Minggu malam (24/8/2025), suasana di Gampong Panton Rayeuk T, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, mendadak panik. Bau busuk yang sejak dini hari tercium semakin kuat menusuk hidung warga. Di antara mereka, seorang perempuan bernama Lenawati (25) tak kuasa menahan tubuhnya yang makin lemah.
Ia sempat muntah berulang kali, kepalanya pusing hebat, bahkan sempat mengeluarkan darah. Warga yang cemas segera memanggil ambulans. Pukul 22.27 WIB, sirene meraung di jalan gampong, membawa Lenawati menuju RSUD Zubir Mahmud Idi. Malam itu, ia dirujuk dalam kondisi sangat lemas dan kini masih menjalani perawatan intensif.
Bagi warga Panton Rayeuk T, bau busuk bukan hal baru. Sejak beberapa hari terakhir, mereka sudah resah. Bau yang diduga berasal dari aktivitas pembersihan sumur migas PT Medco E&P Malaka di area CV8 itu kerap menyesakkan dada dan membuat pusing. Perusahaan sebelumnya membantah aktivitas mereka menimbulkan bau berbahaya. Namun bagi masyarakat, kenyataan yang mereka hadapi berkata lain.
Baca Juga: Tak Tahan Bau, Warga Panton Rayeuk T Mengungsi ke Kantor Camat
Sejak Minggu siang, puluhan warga akhirnya memutuskan meninggalkan rumah. Mereka berbondong-bondong menuju kantor camat Banda Alam. Hingga pagi ini, mereka masih bertahan, beralaskan tikar seadanya, tanpa kepastian kapan bisa pulang dengan tenang.
“Ini ada seorang korban yang menghirup udara bau di Gampong Panton Rayeuk T akan dirujuk ke RSUD Zubir Mahmud,” kata seorang warga, Marzuki, Minggu malam (24/8/2025). Dia juga ikut mendampingi langsung saat korban dievakuasi ke Puskesmas dan saat hendak dirujuk ke RSUD Zubir Mahmud.
Tragedi yang menimpa Lenawati menjadi alarm keras bahwa bau busuk bukan sekadar gangguan kenyamanan. Ia telah menelan korban nyata. Warga kini hanya berharap pemerintah dan perusahaan tidak lagi menutup mata, sebelum bencana yang lebih besar benar-benar terjadi.
Yang membuat masyarakaat marah, perusahaan sebelumnya berulang kali menyanggah, menegaskan bahwa kegiatan operasional mereka tidak menimbulkan bau berbahaya. Bahkan bupati yang dipilih oleh rakyat pun ikut-ikutan mengamini, bahwa tidak ada kebauan apapun di sana, padahal mereka hanya mendengar keterangan sepihak. Kenyataan di lapangan berbeda, bau itu terus datang, warga pusing, mual, hingga kini satu orang harus dirawat di rumah sakit.
Ia meminta kepada PT Medco E&P Malaka setiap melakukan pekerjaan pembersihan sumur yang berada di Gampong Panton Rayeuk T untuk memperhatikan keselamatan masyarakat. Karena selama ini warga yang selalu menjadi korban dari pembersihan itu.
Fenomena bau busuk dari aktivitas perusahaan migas PT Medco E&P Malaka sebenarnya bukan kali pertama memicu keresahan publik di Aceh Timur. Sejak 2021 dan 2022, warga di Gampong Panton Rayeuk T kerap melaporkan bau menyengat, bahkan beberapa kali menyebabkan pusing dan mual massal, bahkan ada yang harus dirawat di rumsah sakit.
Puncaknya pernah terjadi pada tanggal 24 September 2023 lalu, kasus serupa sempat mencuat di media ketika 34 warga harus dirujuk ke RSUD Zubir Mahmud dan 500 warga lebih mengungsi ke kantor Camat, setelah terjadi keracunan dan tumbang di lokasi kejadiaan saat warga sedang menyaksikan pertandingan sepakbola. Saat itu, perusahaan tetap bersikeras bahwa operasi mereka aman dan sesuai standar.
Namun derita warga tidak berhenti. Kini, bau itu kembali menelan korban, bukan sekadar keresahan. Lenawati menjadi bukti nyata bahwa masalah ini tak bisa lagi dianggap enteng. Kasus ini memperlihatkan bahwa dampak dari bau menyengat bukan hanya mengganggu kenyamanan atau memaksa warga mengungsi, melainkan sudah mengancam kesehatan bahkan keselamatan jiwa.
Bagi masyarakat, insiden ini adalah puncak dari akumulasi keresahan yang selama bertahun-tahun mereka pendam. Bau yang terus muncul dari aktivitas industri migas sudah lama mereka laporkan, tetapi belum ada tindakan konkret yang mampu menghentikannya.
Kini, dengan adanya korban yang harus dirawat intensif di rumah sakit, warga menilai pemerintah dan perusahaan tidak bisa lagi menutup mata. Mereka menuntut agar kasus ini ditangani dengan segera dan transparan, karena keselamatan masyarakat jauh lebih penting daripada keuntungan industri semata.
“Sejak beberapa tahun lalu (2023) sudah saya sampaikan di hadapan humas Medco, tetapi tidak diindahkan, ini yang terjadi, sayang dengan warga, untuk pemerintah mohon segera turun tangan,” kata Marzuki yang berprofesi sebagai guru.
Ia berharap pemerintah, khususnya Bupati Aceh Timur tidak menutup mata. Mereka mendesak agar ada investigasi serius dan solusi jangka panjang, bukan sekadar meredam isu sesaat. Sebab, tragedi di Panton Rayeuk T bisa jadi awal dari masalah yang lebih besar bila bau busuk ini terus dibiarkan.[acl[









