyarakat telah terbukti membuat orang lebih cenderung menerima dan mempercayai program imunisasi. Upaya yang ditujukan kepada kelompok Muslim dan non-Muslim, lewat pemimpin keagamaan mereka, sangat penting dalam menghilangkan keraguan dan informasi yang salah mengenai imunisasi. Untuk meningkatkan upaya vaksinasi, penting untuk terus bekerja sama dengan para pemimpin masyarakat ini.


Fasilitas Kesehatan primer, utamanya puskesmas memegang peranan sangat penting. Sumber daya manusia, logistic terutamama vaksin, serta pendukung lainnya harus kekerahkan untuk mengejar ketertinggalan cakupan vaksin campak yang ada di lapangan. Mereka harus kerja keras dan tentu saja pemerintah harus memberikan dukungan dan apresiasi agar kekebalan masal / “herd immunity “ campak segera dapat terwujud. Wabah campak potensi menjadi kasus besar, terkait morbiditas dan mortalitas anak, dan pencegahan jauh lebih penting dari mengobati. Peluang yang ada harus dikejar, jangan sampai suatu saat tersisa penyesalan dan ratapan. Para petugas di puskesmas dan klinik harus sehat agar tidak menjadi media berpindahnya virus.

Di banyak negara lain, Asia dan Eropa, layanan primer terbukti merupakan garda terdepan yang baik ketika penyakit-penyakit potensi menjangkiti manusia secara masal menjadi potensi ancaman.  Layanan kesehatan berbasis desa di Indonesia, termasuk Puskesmas dan POSYANDU, telah mempermudah akses layanan kesehatan bagi penduduk yang kurang mampu dan sangat penting untuk upaya imunisasi. Jejaring fasilitas Kesehatan sampai Tingkat desa memungkinkan inisiatif jangkauan yang ditargetkan lebih luas dan relative mudah dicapai, namun, perbaikan tambahan yang relevan dengan kebutuhan lapangan diperlukan untuk menjamin cakupan yang luas dan mengurangi perbedaan tingkat imunisasi antara daerah perkotaan dan pedesaan.

Studi pemodelan yang memperhitungkan tingkat vaksinasi, kepadatan penduduk, dan faktor sosial ekonomi dapat membantu dalam alokasi sumber daya dan respons terhadap wabah yang potensi mengancam di tingkat masyarakat. Metode pemodelan prediktif dapat membantu kita memahami bagaimana wabah campak mungkin terjadi di masa depan, yang memungkinkan kita mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kekebalan Masyarakat secara tepat.

Selain itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat vaksinasi guna melawan misinformasi dan ketakutan terkait vaksin. Upaya media besar dapat mengedukasi masyarakat tentang risiko campak dan manfaat vaksinasi, yang dapat meningkatkan partisipasi dalam program imunisasi rutin yang selama ini telah dikerjakan. Pendidikan kesehatan harus menjadi komponen integral dari rencana kesehatan masyarakat yang lebih luas untuk menumbuhkan suasana di mana vaksinasi dianggap sebagai kewajiban komunal dan meyakini pula bahwa manfaatnya akan dirasakan oleh generasi yang akan datang.


Sebagai kesimpulan, pandemi campak di Indonesia adalah masalah rumit yang hanya dapat diatasi dengan meningkatkan prosedur imunisasi, melibatkan masyarakat dalam komunitas mereka, mengubah kebijakan kesehatan, dan memulai program pendidikan masyarakat yang komprehensif. Meskipun Aceh belum menjadi senter wabah, justru upaya masif untuk membentuk kekebalan komunal harus dikerjakan segera. Inisiatif cepat dari pimpinan daerah, diimplementasikan secara cepat dan tepat dilapangan, pada akhirnya akan membentuk kekebalan komunal masyarakat Aceh akan segera terbentuk, dan akan membuat Aceh terlewatkan sebagai daerah wabah campak.

Penulis:

Dr. Maharani, S.ST, M.Keb, Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Aceh.

Dr. dr. Sutrisno, Sp.OG, Subsp.FER., Dosen S2 Kebidanan/Program Studi Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Brawijaya Malang.

Share
Related Articles
Opini

Katastrofe Sumatera: Jejak Oligarki di Hulu, DAS, dan Zona Rawan Bencana

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera...

BeritaHeadlineOpini

September Hitam, Catatan Luka yang Tak Pernah Sembuh

Setiap September, bangsa Indonesia kembali dihadapkan pada ingatan kolektif tentang luka, darah,...

Opini

Kesehatan Ibu adalah Masa Depan Aceh

Setiap kali kita berbicara tentang masa depan Aceh, pikiran kita mungkin tertuju...

BeritaOpini

Dana CSR  PT PEMA ke Trisakti, Sebuah Penyimpangan Prinsip Dasar Tanggung Jawab Sosial

Pemberian CSR PT PEMA kepada Universitas Trisakti di Jakarta, yang marak beritanya...